• Editor

Ducati Superleggera V4 2021: Superbike Jalanan Dengan Sasis Full Carbon


Menurut Ducati, Superleggera V4 2021 adalah motor paling bertenaga, tercepat dan tercanggih yang pernah ada. Superleggera (super ringan) V4 adalah sepeda motor produksi massal yang legal dipakai di jalanan pertama yang pernah ada, dengan sasis berbasis komposit karbon. Motor ini hanya diproduksi sebanyak 500 unit dengan harga US$ 100,000 atau sekitar Rp 1,4 miliar lebih (dengan kurs US$ 1 = Rp 14.539,43).

Superleggera V4 merupakan motor produksi pertama yang menggunakan sasis karbon komposit.


Superleggera V4 2021 merupakan generasi penerus Superleggera 1299 yang diproduksi tahun 2016. Saat itu Ducati juga mematok produksi terbatas, 500 unit dan dijual dengan harga US$ 65.000 atau sekitar Rp 945 juta.

Fairing bahkan dudukan jok dibuat dari serat karbon.


Sejak secara teknis menjadi bagian dari Audi dalam Grup Volkswagen, Ducati mendapat pengembangan Sesto Elemento alias elemen keenam yang selaras dengan Lamborghini (yang juga menjadi bagian dari Volkswagen Group). Baik Ducati maupun Lamborghini menjadi merek yang dipilih untuk memamerkan kehebatan teknologi komposit karbon dari grup VW.


Bertenaga besar, berbobot ringan

Superleggera (SL) baru dibekali mesin Desmosedici Stradale R yang sama yang tersedia di Panigale V4 S 2020, tetapi SL menjaring versi yang lebih ringan dari liquid-cooled, desmodromic 16-valve 998cc 90 ° V4. Mesin ini diklaim sanggup menghasilkan tenaga 224 dk/15.250 rpm dengan torsi 116 Nm di 11.750 rpm untuk tipe standar. Sementara varian dengan knalpot Akrapovic titanium bertenaga 234 dk/15.500 rpm dan torsi 119 Nm/11.750 rpm.

Rangka utama dan subframe dari karbon komposit yang lebih ringan 1,2 kg dari rangka alumunium.


Dapur pacu SL memiliki bobot 2,8 kg lebih ringan dari mesin standar Desmosedici Stradale R. Mesin ini menggunakan titanium pada katup masuk dan connecting rod. Pengurangan bobot juga dilakukan pada roda gila (flywheel), set baut yang juga menggunakan titanium. Noken as dan roda gigi starter memiliki profil yang lebih sempit dan dibor untuk mengurangi massa. Sistem oli berubah dari tiga pompa pemulihan menjadi dua. Ducati mengklaim perubahan itu tidak akan mengurangi efektivitas pelumasannya.

Knalpot titanium dari Akrapovic memangkas bobot hingga 7 kg.


Dengan bobot kering 159 kg (varian standar) Superleggera lebih ringan 16 kg dibandingkan Panigale V4 standar. Untuk varian dengan knalpot balap titanium, bobotnya lebih ringan lagi (152 kg).  Ducati tidak menyebut bobot basah (oli dan bahan bakar) tapi kemungkinan  berkisar 163-168 kg. Ini akan membuat bobotnya setara dengan motor sport entry-level seperti misalnya Yamaha R3 321cc (167 kg) namun dengan tenaga lebih besar hingga lima kali lipat (42 dk versus 234 dk) dengan harga 20 kali lipat dari harga R3 yang hanya US$ 5.000.


Karbon Plus Titanium

Superleggera menggunakan sasis yang seluruhnya karbon termasuk sayap-saya penunjang aerodinamika, fairing, rangka utama (dengan sisipan aluminium dan titanium seri 7075 pada titik-titik utama dan mesin sebagai bagian yang diberi tekanan), subframe, roda dan swingarm.


Menurut Ducati, semua elemen karbon struktural menjalani protokol pengujian integritas tiga proses melalui metode non-destruktif yang khas di ruang angkasa: Array Bertahap Ultrasonik untuk analisis dua dimensi; Tomografi Aksial Terkomputasi untuk pemeriksaan sinar-X tiga dimensi; dan Active Transient Thermography untuk memeriksa lapisan permukaan untuk kemungkinan delaminasi.

Lengan ayun tunggal berbahan serat karbon, lebih panjang 11 mm berperan meningkatkan stabilitas roda depan.


Rangka karbon ini lebih ringan 1,2 kg dibandingkan struktur aluminium pada Panigale, dan subframe-nya juga memangkas bobot hingga 1,2 kg. Lengan ayun meski lebih panjang 11 mm dari lengan ayun alumunium Panigale. Bobotnya justru lebih ringan 0,9 kg, Masih di sector suspensi, pada sok belakang, pegasnya juga menggunakan material titanium sehingga turut menyumbang pengurangan bobot hingga 0,6 kg.

Pelek yang disuplai BST berperan mengurangi bobot sebanyak 3,4 kg.


Material ringan juga dipilih untuk lingkar pelek 17 inci yang diproduksi oleh BST Afrika Selatan. Hasilnya sektor roda menyumbang penghematan bobot sebesar 3,4 kg sehingga mampu mengurangi gaya giroskopik secara signifikan.

Baut-baut mesin menggunakan titanium sehingga bobot keseluruhan mesin lebih ringan 3 kg dibandingkan Panigale V4.


Penghematan massa secara menyeluruh ini membuat para insinyur Ducati untuk menghitung ulang algoritma stabilitas dan traksi yang dikendalikan oleh 6-axis Bosch IMU.

Aerofoil

Ducati mengadopsi aerofoil (sayap aerodinamis) yang terinspirasi besutan MotoGP di musim balap 2016. Sepasang sayap di setiap sisi fairing akan menghasilkan downforce hingga 50 kg pada kecepatan 270 km/jam.

Sayap serat karbon biplane aerodynamic mampu menambah daya tekan roda depan hingga 50 kg pada kecepatan 270 km/jam.


Ducati mengklaim bentuk yang kompleks (mengingatkan pada struktur F1) secara fungsional mengatur aliran udara di sekitar bodi, mengurangi hambatan, dan meningkatkan gaya turun saat alat berat tegak atau miring.

Teks: Nugroho Sakri Yunarto

Foto: Ducati