• Editor

Mobkas Toyota Sienta V CVT (2016-2017) Under 200 Juta. Apa Plus-Minusnya?


Punya budget beli mobil 200 jutaan? MPV produk Toyota ini bisa menjadi pilihan. Di bursa mobil bekas online, Sienta ditawarkan di kisaran 150-220 jutaan, setara rata-rata harga baru LCGC & Low MPV.

“Kami punya beberapa stok Sienta tipe V 2016-2017, harganya antara Rp 202-213 juta,” sebut Henny Azis, kepala cabang Mobil88 Mayjen Sungkono, Surabaya.

Toyota menawarkan Sienta dalam 4 pilihan trim, E, G, V dan Q. Q sebagai varian tertinggi memiliki fitur yang tidak dimiliki ke-3 varian lain seperti 4,2 inci color TFT MID, Hill Start Assist (HSA), Vehicle Stability Control (VSC), headlamp & tail lamp LED juga body kit.

  • Headlamp model projector tapi belum LED

  • Lampu belakang belum LED seperti tipe Q

Nah buat yang gak suka body kit tapi ingin fitur cukup lengkap, varian V bisa jadi pilihan. Varian ini punya fitur mendekati Q (kecuali beberapa fitur yang disebut di atas tadi ya). Tapi minus body kit di eksteriornya.


  • Setir berlapis kulit dengan audio steering switch control

  • Head unit touchscreen punya banyak fitur konektivitas

  • Baris kedua punya ruang yang lega

“Ukurannya kompak, setir ringan, head unit bisa connect ke ponsel, matiknya halus, irit lagi. Ideal deh dipakai harian,” tutur Diah Asri Sawitri, pemilik Sienta V CVT 2017.


Sliding Door Bunyi Bletuk

  • Arm rest berlapis kain

Umumnya bunyi ini muncul akibat grease yang melumasi kawat penggerak kotor atau mengering. Gerakan pintu terhambat lantaran seret.

  • Power sliding door di kedua sisi

Solusinya lakukan pembersihan pada jalur rel dan kawat penggerak menggunakan carburetor/injector cleaner, keringkan lalu lumasi dengan grease yang khusus diperuntukkan untuk melumasi bagian tersebut. Biasanya setelah ritual itu, bunyi tersebut akan hilang.


Transmisi CVT Lemot

Beberapa pemilik Sienta bertransmisi CVT mengeluh kalau mobilnya lemot khususnya saat diajak menanjak di medan pegunungan.


Sebenarnya itu bukan hanya pada Sienta, karakter transmisi otomotis CVT memang seperti itu. Harus dipahami dulu karakternya.


Ada trik yang bisa dilakukan mengakali kekurangan itu yakni dengan memindahkan tuas transmisi ke mode manual.


Dengan begitu putaran mesin bisa dijaga selalu pada putaran optimal untuk mendapatkan torsi maksimal sehingga kuat menanjak.


Lalu lebih baik mengambil ancang-ancang jika menjumpai tanjakan panjang atau tikungan patah yang menanjak karena bila terlambat menekan pedal gas mobil jadi seperti tidak kuat menanjak.


  • Transmisi otomatis CVT dengan mode manual 7 speed


Ground Clearance Rendah

Sebenarnya ketinggian ground clearance Toyota Sienta yang dipasarkan di Indonesia sudah disesuaikan dengan kondisi jalan di Tanah Air. Ground clearance-nya 170 mm sementara versi Jepang hanya 145 mm.


Namun memang angka 170 mm belum bisa dibilang aman. Sebagai patokan aman bisa mengacu pada ground clearance rata-rata LMPV yang memang murni didesain untuk kondisi jalan Indonesia, angkanya berkisar 180 sampai 205 mm.


Dengan hanya 170 mm tidak heran jika keluhan mentok di Sienta ada, terutama pada varian Q yang dibekali body kit.

Bila harus memodifikasi sistem suspensi akan berisiko pada stabilitas dan pengendalian, maka solusi mudah adalah dengan mengganti ukuran ban.

Dari yang aslinya 195/50-16 misal menjadi 195/55-16 atau 205/55-16. Modifikasi ini setidaknya sedikit menaikkan ground clearance antara 10-15 mm.

  • Keempat roda sudah menggunakan rem model cakram


Bensin (Katanya) Boros

  • Mesin 1.497 cc bertenaga 107 ps yang identic dengan kepunyaan Toyota Rush/Avanza Veloz 1.5

Normalnya pada mesin berkapasitas 1,5 liter, konsumsi BBM di dalam kota bisa berkisar 11,5-13 km/liter. Namun ada pemilik Sienta mengeluhkan kalau konsumsi BBM mobilnya hanya berada di kisaran 7-8 km/liter untuk pemakaian dalam kota.


Mengenai hal ini, faktor pengemudi amat menentukan. Yang harus dipahami, pada kondisi stop & go, hindari menginjak pedal gas secara mendadak, lakukan dengan lembut agar putaran mesin naik perlahan. Bila dibejek atau ditekan mendadak, putaran mesin akan melonjak tinggi dan tertahan di putaran tinggi. Keadaan inilah yang akan membuat konsumsi BBM menjadi boros.


Faktor teknis seperti penggunaan spesifikasi bahan bakar diluar ketentuan (minimal beroktan 92), umur pakai dan kebersihan komponen seperti filter udara dan ruang bakar juga dapat mengakibatkan konsumsi bahan bakar menjadi boros.


Naskah & foto : Nugroho Sakri Yunarto


S U B S C R I B E

© 2019 - 2020 otoplus-online