• Editor

Mastom, Builder Multitalenta Gelar Pameran Seni Jilid 2 Di Bali


Pameran seni Riding With The Wind Vol.2 bertema 'Motorcycle Diary By Mastom Custom ' berlangsung 21/2 - 22/3/2020 di Deus Ex Machina, Canggu - Bali.

Tommy Dwi Djatmiko atau lebih akrab disapa Mastom adalah sosok yang memiliki multi-talenta. Selain sibuk membangun dan memodifikasi motor-motor custom di bengkelnya ada di kawasan Kemang, Jakarta dan diberi nama Mastom Custom, pria ramah kelahiran Bandung ini juga mendalami seni bela diri, dan juga bermain musik. Nah ternyata ada satu lagi keterampilan yang dimiliki Mastom, yakni di bidang seni atau art work.

  • Tommy Dwi Djatmiko atau lebih akrab disapa Mastom adalah sosok yang memiliki multi-talenta.

Ya, beberapa waktu lalu Mastom sukses mengadakan pameran seni tunggal pertamanya di Bandung. Solo Exhibition yang diberi nama Riding With The Wind Vol.1 hasil kerjasama dengan Unionwell untuk merchandise ini diadakan pada Agustus - September 2019 lalu di Galeri Yuliansyah Akbar, Urbane Jl. Cigadung Selatan No.5 Bandung.


Pada saat itu, sebagian besar karya-karya Mastom sebagian besar sudah berpindah tangan ke para kolektor seni yang hadir, termasuk karya instalasi berwujud motor FR 80 atas nama Tino Sidin yang berhasil dilelang dan hasilnya disumbangkan ke Museum Taman Tino Sidin di Bantul, Jawa Tengah.

  • Para pecinta seni dari dalam dan luar negeri berkesempatan mengunjungi Riding With The Wind Vol. 2.

Dan kini, di tengah pandemi global virus Corona, pecinta seni di Pulau Bali berkesempatan mengunjungi Riding With The Wind Vol.2 yang diadakan di Deus Ex Machina, Canggu, Bali. Pameran bertemakan 'Motorcycle Diary By Mastom Custom ' ini sudah berlangsung sejak 21 Februari 2020 sampai dengan 22 Maret 2020, mulai dari pukul 09.00-22.00.


Pada pameran ini Mastom yang bekerjasama dengan Ulang Alik untuk merchandise dan kegiatan workshop, menampilkan beberapa karya miliknya berupa 8 lukisan, 9 karya seni cetak, dan juga 1 karya instalasi.

  • Mastom menampilkan beberapa karya miliknya berupa 8 lukisan, 9 karya seni cetak, dan juga 1 karya instalasi.

“Pameran Riding With The Wind Vol.2 ini merupakan eksebisi pameran yang diselenggarakan sebagai bentuk kecintaan saya terhadap dunia fauna Indonesia,” jelas Mastom. Ia menambahkan pada saat pembukaan pameran ini beberapa hasil karyanya ada yang sudah langsung laku terjual oleh pengunjung yang datang.

  • Karya instalasi berupa motor custom berbasis Kawasaki GTO 1981 yang diberi nama Motor Jalak Bali.

Di area pameran, Mastom juga menghadirkan sebuah karya instalasi yang diwujudkan dalam sebuah motor custom dengan basis Kawasaki GTO tahun 1981 yang diberi nama 'Motor Jalak Bali' atau dengan istilah L/R. Karya instalasi tersebut adalah perwujudan esensi dari bentuk dan warna dari burung Jalak Bali yang berwarna Biru Metalik dan Putih.

  • Tulisan 'Leucopsar' dan 'Rothschildi' pada bagian kiri dan kanan tangki jika digabungkan menjadi nama latin Jalak Bali.

Pada tangki bagian kiri motor tertera tulisan 'Leucopsar' dan bagian kanan tertera 'Rothschildi' yang jika digabungkan menjadi nama latin dari burung Jalak Bali yang ia kagumi sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Pada plat nomor balap bagian depan juga tertulis huruf 'L/R' yang bermakna ganda. 'Leucopsar Rothschildi' bisa juga bermakna 'Left Right' atau 'Yin Yang' yang bermakna keseimbangan dengan alam.

  • Suara knalpot seperti cuitan Jalak Bali dengan memanfaatkan saringan VW.

Tidak hanya itu, Mastom juga secara serius mempelajari suara yang dihasilkan oleh burung Jalak Bali dan mengulik suara knalpot dengan memanfaatkan saringan mobil VW, sehingga suara yang dihasilkan seperti cuitan Burung Jalak Bali.


Khusus untuk karya Instalasi ini akan dilelang secara online melalui akun Instagram pribadi miliknya @mastomcustom dan hasilnya akan disumbangkan ke Begawan Foundation yang menangani konservasi burung Jalak Bali. Lelang online ini nantinya akan ditutup pada tanggal 22 Maret 2020 dan sampai saat ini angka penawaran tertinggi sudah mencapai angka Rp 40.000.000.

  • Para pengunjung tampak mengapresiasi karya-karya Mastom yang dipamerkan di Deus Gallery.

Antusiasme pengunjung yang datang ke lokasi juga luar biasa, selain penikmat seni, pelaku seni dan penggemar motor custom secara antusias mengapresiasi karya-karya yang dihadirkan dan  menghiasi Deus Gallery.

  • Dylan Kaczmarek, Operational Manager Deus Ex Machina, Canggu menyambut positif olah kreasi Mastom.

“Eksebisi seni ini sangat menarik secara konsep sehingga kami dengan tangan terbuka menerima ide yang diajukan oleh Mastom. Selain menunjukkan karya seni yang berhubungan dengan dunia custom kami juga senang dengan ide untuk pelestarian fauna yang dilakukan oleh Mastom,” ujar Dylan Kaczmarek, Operational Manager Deus Ex Machina, Canggu.

  • Kurator seni, Rifky "Goro" Effendy memberikan ulasannya.

Beberapa kurator seni yang menyempatkan datang ke lokasi acara pameran juga memberikan tanggapan positif mengenai pameran ini.


"Karya karya yang ditampilkan di pameran ini memiliki karakter yang sangat kuat karena beda dengan karya lukis dari seniman lain. Gabungan dari warna yang colorful dan banyaknya teks membuat konsep diary atau catatan kehidupan bermotornya menjadi sesuatu yang baru, segar dan sangat bercerita," ujar salah satu kurator seni Rifky "Goro" Effendy.


Goro juga menambahkan untuk karya instalasi "Motor Jalak Bali" yang dihadirkan menurutnya adalah sebuah karya seni Patung atau Sculpture karena syarat akan konsep dan makna.

  • Mastom juga bersiap menggelar pameran di Jepang pada akhir tahun nanti.

Rencananya setelah menyelesaikan Riding With The Wind Vol 2, Mastom akan menyiapkan Riding With The Wind Vol.3 dan juga berencana untuk menggelar sebuah pameran di Jepang pada akhir tahun nanti.


Sebagai permulaan, Mastom akan menyiapkan pameran kecil bertemakan Road to Japan yang akan diselenggara-

kan pertengahan tahun ini di kota Bandung. Tujuannya adalah berkumpul, silaturahmi dan syukuran berdoa bersama karena akan membawa misi nama Indonesia.


"Selama saya hidup di dunia motor dan diberi kesehatan yang baik, saya percaya tak akan kehabisan ide dalam proses kreasi kekaryaan saya, karena segudang cerita bisa saya tuangkan dalam karya seni," tutup Mastom.


Teks: Indramawan

Foto: Deus Ex Machina Bali