top of page

Bambang Kapten Bangga Motoprix Surabaya 2026 Berjalan Sukses, Tapi Mental Pembalap Kelas BK8 Jadi Sorotan!

  • Gambar penulis: Editor
    Editor
  • 4 hari yang lalu
  • 4 menit membaca
Kelas BK8 gagal digelar di Motoprix 2026 Regional B Putaran 1 di Sirkuit Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya karena minim peserta.
Pertamax Turbo Aspira Premio Motoprix 2026 Regional B Putaran 1 di Sirkuit Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya (9-10/05) diikuti hampir 200 starter.
Pertamax Turbo Aspira Premio Motoprix 2026 Regional B Putaran 1 di Sirkuit Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya (9-10/05) diikuti hampir 200 starter.

OTOPLUS ONLINE I Pelaksanaan Pertamax Turbo Aspira Premio Motoprix 2026 Regional B Putaran 1 di Sirkuit Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya (9-10/05) mendapat apresiasi dari banyak pihak.


Ketua IMI Jawa Timur, Bambang Haribowo, mengaku puas karena event berlangsung lancar dengan persiapan maksimal hingga larut malam.


Menurut pria yang akrab disapa Bambang “Kapten” itu, panitia bahkan harus bekerja sampai tengah malam demi memastikan kondisi sirkuit tampil optimal, terutama karena event ini mendapat dukungan live TV nasional.


Opening ceremony Motoprix 2026 Regional B Putaran 1 di Sirkuit Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya.
Opening ceremony Motoprix 2026 Regional B Putaran 1 di Sirkuit Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya.

“Alhamdulillah pelaksanaan berjalan lancar, walaupun kemarin sampai tengah malam mempersiapkan sirkuit karena memang ada live TV, yang mana Ketua Umum IMI Pusat penginnya semua perfect,” ujarnya.


Bambang juga mengapresiasi dukungan ATPM seperti Honda dan Yamaha terhadap dunia balap nasional melalui keterlibatan mereka di Motoprix.


Bambang Kapten turut mengapresiasi IMI Pusat di bawah kepemimpinan Moreno Suprapto dalam menggairahkan kejuaraan balap melalui masuknya sponsor seperti Pertamina hingga ATPM sepeda motor.
Bambang Kapten turut mengapresiasi IMI Pusat di bawah kepemimpinan Moreno Suprapto dalam menggairahkan kejuaraan balap melalui masuknya sponsor seperti Pertamina hingga ATPM sepeda motor.

“Kontribusinya kepada dunia balap sangat bagus, karena memang dengan ikut sertanya ATPM artinya banyak pembalap yang bisa disponsori oleh mereka,” katanya.


Dimeriahkan MAXI Race hasil kerjasama dengan  Yamaha Racing Indonesia.
Dimeriahkan MAXI Race hasil kerjasama dengan  Yamaha Racing Indonesia.

Terkait jumlah starter, Bambang mengaku cukup puas dengan capaian hampir 200 starter pada seri pembuka ini. Menurutnya, angka tersebut tergolong baik mengingat jadwal Motoprix Surabaya berbarengan dengan ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) di Thailand.


Kelas Bebek 4 Tak Standar 150cc Beginner (MP4) tembus hingga 26 starter.
Kelas Bebek 4 Tak Standar 150cc Beginner (MP4) tembus hingga 26 starter.

“Karena masih kebarengan dengan Asia Road Race, jadi pembalap-pembalap expert banyak yang di sana semua. Kalau tidak ada Asia Road Race mungkin lebih ramai lagi expertnya,” ujarnya.


Namun demikian, dalam kesempatan tersebut, Bambang turut menyoroti kelas pembinaan BK8 yang sebelumnya diinisiasi untuk mempertemukan pembalap muda dengan rider senior. Harapannya, rider muda ini bisa mendapat pengalaman langsung menghadapi pembalap senior dan bisa menimba ilmu serta pengalaman.



Sayang, pada seri Surabaya kali ini, kelas tersebut gagal digelar karena minim peserta, dan ini menjadi tantangan tersendiri dalam pembinaan mental pembalap muda.


“Mungkin karena event balap kali ini levelnya kejurnas, banyak anak-anak yang tidak mau ikut, takut kalah. Artinya mentalnya bukan mental juara,” ujar Bambang sambil menginfokan, kelas BK8 ini tidak bisa dipertandingkan, karena hanya ada empat pembalap yang mendaftar.



Padahal menurut keterangan Agung Y. Siswanto dari Biro Balap Motor IMI Jatim pada sesi latihan bebas hari Sabtu, jumlah peserta kelas BK8 mencapai lebih dari 15 starter.


"Setelah latihan itu banyak pembalap pemula yang urung mendaftar karena motornya kalah kencang," jelas Agung.


Gagal digelarnya kelas pembinaan BK8 pada Motoprix Regional B Putaran 1 Surabaya ini memunculkan beragam komentar di paddock.


Tommy Salim (kiri) bersama Kiki Aranxa tidak sependapat minimnya peserta kelas BK8 bukan semata soal mental bertanding.
Tommy Salim (kiri) bersama Kiki Aranxa tidak sependapat minimnya peserta kelas BK8 bukan semata soal mental bertanding.

Salah satunya datang dari pembalap muda 25 tahun asal Surabaya yang sedang naik daun Kiki Aranxa. Ia menilai minimnya peserta bukan semata soal mental bertanding, melainkan lebih kepada pertimbangan teknis dan strategi tim.


“Ini bukan perkara berani atau nggak berani. Tapi lebih pada strategi dan keputusan tim, karena tim kan pasti fokus mengejar poin di kelas kejurnas, bukan kelas sporting yang nggak ada poinnya."



Tommy Salim, pembalap senior Surabaya yang sudah malang melintang di arena balap internasional juga angkat bicara.


Ia mengatakan, mengikuti kelas tambahan seperti BK8 cukup berat bagi tim karena membutuhkan motor dan persiapan ekstra.


“Kalau misalnya motornya satu itu cukup berat, karena kan pasti sayang di kelas kejurnasnya,” ujarnya.


Tommy membenarkan, sebagian besar tim lebih memprioritaskan kelas utama yang memiliki nilai poin untuk perebutan gelar musim ini dibanding kelas supporting atau exhibition.


Ia bahkan menegaskan para pembalap sejatinya tidak masalah jika harus melawan rider senior dalam satu lintasan.


“Pasti berani lah. Cuma kan kembali ke owner tim yang pasti juga mikir,” lanjut Tommy.


Menurutnya, ketika pembalap harus turun di dua kelas sekaligus, risiko terhadap motor dan fisik rider juga menjadi pertimbangan penting, terlebih kelas BK8 tidak memiliki kontribusi poin ke klasemen Kejurnas.


“Kalau kelasnya sporting juga, istilahnya nggak ada poinnya. Jadi ya lebih baik mikirin yang kelas poin,” jelasnya.


Meski demikian, baik Tommy maupun Kiki mengaku menyukai konsep BK8 yang mempertemukan pembalap pemula dengan rider open atau expert dalam satu balapan.


Konsep pembentukan kelas BK8 diharapkan bisa mempercepat perkembangan mental dan pengalaman pembalap muda sebelum benar-benar naik ke level lebih tinggi.
Konsep pembentukan kelas BK8 diharapkan bisa mempercepat perkembangan mental dan pengalaman pembalap muda sebelum benar-benar naik ke level lebih tinggi.

“Kalau secara konsep bagus ya, karena pemula dicampur dengan open, biar pemulanya juga bagus untuk dia naik kelas,” ujarnya.


Menurut Tommy, format seperti itu justru bisa mempercepat perkembangan mental dan pengalaman pembalap muda sebelum benar-benar naik ke level lebih tinggi.


Namun Tommy menilai kelas seperti BK8 akan lebih ideal jika digelar pada event open race dibanding seri Kejurnas yang fokus utamanya perebutan poin.


“Kalau open sih pasti rame. Ya harusnya kelas itu dibuka di event open seperti MCR,” pungkasnya.


Teks dan Foto: Indramawan




Komentar


logo media lreasi indonusa-OK2.png

© 2025 OTOPLUS-ONLINE

This website is owned and published by PT Media Kreasi Indonusa.

Reproduction of text, photographs or illustrations is not permitted in any form.

bottom of page