• Editor

76 Rider Awali Aksinya Di Kota Sragen

Trial Game Dirt 2019 Putaran 1, Sragen.

Musim kompetisi 2019 ini, Jawa Timur mendapat porsi gelaran lebih banyak dibanding tahun sebelum-sebelumnya. Dari total 6 seri yang digelar, 4 di antaranya digelar di wilayah Jawa Timur. Sementara 2 sisanya digelar di wilayah Jawa Tengah.

“Ini adalah kebijaksanaan dari pihak sponsor, tapi paling tidak bisa kita sampaikan bahwa pembagian ini didasarkan pada gelaran Trial Game Asphalt yang lebih banyak digelar di Jawa Tengah karena ketersediaan sirkuit yang memadahi. Karena itu porsi gelaran Trial Game Dirt dibuat lebih banyak di Jawa Timur. Supaya merata,” buka Jim Sudaryanto, Pimpinan Lomba mewakili Genta Auto & Sport selaku penyelenggara.

Just info, kalau Trial Game Dirt digelar di atas trek tanah, sementara Trial Game Asphalt yang tahun ini diadakan 5 seri digelar di trek beraspal. Dari total 5 seri itu, empat di antaranya digelar di Jawa Tengah, sementara hanya satu seri digelar di Jawa Timur (Malang).

Dan mengawali rangkaian seri Trial Game Dirt 2019, kota Sragen mendapat kehormatan menggelar seri perdana. Kompetisi yang diikuti 76 Rider (sebutan bagi peserta Trial Game) ini dihelat di lapangan SBI Karangmalang (08 – 09/02).


Munculnya Muka-Muka Baru

Dijelaskan oleh Jim Sudaryanto bahwa untuk peserta lokal memang tidak terlalu banyak karena tak banyak komunitas trabasan yang ikut ambil bagian kali ini.


“Tapi yang membuat kami senang adalah munculnya muka-muka baru di awal musim kompetisi 2019 ini,” senyum Jim Sudaryanto sambil menyebut beberapa nama pembalap muda, seperti Vian HP, Prabowo, Inggil Bernarditus, dan beberapa nama lagi.

Vian HP (15 tahun) bakal mengikuti Trial Game full series.

“Saya baru tahun ini ikut Trial Game. Kalau sebelum-sebelumnya saya banyak main di grasstrack dan motocross,” buka Vian HP yang bernaung di bawah tim Bagong Racing Team (BRT).


Ditambahkan oleh pembalap usia 15 tahun ini, dia memilih Trial Game karena tantangannya beda.. lebih keras jika dibandingkan dengan motocross dan grasstrack.


“Karena itu saya putuskan ikut Trial Game full series tahun ini untuk mengasah skill,” kata Vian yang baru mengawali karier balapnya tahun 2016 lalu, dan sekarang belum mempunyai sponsor.


Hal senada diungkap pembalap lokal Sragen, Inggil Bernarditus. Pembalap yang bernaung di bawah bendera Team 86 Norifumi Design One Daffa Cars itu baru sekali ini ikut Trial Game.


Inggil pun sempat 'takut' melihat tantangan 'Nyali Aja Nggak Cukup' ini. Padahal remaja 17 tahun tersebut sudah mengawali karier balap di grasstrack sejak usia 7 tahun.

Inggil Bernarditus (17 tahun), local hero Sragen masih coba-coba jajal Trial Game.

“Sebelumnya saya takut dengan tantangan di Trial Game. Kelihatannya keras dan berbahaya. Tapi begitu coba-coba ikut, saya rasanya suka sekali," senyum Inggil.


"Sayang, kali ini treknya becek banget." tutur local hero, yang sudah malang melintang di kejurda maupun kejurnas grasstrack ini.


Apakah Inggil akan mengikuti jejak Vian HP? "Sementara ini saya belum tahu. Sebab masih coba-coba dulu karena kebetulan lokasi gelaran tidak jauh dari rumah. Sekalian latihan," kata Inggil.


Siksaan Sirkuit

Dan harus diakui, hujan yang mengguyur kota Sragen selama 2 hari gelaran sangat menyusahkan pembalap. Terutama di hari pertama (Jumat, 08/02) ketika hujan turun sangat deras.


Beruntung pada hari kedua (Sabtu, 09/02) setelah sempat turun hujan pada sore hari jam 17.00, cuaca berubah cerah. Warga setempat yang enggan keluar rumah pun berangsur memadati tribun untuk menghabiskan malam minggu sambil nonton gelaran.

Beberapa spectacle ditutup supaya tidak membahayakan pembalap.,

Toh bagi pembalap, siksaan belum berakhir. Kontur tanah sirkuit ini meskipun keras, tapi tanahnya sangat lengket dan sekaligus licin. Alhasil beberapa rintangan yang dinilai bisa membahayakan pun terpaksa ditutup sehingga tidak dilalui pembalap.

Trek sangat licin sekaligus lengket sangat menyusahkan pembalap.

“Sangat licin sekali…. Kita nggak bisa pacu motor kencang karena pasti roda bakal melintir. Treknya licin sekali. Terpaksa harus pelan-pelan... Tapi akibatnya motor terasa berat.. Sangat menguras stamina,” komentar pembalap gaek, Wahyu Gareng yang tampak ngos-ngosan menyelesaikan putaran karena mesin motornya sempat mati. Memang… Nyali aja nggak cukup!

Nyali aja nggak cukup!

Naskah & Foto: Indramawan