• Editor

Apa Kelebihan dan Kekurangan Suzuki S-Presso Dibandingkan Mobil LCGC? Simak Test Drive Kami

Suzuki S-Presso bersaing dengan LCGC 5-seater seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio dan Renault Kwid.

OTOPLUS-ONLINE I Suzuki S-Presso diluncurkan PT Suzuki Indomobil Sales di Gaikindo Indonesia International Auto Show BSD City pada 11 Agustus 2022. Posisinya bukan menggantikan, namun mengisi celah pasar yang ditinggalkan Suzuki Karimun Wagon R yang telah meramaikan pasar Tanah Air sejak 2013.


Di segmen ini Suzuki S-Presso akan bersaing dengan kendaraan-kendaraan LCGC 5-seater seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio dan sebuah non-LCGC Completely Built Up (CBU), Renault Kwid.

Suzuki S-Presso dipasarkan dengan harga OTR Surabaya mulai Rp 173.000.000 (manual)


Layakkah mobil yang dipasarkan dengan harga OTR Surabaya, Rp 173.000.000 (manual) dan Rp 182.000.000 (AGS) dan punya 5 pilihan warna yaitu Sizzle Orange, Solid Fire Red, Pearl Starry Blue, Granite Gray Metallic, Silky Silver Metallic dan White ini jadi pilihan? Berikut uraian kelebihan dan kekurangannya.


Kelebihan

Ruang Kaki Penumpang Belakang

Ruang kaki cukup lega untuk mobil sekecil ini


Surprisingly, untuk mobil dengan jarak sumbu roda hanya 2.380 mm, legroom di kabin belakang termasuk lega. Desain dudukan jok depan yang tinggi menciptakan ruang yang memungkinkan kaki penumpang belakang menjulur sampai ke bawah jok depan.

Volume bagasi cukuplah untuk sebuah kendaraan perkotaan


Sesuai seating capacity yang tertulis di spesifikasi teknis, dengan dimensi lebar hanya 1.520 mm, jok belakang memang hanya proper diisi dua orang. Untungnya, tatakan joknya cukup besar sehingga dapat menopang paha penumpang belakang dengan maksimal.


Parcel Shelf

Mayortias LCGC tidak dibekali parcel shelf seperti ini


Tidak seperti kebanyakan mobil 200 jutaan ke bawah, Suzuki telah melengkapi S-Presso dengan parcel shelf. Selain dapat digunakan untuk meletakkan barang di atasnya, parcel shelf juga berguna menutup ruang bagasi dari intipan maling.


Kontrol AC Lengkap

Sistem AC dilengkapi dengan heater yang bakal mubazir di Indonesia


Tidak seperti kebanyakan Low Cost Green Car (LCGC), Suzuki melengkapi S-Presso dengan kontrol AC lengkap. Seperti pengatur arah semburan, defroster kaca depan juga heater meski kemungkinannya akan mubazir di Indonesia apalagi di Surabaya.


Kepraktisan AGS

Transmisi AGS menawarkan kepraktisan transmisi otomatis tapi dengan keringanan biaya perawatan transmisi manual


Transmisi Auto Gear Shift (AGS) sejatinya adalah transmisi manual yang ditambahkan aktuator elektronik sehingga memungkinkan perpindahan gigi berlangsung seperti transmisi otomatis.


Aktuator elektronik tersebutlah yang menggantikan peran pedal kopling. Huruf yang terpampang di shift gate hanya R, N, D dan M (+)/(-). Transmisi AGS ini juga dipakai di Suzuki Karimun Wagon R.


Baca juga: Suzuki Baleno dan S-Presso Gairahkan Segmen Hatchback dan City Car, Apa Kelebihannya?


Walaupun sama-sama berbasis transmisi manual namun rasio gigi antara transmisi manual dan AGS ternyata berbeda.


Rasio gigi di transmisi manual yaitu 3,545 (1), 1,905 (2), 1,280 (3), 0,967 (4), 0,784 (5), 3,273 (R) dan 4,389 (Final Gear). Sementara AGS rasionya 3,545 (1), 1,864 (2), 1,240 (3), 0,906 (4), 0,718 (5), 3,273 (R) dan 4,938 (Final Gear).

Saat berakselerasi masih terasa jeda saat proses perpindahan gigi


Saat test drive, OTOPLUS-ONLINE tidak merasakan perbedaan dengan karakter transmisi AGS di Wagon R. Pada mode D perpindahan gigi cukup halus meski terasa jeda saat perpindahan gigi.


Terutama ketika pedal gas diinjak mendadak. Di mode M dengan melakukan perpindahan gigi secara manual, jeda perpindahan gigi sedikit tereduksi.


Baca juga: Tes Konsumsi BBM All New Suzuki Ertiga Hybrid: Beneran Irit?


Saat kami coba melibas tanjakan di mal, transmisi AGS cukup pintar dengan menyesuaikan posisi gigi sesuai kontur jalan menanjak yang dilalui meski pada posisi D.


Dengan selisih harga Rp 9 juta, menurut kami S-Presso bertransmisi AGS lebih worth to buy karena menawarkan kepraktisan lebih baik.


Ground Clearance

Terlihat cingkrang dengan ground clearance 180 mm dan ban bertapak kecil


Dengan jarak terendah ke tanah 180 mm, S-Presso cukup aman dibawa melintas jalan jelek atau genangan air hingga kedalaman 30 cm. Kalau melihat posisi intake manifold yang berada di ketinggian sekitar 90 cm, seharusnya mobil ini masih dapat diajak menerabas genangan banjir setinggi 50 cm dengan aman.


Konsumsi BBM

Mesin yang digunakan sama dengan kepunyaan Karimun Wagon R


S-Presso menggunakan mesin K10B dengan konfigurasi 3 silinder DOHC 12 katup berkapasitas bersih 998 cc. Mesin yang sama dengan kepunyaan Karimun Wagon R, jadi karakter dasarnya tak berbeda.


Baca juga: XL7 Expert Driving: Maksimalkan Fitur Bersama Driver Profesional


Kelemahan khas mesin khas 3 silinder seperti vibrasi ketika stasioner masih bisa dirasakan,namun kelebihan mesin bersilinder ganjil, torsi maksimum diraih pada putaran yang lebih rendah, yakni 3.500 rpm.


Sementara mobil dengan kapasitas sama yang punya konfigurasi 4 silinder torsi maksimum biasanya digapai di putaran 4.200-4.500 rpm.

Berpenggerak roda depan


Dengan capaian torsi pada putaran lebih rendah akan lebih enak dipakai pada kondisi stop and go. Kita tak perlu menginjak pedal gas terlalu dalam untuk membuat mobil imut ini bergerak maju, ujung-ujungnya konsumsi BBM bisa lebih hemat.


Kami belum melakukan tes uji BBM bersama S-Presso namun dari pengalaman kami mencoba Suzuki Karimun Wagon R yang bermesin dan transmisi sama, pada pemakaian dalam kota menggunakan bensin beroktan 90 bisa menorehkan angka konsumsi BBM sehemat 15,2 km/liter.


Kekurangan

Desain Eksterior

Desain khas India


Terus terang cukup sulit menemukan angle foto yang pas untuk membuat S-Presso terlihat menarik. Tampak depan sosok ala-ala SUV cukup kerenlah, tapi dari belakang, terlihat kurang proporsional. Kami sependapat dengan kebanyakan pendapat warganet kalau desain S-Presso kurang pas dengan selera Indonesia.

Cladding di bawah bumper depan kelewat tebal


Dari obrolan OTOPLUS ONLINE dengan Mochisuki El, General Manager Product Planning PT Suzuki Indomobil Sales 16 September 2022 lalu di sela-sela penyelenggaraan GIIAS Surabaya menjelaskan, Tahun 2012 ketika pasar mobil di Indonesia sudah menembus 1 juta unit, ekspektasi Suzuki dalam 10 tahun ke depan, pasar mobil di Indonesia akan mencapai 2 juta unit namun kenyataannya masih bertahan di 1 juta unit.

Begitu juga side moulding yang kelewat tebal


"Seandainya pasar Indonesia bisa tembus 2 juta unit, Suzuki akan berani berinvestasi besar dengan menghadirkan model-model yang sesuai dengan selera orang Indonesia. Kenapa mendatangkan model yang ada di India? Karena di India, penjualan Suzuki saja hampir mencapai 2 juta unit sementara Indonesia pasar total baru mencapai 1 juta unit. Sehingga cost per unit untuk produk Suzuki yang diproduksi di India jauh lebih kompetitif dibandingkan jika harus diproduksi di Indonesia,” ungkap Mochisuki Ei.

Celah roda dengan fender terlalu lebar


Itulah mengapa konsumen penggemar Suzuki di Indonesia harus pasrah dengan model Suzuki yang dipasarkan di India seperti Suzuki S-Presso ini. Menurut kami gak masalah sih meski produk Suzuki didatangkan di India namun alangkah bijaksananya jika dilakukan sedikit penyesuaian agar lebih pas dengan selera Indonesia.


Masukan kami desain body cladding di bagian bawah bumper depan dan belakang diubah tidak seperti copy-paste dari bentuk bodi di atasnya, begitu juga soal warnanya. Warna hitam memang membuat kesannya makin SUV tapi terlihat kurang proporsional . Idealnya bentuk body cladding separo dari penampang yang sekarang.


Selain itu ukuran ban, coba amati tampak belakang. Seandainya lebar tapak roda dinaikkan jadi 185/65-15 dari ukuran standar yang hanya 165/70-14 pasti lebih terlihat proper.


Fitur Masih Basic

Desain dasbor atraktif, kurangnya material plastik keras yang mendominasi


Di interior, selain AC dengan heater dan defogger kaca belakang, fitur yang tersemat di S-Presso termasuk basic kalau gak mau dibilang seadanya.

Setir tampil polos tanpa multifunction button


Power window ada tapi hanya untuk kaca depan, untuk penumpang belakang masih harus mengengkol.

Head unit 6,8 inci produk dari JVC


Sistem audionya mengandalkan head unit touch screen 6,8 inci produk JVC. Suara yang dihasilkan diumpankan hanya ke sepasang spiker yang ada di pintu depan.

Cup holder dindingnya terlalu rendah sehingga gelas atau botol berpotensi akan mudah terguling


Input USB ke head unit disembunyikan di laci, sementara power outlet belum model USB namun AC outlet 12 Volt.

Kosongnya kolom di sisi kanan dasbor ini menunjukkan seberapa banyak fitur yang dipangkas


Untungnya desain dasbor terlihat atraktif dengan bulatan besar di bagian tengah dasbor yang dihuni digital instrumen cluster dengan layar warna amber.

Beberapa dealer berinisiatif membekali jendela belakang dengan fitur power window


Fitur di eksterior berupa pelek alloy dual tone 14 inci, side & wheel arch cladding, spoiler belakang, high mount stop lamp dan sensor parkir belakang.


Posisi Duduk

Jok model pocong dengan head rest menyatu


Dengan sudut dan jarak kemudi fix dan setelan jok yang hanya maju-mundur serta rebah ruang untuk mendapatkan posisi mengemudi ideal terbatas. Selain itu desain joknya juga kurang ergonomis untuk perjalanan lama. Untungnya ketinggian jok menyuguhkan visibilitas yang baik ketika mengemudikannya.


Pengendalian

Suspensi belakang model Torsion Beam yang sederhana dan ringkas


Dengan kombinasi tinggi bodi 1.565 mm, jarak pijak roda 1.315 mm dan ground clearance 180 mm membuat S-Presso saat menikung terasa limbung.

Karakternya cenderung limbung jika diajak ngebut sambil menikung. Untungnya turning circle alias radius putar kecil memudahkan ketika bermanuver di jalan yang sempit


Body roll dan body-nya lumayan berasa. Sebaiknya pahami dan sadari kalau mobil dengan harga terjangkau ini bukanlah sport car.


Teks dan foto: Nugroho Sakri Yunarto