• Editor

Kisah Perjalanan Mantan Petinggi Bank BUMN Turing 14 Hari Ke Titik Nol Kilometer


"Hampir semua daerah di Indonesia sudah pernah saya datangi dengan mengendarai motor, kecuali titik nol kilometer Indonesia..." (Stefanus Subardi)

Bagi Stefanus Subardi, menjadi pensiunan bukan akhir dari segalanya. Mantan petinggi salah satu Bank BUMN terkemuka di Tanah Air yang akrab disapa Bro Bardi ini justru semakin aktif berkegiatan. Termasuk salah satunya menjalani hobinya turing dengan sepeda motor.

Turing dengan sepeda motor sudah menjadi hobi Stefanus Subardi.


Bukan sekadar turing trip pendek, Bro Bardi  ternyata gemar melakukan turing jarak jauh dengan waktu tempuh yang panjang. "Hampir semua daerah di Indonesia sudah pernah saya datangi dengan mengendarai motor, kecuali Titik Nol Kilometer Indonesia. Saya sangat menantikan kesempatan untuk riding ke sana,” buka Bro Bardi. Bagaimana kisah perjalanannya menuju Titik Nol Kilometer tersebut?

27 Juli 2020

Tepat pukul 07:00 WIB, bertolak dari rumah kediamannya di Pati Jawa Tengah dengan dilepas oleh istri tercinta, menuju Jakarta. Perjalanan ditempuh kurang lebih 13 jam. Molor dari waktu tempuh yang biasanya 9 - 10 jam dikarenakan beristirahat agak lama di Cirebon.

Bro Bardi memulai perjalanannya dari Kota Pati menuju Titik Nol Kilometer Indonesia.


Rupanya berita tentang keberangkatan menuju Aceh ini sudah tersebar di rekan-rekannya komunitas 46 Bikers Community, sebuah komunitas motor yang beranggotakan karyawan Bank BNI. Sebagai senior di komunitas, tentunya saya banyak mengenal dan dekat dengan nyaris seluruh anggota yang tersebar hampir di seluruh kota di Indonesia.

Masuk batas Kota Cirebon pada sore harinya.


Di pintu masuk kota Cirebon, saya sudah dihadang oleh Bro Eko, rekan 46 BC Cirebon yang "memaksa"untuk singgah untuk beristirahat sambil ngopi. Ajakan yang sulit untuk ditolak.

"Diculik" Bro Eko 46 BC Cirebon dan ngopi bareng sambil rehat.


Setelah 3 Jam beristirahat perjalanan dilanjutkan, Bro Bardi sengaja membatasi untuk tak melakukan perjalanan malam seorang diri.

Bersua dengan Bro Andreas Markoniy (paling kanan) Brotherfood Community Sampit yang akan bergabung riding menuju Aceh.


Di Jakarta, ia tinggal 2 hari menunggu rekan satu komunitas Brotherfood, Andreas Markony yang berasal dari Sampit, Kalimantan Selatan. Rekannya tersebut akan bergabung untuk menemani riding menuju Aceh.

29 Juli 2020

Perjalanan menuju Aceh pun akhirnya dimulai lagi. Bro Bardi membesut Kawasaki Versys 250 2017 dan Bro Andreas Markony menggunakan Yamaha MT 250 2015. Sama-sama 250cc, hanya bedanya milik Bro Markony masih standar, sedangkan mesin Versys milik Bro Bardi sudah full upgrade.

Persiapan berangkat menuju Aceh dari Jakarta.


Baru saja memulai perjalanan etape kedua menuju Lampung, di Serang kami sudah menemui kendala. Kunci kontak Versys patah saat akan membuka tutup tangki BBM. Mungkin karena anak kunci sudah aus jadi mudah patah. Terpaksa harus mencari tukang kunci terlebih dahulu.

Lantaran kendala tersebut, ditambah padatnya ruas jalan Jakarta – Serang plus waktu untuk mencari tiket online penyeberangan Merak – Bakauhuni perjalanan ini tuntas dalam 9 jam.

Bro Bardi dan Bro Markony berada dalam kapal penyeberangan Merak - Bakauhuni.


Sebagai informasi, untuk tiket kapal penyebrangan sekarang hanya melayani pembelian online saja. Harga tiketnya Rp 54.500 (motor dengan kapasitas dibawah 500cc) dan Rp 19.500 (per orang) Jadi total biaya penyebrangan Rp 74.000.

Sore harinya tiba di tanah Sumatera di tapal batas kota Bandar Lampung.


Sesampai di Bandar Lampung jam 6 kami langsung beristirahat di penginapan. Sekadar saran, instal smartphone kalian dengan aplikasi pencari hotel. Selain praktis, harga juga relatif lebih murah.


30 Juli 2020

Etape ketiga, Bandar Lampung menuju Palembang dengan total jarak tempuh 612 km via Kota Bumi - Kemuning - Baturaja - Prabumulih, start dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore.

Istirahat di sebuah warung kopi tepian jalan Prabumulih dalam perjalanan Lampung - Palembang.


Perjalanan relatif lancar karena didukung kondisi jalan yang bagus sehingga memungkinkan untuk gas pol. Di etape ini kami tak sempat berburu kuliner lokal. Hanya menyempatkan berhenti sejenak di Prabumulih untuk berstirahat di warung kopi sambil berjumpa dengan kawan-kawan 46 BC Prabumulih.


Jam 6 sore kami tiba di Palembang dan langsung beristirahat. Lagi-lagi kami mencari hotel dengan memanfaatkan fasilitas aplikasi di smartphone kami.

31 Juli 2020

Berfoto di ikon Kota Palembang, Jembatan Ampera.


Etape ke-4 Palembang - Jambi adalah etape yang terpendek dari semua trip tiap etape perjalanan kami. Hanya 277 km saja.  Dan sama seperti kota-kota sebelumnya, kami ditunggu oleh beberapa rekan komunitas 46 BC.

Tiba di Jambi malam hari langsung kulineran minuman kesehatan Galoe Rempah yang terbuat dari ramuan rempah khas Jambi.


Ini yang jadi salah satu keuntungan kami, karena di setiap kota yang kami lewati, dimana ada Bank BNI berdiri, disitu pasti ada kawan 46 BC. Boleh dikata, di perjalanan ini kami juga sekaligus bersilaturahmi dengan kawan-kawan chapter lain.

1 Agustus 2020

Dilepas oleh kawan Brotherfood Community & 46 BC Jambi menuju etape selanjutnya Pekanbaru.


Etape Jambi – Pekanbaru yang berjarak 446 kilometer didukung kondisi jalan yang baik dan tidak terlalu ramai sehingga memungkinkan kami dapat menempuh rute ini dalam 8,5 jam.

Singgah dan berfoto di salah satu ikon kota Jambi, Tugu Keris.


Perjalanan sempat terhambat di daerah Belilas Riau karena radiator motor Bro Markony mengalami kebocoran. Untuk sementara kendala ini diatasi dengan cara ditambal karena ketiadaan stok untuk radiator MT25 di Belilas.

Yamaha MT 25 milik Bro Markony mengalami pecah radiator di daerah Belilas, Riau.


Selepas Maghrib sebelum memasuki Riau tepatnya di daerah Sikijang, BBM motor mulai menipis. Yang bikin was-was di sepanjang jalur ini SPBU yang kami jumpai tutup semua. Untungnya BBM yang tersedia di tangki cukup menyuplai kebutuhan mesin sampai ke Pekanbaru.

Di setiap etape selalu bersua komunitas lokal, kali ini jumpa BMC (Black Motor Community) Belilas Riau.


Jadi buat kalian yang ingin melakukan perjalanan melalui jalur ini terutama di malam hari, pastikan untuk mengisi tangki BBM sampai penuh dan bilamana perlu membawa tangki cadangan (jeriken).


2 Agustus 2020

Etape kami selanjutnya adalah Pekanbaru - Padang Sidempuan. Setelah mengganti radiator motor milik Bro Markony di bengkel resmi Yamaha, pada pukul 10 pagi kami lantas memulai perjalanan. Rute sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya 354 km. Tetapi bagi kami inilah rute terberat dari semua rute pada perjalanan kali ini.

Mie & Kopi Kimteng, menu khas yang jadi kuliner wajib di Pekanbaru.


Kami harus melalui banyak jalanan rusak. Belum lagi salah jalur karena terlalu patuh dengan panduan rute yang disodorkan aplikasi smartphone. Rute yang disodorkan memang rute terpendek. namun justru menjjadi rute terlama yang dilalui dikarenakan kami harus menaklukan jalanan terjal yang menanjak dengan kondisi aspal yang rusak parah karena telah terkelupas di jalur Gunung Tua.

Ikuti rute tercepat GPS, justru tersesat di rute ekstrem.


Ditambah kondisi gelap gulita karena tak ada penerangan jalan. Belajar dari pengalaman ini, jangan terlalu percaya dengan aplikasi map di smartphone. Akan lebih aman bertanya pada masyarakat setempat perihal kondisi jalur yang akan kami lalui.

Kain hitam misterius yang masuk ke dalam dan menghancurkan sil gear depan.


Cobaan rupanya masih belum berakhir. Di daerah Kasikan, oli mesin Versys tiba-tiba bocor. Namun karena kondisi jalan yang sepi, kondisi ini saya pertahankan sampai di Padang Sidempuan. Saat esok harinya diperiksa ternyata sil gir depan jebol karena terlilit kain hitam yang entah darimana asalnya bisa menyusup masuk ke dalam sil.

Dalam kondisi tersesat malah ketemu kuliner enak, Gulai Ikan Salining.


Setelah seharian melewati jalur yang menyiksa dan melelahkan, pukul 11:30 malam akhirnya kami memasuki di Provinsi Sumatera Utara dan berhasil tiba di Padang Sidempuan.

3 Agustus 2020

Becak motor berbasis Vespa khas Kota Padang Sidempuan.

Bolu Salak khas Padang Sidempuan, cocok untuk oleh-oleh.


Dari Padang Sidempuan, kami bertolak menuju Danau Toba tepat pada pukul 07:00 WIB. Menempuh jarak 263 km dengan rute Sipirok - Tarutung - Siborong-borong - Dolok Sanggul. Jalur ini jalanan relatif mulus, sehingga seolah menjadi pengobat lelah kami setelah sehari sebelumnya dihajar habis-habisan melintasi jalur yang berat.

Danau Toba dipandang dari ketinggian sambil menikmati kopi di daerah Merek.


Meskipun demikian, Bro Bardi tetap harus waspada dengan kondisi motornya karena sil gir depan masih bermasalah karena menggunakan sil seadanya asal oli tak terlalu deras mengucur, meski tetap saja rembes dan menetes.  Untuk mencegah mesin kehabisan oli, setiap 1 jam volume oli mesin dicek dan ditambahkan dengan oli cadangan.

Mengagumi indahnya alam ciptaan Tuhan, di tepian Danau Toba Pulau Samosir.

Ikan bumbu asam Cikala khas Tuk Tuk Samosir.


Menurut kami, etape ini adalah jalur yang paling indah dan recommended untuk bikers. Selain jalan yang mulus dan berkelok-kelok, mata juga dimanjakan dengan keindahan alam di sepanjang jalur yang kita lalui. Semakin menarik saat sore hari kami masuk ke daerah Toba yang indah. Kami menyeberang ke Pulau Samosir dan beristirahat selama 2 hari di sana sekaligus untuk recovery stamina tubuh. 

5 Agustus 2020

Setelah puas menikmati indahnya Danau Toba, meskipun rasanya masih malas untuk beranjak dari tempat yang luar biasa indah ini, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Medan.  

Ucok Durian destinasi wajib buat para penggemar duren saat berkunjung ke Medan.


Jarak 153 km kami tempuh selama kurang lebih 6 jam, cukup lama karena kami betul-betul ingin menikmati jalan halus mulus yang berkelok-kelok. Dan latar belakang pemandangan Danau Toba dari ketinggian, sungguh luar biasa indahnya alam ciptaan Tuhan. Di Brastagi kami juga disuguhi dengan pemandangan Gunung Sinabung yang gagah berdiri.


Sesampai di Medan, kami kembali harus tinggal dua hari untuk memperbaiki Versys dengan mengganti sil gear depan plus oli mesin. Sekalian bisa tuntas menikmati wisata kuliner Medan.

7 Agustus 2020

Setelah stamina pulih dan kondisi motor kembali prima kami semakin bersemangat mencapati tujuan akhir di Titik Nol Kilometer. Dari Medan, kami menempuh perjalanan sejauh 603 kilometer untuk sampai di Banda Aceh.              Melintas jalur timur, kami melalui jalur Langsa -Bireun. Jalur ini boleh dikata mirip dengan jalur Pantura di Jawa Tengah yang padat dengan lalu lintas truk. Setelah 12 jam melakukan perjalanan, sekitar tengah malam kami pun tiba di Banda Aceh.

Mengunjungi sisa-sisa keganasan tsunami.


Setelah istirahat semalam, hasrat hati kami ingin langsung menuju ke Pulau Sabang, di mana Titik Nol Kilometer Indonesia berada. Tetapi ada beberapa syarat yang harus kami penuhi sebelum menyeberang terkait dengan protokol kesehatan yang berlaku di kapal penyeberangan yaitu Rapid Test.

Pulau Sabang dilihat dari kejauhan.


Setelah melakukan tes pada tanggal 8 Agustus 2020, hasil menunjukkan bahwa kami berdua dinyatakan non reaktif alias negatif COVID-19, sehingga kami bisa menyeberang ke Pulau Sabang.

Wajib mengikuti protokol kesehatan negatif COVID-19.


Sayangnya karena hasil tes baru keluar sore, akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan di Aceh sambil menunggu kapal keesokan harinya.

Perjalanan menyeberang ke Pulau Sabang butuh waktu 2 jam.


Karena membawa motor, kami menyeberang menggunakan kapal ferry. Dengan kapal ferry, penyeberangan menuju Pulau Sabang ditempuh kurang lebih 2 jam. Bila menggunakan kapal cepat hanya butuh waktu sekitar 1 jam.

Tiket penyeberangan ke Pulau Sabang.


Tiket penyeberangannya sendiri relatif murah. Sekali penyeberangan kita cukup merogoh kocek sekitar Rp 33.800 dengan rincian tiket masuk orang ke pelabuhan Rp 2.000, tiket masuk motor ke pelabuhan Rp 2.000, retribusi Rp 1.000 dan tiket penyeberangan Rp 28.800 (untuk kelas ekonomi dewasa).   


Begitu kapal berlabuh di pelabuhan Sabang, kami langsung melanjutkan jalan menuju Titik Nol Kilometer. Masih 50 km lagi untuk sampai di tujuan. Sebagai informasi jarak dari pelabuhan menuju kota Sabang sekitar 20 km kemudian Sabang menuju Titik Nol kurang lebih 30 km dengan pemandangan pulau yang masih alami didominasi gunung dan pantai.

Mimpi menjadi kenyataan saat menyentuhkan kaki ke titik Nol Kilometer Indonesia.


Menyentuh titik Nol Kilometer Indonesia, terbayarkan sudah semua rasa lelah kami sepanjang perjalanan sembari tak henti berucap syukur kepada Yang Maha Kuasa karena atas izin dan perlindungan-Nya, kami akhirnya bisa mewujudkan impian kami untuk riding menuju Titik Nol Kilometer, ujung terbarat tanah air tercinta, Indonesia.

Di Sabang kami memutuskan untuk bermalam. Selain karena masih belum puas rasanya kami menikmati destinasi ini, malam harinya kami juga diundang oleh Bro Kidal, biker asli Pulau Sabang yang secara langsung menyerahkan Piagam Pengunjung Titik Nol Kilometer Indonesia.

Piagam Titik Nol Kilometer diserahkan langsung oleh Bro Kidal, perwakilan bikers Pulau Sabang.


Sebagai informasi, semua pengunjung Titik Nol Kilometer akan mendapat piagam sebagai tanda telah berkunjung ke destinasi bersejarah ini. Bedanya, di piagam untuk teman-teman bikers yang riding ada tanda khusus, yaitu sebuah cap bertuliskan "Bravo Bikers Indonesia".

10 Agustus 2020

Senja di ujung pelabuhan Aceh.


Pagi hari, kami kembali menyeberang menuju Banda Aceh. Masih ingin rasanya kami berlama-lama berpetualang di Pulau Andalas ini. Kami berencana melanjutkan perjalanan  menuju Pulau Nias namun waktu cuti Bro Markony sudah habis dan harus segera kembali dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai karyawan BNI Sampit, Kalimantan Selatan. Sementara saya sendiri juga harus segera kembali karena ada acara keluarga yang tak bisa ditinggalkan.

Nasi Uduk khas Aceh dan jajanan khas yang mak nyus di pagi hari wajib dinikmati saat berkunjung di kota Serambi Mekah ini.

Perjalanan menyeberang menuju Banda Aceh.


Akhirnya kami putuskan untuk kembali saat itu juga. Setelah sebelumnya kami mengirim motor via ekspedisi, kami segera menuju Bandara untuk terbang kembali pada keluarga kami tercinta.       

Teks: Djansen

Foto: Djansen, Istimewa