• Editor

50 Tahun Suzuki Indonesia: Obat Kuat Hadapi Pandemi COVID-19 dan Resesi


"Strategi kami, perkuat pasar domestik, dan tingkatkan nilai ekspor di 50 tahun Suzuki Indonesia. Itu dulu...” (Donny Saputra, Direktur Pemasaran 4W PT SIS)

Bicara pandemi Covid-19 dan isu resesi yang menghantui Indonesia itu ibarat bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. Dan ternyata, tahun ini kedua momok tersebut mewarnai 50 tahun kehadiran Suzuki di Bumi Pertiwi.


Tentu menjadi hal kurang sedap, namun Suzuki Indonesia meyakini, kenyataan yang ada bukanlah alasan untuk pasrah pada keadaan. ‘Badai Pasti Berlalu’, begitu kata novel lama karya Marga T. (1974) yang kemudian diangkat ke dalam layar lebar oleh sutradara Teguh Karya dan menuai sukses.

Tetap semangat layani konsumen di tengah kondisi sulit selama pandemi.


Apalagi diperkuat informasi, meski kondisi pandemi dan bayang-bayang resesi, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan ritel pada Juni sebanyak 29.862 unit, tumbuh 74,8% dibanding Mei dengan 17.083 unit.


Bagaikan dokter profesional dengan segudang jam terbang, Suzuki tentu punya ilmunya. Didukung kelengkapan catatan medis dan perangkat kerja, dalam mendiagnosis penyakit, dan bagaimana cara mengobatinya secara tepat.


Memang tidak frontal, melainkan perlahan tapi pasti. Suzuki terus bertahan, dan mengobati luka akibat virus dan krisis yang menyerang. Untuk kemudian, bila sudah tiba waktunya, bisa kembali melangkah perlahan, sembuh, berjalan normal dan lantas mulai berlari kembali.

Showroom Suzuki Indonesia menerapkan protokol kesehatan selama PSBB Transisi sesuai Peraturan Gubernur.


Misalnya di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi menyangkut pandemi virus Corona, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) memiliki 'obat kuat', dengan mencoba menerapkan beberapa kebijakan produksi di pabrik Bekasi, Cakung dan Cikarang.


“Di antaranya kapasitas produksi kami kurangi 50%, kegiatan perkantoran juga dikurangi hingga 25%, sisanya Work From Home (WFH) menyesuaikan dengan Pergub DKI Jakarta,” jelas Donny Saputra, Direktur Pemasaran 4W PT SIS saat silaturahmi virtual bersama Forum Wartawan Otomotif, beberapa waktu lalu.

Protokol kesehatan selama pandemi diberlakukan di dalam showroom Suzuki.


Selain itu, aktivitas dan kapasitas showroom di Jakarta juga dikurangi hingga 25%. Sebagai gambaran, jumlah showroom Suzuki di Jakarta sebanyak 7% dari total showroom seluruh Indonesia. “Begitu pula unit yang dikirim ke konsumen, kami bersihkan dan beri disinfektan,” jelasnya.

Penerapan protokol kesehatan dilakukan Suzuki Indonesia dengan menyemprotkan disinfektan di showroom dan unit-unit yang dikirim ke konsumen.


Menghadapi momen pertarungan selama pandemi, Suzuki membaginya dalam tiga periode. Yakni periode Adaptasi, sebagai periode awal pandemi, lalu periode Transisi, setelah itu periode Recovery atau pemulihan.

Teknisi Suzuki Mobil sedang melayani servis kendaraan pelanggan sesuai protokol kesehatan.


“Kami akui, pada periode adaptasi terjadi kondisi penurunan. Bisa dikatakan periode ini merupakan kondisi negatif. Lalu periode kedua sebagai periode transisi, keadaan mulai membaik. Harapannya, periode pemulihan, kondisi semakin membaik lagi,” ucapnya.


Periode transisi betul-betul dioptimalkan Suzuki. Terkait produk, sebagai overview di tahun 2020, dibandingkan marketshare tahun lalu, wholesale naik sekitar 2,4% dan retail naik 2,6%. Selama pandemi volume marketshare Juli 2020 tertinggi sejak tahun 2015. “Tapi ini volume marketshare ya, bukan kuantiti,” tegas Donny.

Tiga varian Suzuki XL7 yang siap untuk terus menggempur pasar di segmennya.


Wholesale Suzuki niaga juga hembuskan angin segar, yang naik dari 51% menjadi 53%. Kontibusi wholesale Suzuki XL7 sebesar 16%. Jadi menurut Donny, tahun ini Suzuki Indonesia fokus pasarkan ragam produk yang dibuat di Indonesia. Dengan kata lain, produk lokal menjadi obat kuat kedua, secara kontribusi sebanyak 90%.


Secara retail, kontribusi New Carry Pick Up sebanyak 55% menjadi obat penyembuh luka selanjutnya bagi Suzuki. Sementara All New Ertiga sebesar 15% dan XL7 11%. Besarnya kontribusi kendaraan niaga, dikatakan Donny karena didorong faktor kebutuhan perusahaan untuk mencari pendapatan.

Suzuki New Carry Pick Up menjadi sahabat andalan para pengusaha dan petani di masa pandemi saat ini.


Khusus New Carry Pick Up, ada sekilas catatan penting yang ingin disampaikan. Dijelaskan Sukma Dewi, Assistant to Dept. Head Sales 4W PT SIS, produk niaga ini baru dirilis tahun lalu sebagai pengganti Suzuki APV Pick Up dan generasi Carry Pick Up sebelumnya.


“Kami juga siap dengan New Carry Blind Van dan Minibus, kreasi kerjasama dengan karoseri,” katanya. Mobil Carry penumpang yang lama, lanjut Sukma, sampai kini juga masih bermanfaat untuk transportasi publik. Satu wujud kontribusi Suzuki pada pergerakan ekonomi di bidang transportasi.


Memperkuat yang Sukma katakan, untuk New Carry Blind Van dan Minibus lebih menyasar ke fleet customer. Seperti Organda, perusahaan ekspedisi, angkutan kota dan lainnya. “Boleh pesan sesuai keinginan. Mau dikasih refrigerator boleh, dan lain-lain,” urainya.


Alhasil, PT SIS menerapkan harga beda untuk fleet customer. Dimana New Carry Minibus dihargai Rp260 jutaan, dan Blind Van Rp210 jutaan, model kargo spesial lisensi perusahaan. “Kok harga lebih tinggi? Karena itu tadi, ada permintaan, requirement yang tinggi. Tapi tetap bisa disesuaikan,” tandasnya.

Karimun Wagon R 50th Anniversary Edition Suzuki Indonesia dirilis hanya 50 unit di masa pandemi.


Apa masih ada lagi 'obat kuat' Suzuki melawan pandemi dan isu resesi? Ada pastinya. Seperti di Indonesia Modification Expo (IMX) 2020 yang baru berlangsung, PT SIS rilis varian baru istimewa, Karimun Wagon R 50th edisi ulang tahun yang hanya diproduksi 50 unit.

All New Ertiga pasar Meksiko sebagai obat kuat Suzuki dari sisi ekspor.


Belum lagi pasar ekspor Suzuki yang tentu tak boleh dikesampingkan. Lihat saja bagaimana Ertiga begitu diterima di Meksiko, dan juga negara lain. Begitu pun produk non Ertiga. “Model Ignis pun sangat baik diterima pasar,” singkatnya.

Selain tipe GL (atas), tersedia juga Ignis tipe GX melengkapi kekuatan Suzuki Indonesia.


“Kalau ditanya apa Suzuki tertarik main LCGC 7-seater? Kompetisi kian ketat, bukan cuma sesama pabrikan Jepang, tapi juga yang lain. Strategi kami perkuat pasar domestik, dan ekspor di 50 tahun Suzuki Indonesia, itu dulu,” ucapnya.


Menilai sedikit kondisi pasar mobil sambut 2021. Suzuki memiliki perhitungan dan analisa tersendiri. “Kami lihat bagaimana pandemi ini ditangani Pemerintah, dan bagaimana ini akan berakhir. Kami lihat beberapa perhitungan yang hati-hati, agresif dan masuk akal seperti apa. Artinya tahun 2021 kita masih harus hati-hati menyikapinya,” terang Donny.


Satu lagi obat kuat bagi Suzuki, yang datang dari eksternal. Yakni wacana pajak 0% dari pemerintah. “Suzuki akui, 45% jualan ada di kendaraan penumpang. Jadi kalau kondisi makin prihatin, wacana itu berlarut-larut, bisa bikin susah produsen. Tapi begini deh, yang penting kita usaha dulu, urusan hasil serahkan pada Yang Kuasa,” pungkasnya.


Pastinya, tahun 2020 ini Suzuki optimis kembali menjadi pemain tiga besar di pasar kendaraan. Nah, yang satu ini sepertinya obat kuat buat konsumen. Karena loyalis Suzuki pasti sangat senang mendengarnya.


Teks: Setiawan AS

Foto: Suzuki Indomobil Sales