• Editor

Ini Alasan Seli Jadi Bagian Gaya Hidup Komunitas Otomotif


"Selain desainnya yang menarik dan unik, sepeda lipat juga cukup praktis untuk dibawa ke mana saja." (Marco Dhony - anggota komunitas pecinta Honda Freed)

Selama pandemi COVID-19, kegiatan bersepeda banyak menjadi pilihan orang sebagai alternatif berolahraga untuk meningkatkan stamina dan imunitas tubuh. Juga untuk refreshing meredakan stres.

Marco Dhony menjadikan folding bike sebagai sarana kegiatan bersepeda di sela-sela kesibukannya.


Dan meski saat ini aktivitas ngantor mulai berangsur normal, banyak yang tetap menjadikan kegiatan bersepeda ini sebagai pengisi waktu santai. Bahkan telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Terutama folding bike atau sepeda lipat (seli).


Salah satu anggota komunitas otomotif yang menjadikan seli sebagai bagian dari gaya hidup adalah Marco Dhony. Anggota komunitas pecinta Honda Freed ini sehari-hari seolah tak terpisahkan dari mobil dan sepeda lipatnya.

Mudah untuk bongkar pasang & melipat.


"Selain desainnya yang menarik dan unik, sepeda lipat juga cukup praktis untuk dibawa ke mana saja", tutur Dhony. Sama halnya juga dengan Ari Suryo, pemilik gerai part mobil lawas ini juga setiap hari selalu membawa sepeda lipatnya.


"Kadang kalau ada waktu luang dan pengin bersepeda, saya langsung ambil sepeda dari mobil dan langsung gowes," imbuh Ari yang juga pilih seli karena praktis.

Ringkas dan praktis, 3 unit seli bisa masuk di bagasi.


Ya, seli memang terkenal dengan keunggulannya yang praktis dan nggak memakan tempat banyak untuk menyimpannya. Saat tidak digunakan, bisa langsung dirapikan secara mudah dengan cara melipatnya. Sehingga kemanapun pergi, seli bisa tetap dibawa dalam mobil. Bahkan untuk sedan compact yang mungil sekalipun, seli masih bisa masuk di ruang bagasi.

Seli sebagai salah satu solusi menghindari kemacetan lalu lintas oleh para komunitas pekerja bersepeda.


Tak hanya itu saja, kelebihan dari seli juga bisa dibawa meski saat menggunakan transportasi umum. Maklum saja, "Sepeda lipat ini awalnya mulai jadi tren di Indonesia sejak mulai maraknya komunitas pekerja bersepeda yang selain ingin berolah raga juga sebagai salah satu solusi menghindari macet", terang Dhony.


Para pengguna seli ini biasanya menempuh rute-rute pendek dengan seli, dan untuk rute jauh tatap menggunakan kendaraan umum seperti kereta, bis dengan membawa seli yang dilipat.

Diameter roda yang kecil jadi keterbatasan seli.


Itu karena sepeda lipat memiliki keterbatasan diameter rodanya yang kecil (6 inci, 20 inci, dan 22 inci), sehingga lebih lambat dari jenis sepeda lainnya yang memilik roda dengan diameter besar.

Selain untuk jalan-jalan santai, seli juga kadang untuk turing luar kota.

Tetapi jangan salah, bukan berarti seli tak bisa digunakan untuk jarak jauh loh. Banyak komunitas seli yang kerap menggunakan seli untuk turing luar kota.

Di balik keterbatasannya, seli banyak dijadikan pilihan untuk bersepeda santai maupun turing luar kota.


Tapi kalau untuk city ride alias jalan kota-kota dengan santai, sepeda lipat rasanya bakalan lebih asyik, apalagi beramai-ramai dengan kawan atau keluarga.


Teks: dJansen

Foto: Dhony Gowes Hepi