• Editor

Kenapa Surabaya Jadi Kota Pertama GIIAS 2019? “Kami Tidak Takut MRT!"

Press Conference GIIAS 2019 Surabaya

Di luar kebiasaan, tahun 2019 ini rangkaian gelaran GAIKINDO International Auto Show atau GIIAS bakal dimulai dari Surabaya (29 Maret – 07 April), dilanjutkan kemudian di Jakarta (18 – 28 Juli), Makassar (04 – 08 September), dan ditutup di Medan (23 – 27 Oktober).


Artinya, publik Jawa Timur, khususnya Surabaya bakal dimanjakan karena mendapat kesempatan melihat model dan teknologi terbaru dari kendaraan bermotor. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, daerah di luar Jakarta selalu menjadi yang kedua.


Tentu sangat menarik untuk menguak alasan, kenapa Surabaya jadi kota pertama penyelenggaraan. Apalagi moment ini muncul di tengah gegap gempita diresmikannya MRT (Moda Raya Terpadu) di Jakarta, yang baru diresmikan 24 Maret 2019 lalu, sebagai upaya Pemerintah yang semakin gencar mengurangi pemakaian kendaraan bermotor di Ibu Kota. Jangan-jangan, GAIKINDO sedang berupaya mengalihkan ‘arsenal-nya’ ke daerah, karena Jakarta dinilai sudah terlalu sesak.

Yohannes Nangoi selaku Ketua Umum GAIKINDO, "Kami tidak takut MRT!"

Menanggapi pertanyaan dari OTOPLUS-ONLINE ini pada Press Conference GIIAS 2019 Surabaya yang digelar di Goods Diner, Jl. Bali No.19, Gubeng, Surabaya (28/03) kemarin, Yohannes Nangoi selaku Ketua Umum GAIKINDO mengatakan, “Anggapan bahwa nanti kalau public transportation di Jakarta sudah bagus, maka mobil-mobil ini akan dilempar ke luar Jakarta, itu tidak benar!” buka Yohannes Nangoi.


Lebih lanjut Yohannes Nangoi memaparkan alasannya. Jepang adalah negara dengan transportasi umum yang sudah sangat luar biasa. Tapi, dengan jumlah penduduk yang hanya 125 juta jiwa, penjualan mobilnya mencapai 4,9 juta per tahun!


“Kita bandingkan dengan Indonesia yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih besar, yaitu 265 juta jiwa. Tapi penjualan mobilnya dalam 1 tahun hanya 1.150.000 unit!” sebut Yohannes Nangoi.


Dari sini, jika bicara soal otomotif di Indonesia, ruang gerak itu masih sangat luas.


“Tahun 2018 lalu penjualan mobil nasional mencapai 1.150.000 unit. Dengan jumlah penduduk Indonesia sebesar 265 juta jiwa, perbandingan jumlah mobil dengan banyaknya penduduk adalah 87 mobil per 1.000 penduduk,” buka Yohannes Nangoi.


Memang, angka penjualan 1.160.000 unit ini lebih tinggi dari angka penjualan mobil di Thailand yang tahun lalu mencapai 1.050.000 unit. “Tapi harus diingat, jumlah penduduk Thailand hanyalah 76 juta jiwa. Artinya perbandingan mobil dengan penduduk di Thailand sudah mencapai 240 mobil per 1.000 penduduk,” jelas Yohannes Nangoi bersemangat.


Lebih lanjut pria enerjik ini memberikan angka-angka perbandingan yang lain, terkait kepemilikan mobil terhadap jumlah penduduk. Di Malaysia, 400 mobil per 1.000 penduduk, Australia, 800 mobil per 1.000 penduduk, sementara di Amerika Serikat hampir menyentuh perbandingan 1:1. “Artinya setiap orang di Amerika memiliki mobil,” tegas Yohannes Nangoi.


Dari penjelasan ini, Yohannes Nangoi coba menjelaskan bahwa jika berbicara soal kepadatan kendaraan bermotor, sebenarnya Indonesia masih sangat jauh, sehingga potensi industri kendaraan bermotor masih terbuka lebar.


“Pendapat per kapita di Indonesia saat ini mencapai US$ 4.000 per kapita, sementara Thailand US$ 5.000. Tak lama lagi, angka pendapatan per kapita Indonesia akan mengungguli Thailand. Dengan jumlah penduduk yang besar, artinya potensi pertumbuhan penjualan mobil di Indonesia sangat besar,” yakin Yohannes Nangoi sambil menambahkan soal kemacetan lalu lintas di Jakarta dan daerah lain sebenarnya bukan karena populasi kendaraan bermotor yang sudah tak terkendali.


“Kalau pun sekarang ini lalu lintas masih semrawut, itu bukan karena populasi kendaraannya. Tapi infrastrukturnya yang masih kurang memadai,” kata Yohannes Nangoi.


Ditambahkannya lagi, jalan tol di Indonesia masih kurang dari 2.000 km. Jauh tertinggal dari Malaysia yang sudah 5.000 km. Apalagi dibandingkan Korea yang sudah hampir 50.000 km, atau bahkan di Cina yang sudah mencapai 600.000 km lebih.


“Indonesia masih sangat tertinggal untuk highway, dan itu yang sedang dikejar pemerintah saat ini,” tandas Yohannes Nangoi.

“Dan ini yang sedang kami antisipasi sekarang. Kalau ada yang bilang, jalan tol Jakarta - Surabaya masih kosong, tunggu saja. Sebentar lagi pasti akan penuh!” yakin Yohannes Nangoi.


Dari sini Yohannes Nangoi menggarisbawahi, “Kami tidak takut dengan MRT. Justru kami lebih senang karena dengan infrastruktur jalan tol dan transportasi umum yang semakin baik, mobil justru bisa digunakan secara maksimal.”


Lantas apa yang membuat GAIKINDO memutuskan untuk memperhatikan daerah di luar Jakarta? Jika menilik data bahwa, 8 tahun lalu, Jawa menguasai 80% penjualan otomotif, sementara luar Jawa 20%. Namun pada tahun 2018, penjualan otomotif di Jawa justru menyusut jadi 60%, namun di luar Jawa justru meningkat jadi 40%.


Jadi kiranya cukup beralasan jika GAIKINDO selaku Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia yang beranggotakan perusahaan agen pemegang merk (APM) produsen kendaraan bermotor, distributor kendaraan bermotor, serta pembuat komponen utama kendaraan bermotor (manufacturer) mulai melebarkan fokusnya ke daerah, di luar Jakarta.

Foto bersama (dari kiri ke kanan) Sri Vista Limbong (Project Director GIIAS 2019 The Series), Yohannes Nangoi Ketua Umum GAIKINDO, dan Romi (Presiden Direktur Seven Event)

Karena itulah, tahun 2019 ini gelaran GIIAS (GAIKINDO International Auto Show) mulai memakai konsep The Series. Tak lain semata karena wilayah Indonesia itu luas, bukan hanya Jakarta saja. Hal ini ditandai dengan dimulainya gelaran GIIAS 2019 The Series ini di kota Surabaya.


“Apalagi jika menilik kontribusi Jatim terhadap penjualan otomotif nasional, yakni sebesar 13,2%. Sementara kontribusi terbesar dipegang Jabar disusul DKI Jakarta,” tutup Yohannes Nangoi.


Naskah: Indramawan, Nugroho Sakri Y.

Foto: Indramawan


© 2021 OTOPLUS-ONLINE

This website is owned and published by PT Media Kreasi Indonusa.

Reproduction of text, photographs or illustrations is not permitted in any form.