• Editor

OTOPLUS-ONLINE Trip: Berpetualang 2.400 Kilometer Ke Jazirah Arab

Teks & Foto: Nugroho Sakri Yunarto

Awal tahun 2020, sebelum pandemi COVID-19 terjadi, OTOPLUS-ONLINE berkesempatan mengunjungi jazirah Arab. Selain untuk beribadah umroh di Mekah dan Madinah, kami juga mengunjungi Palestina, Israel dan Yordania.

  • Hawa dingin menyergap sesaat kami keluar dari gedung bandara.

Berkunjung ke jazirah Arab di penghujung tahun atau awal tahun yang sedang memasuki musim dingin langsung menghapus bayangan kami kalau Arab itu identik dengan panas. Tiba di Madinah pukul 19:00, usai menyelesaikan urusan imigrasi dan bagasi kami pun keluar dari gedung Prince Mohammed Bin Abdulaziz International Airport dan hawa dingin langsung menyergap sesaat kami melangkah keluar gedung. Suhu udara malam itu terpantau 13 derajat celcius, seperti suhu di Gunung Bromo saat malam hari.

  • Padang Arofah, meski terik tapi hawa udaranya terasa sejuk sekitar 25 derajat celcius.

Di Madinah pada siang hari suhu udara waktu itu tidak pernah lebih dari 23 derajat meski sinar mentari terik. Faktor kelembaban udara yang rendah ikut memengaruhi kondisi udara. Kelembaban udara di Madinah hanya berkisar 10-20% bandingkan dengan di Indonesia yang berada di kisaran 85-90%.

  • Suasana di pusat kota Madinah tak jauh dari Masjid Nabawi serasa seperti di New York dengan bertebarnya mobil-mobil produk Amerika.

  • Suhu udara di Madinah sekitar pukul 10:40 menunjukkan 20 derajat celcius.

Di Mekah yang secara geografis berada sekitar 450 kilometer lebih ke selatan, suhu udaranya terasa lebih hangat. Sekitar 17 derajat di malam hari dan 25 derajat di siang hari. Berkeliling dengan berjalan kaki berlama-lama di siang hari tidak akan membuat tubuh kita berkeringat. Yang wajib diwaspadai, dengan kelembaban udara yang rendah, kulit akan rentan kekeringan terutama di area bibir dan telapak kaki. Rutin oleskan pelembab utamanya ke dua bagian tubuh tersebut.

  • Suasana kota Mekah dengan suhu udara lebih hangat banyak ditumbuhi pepohonan dan bangunan-bangunan modern.

Suhu ekstrem kami rasakan saat mendarat di Amman, Yordania. Sesaat setelah keluar dari pesawat terpantau suhu udara luar hanya 2 derajat celcius padahal waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Ini wajib diantisipasi kalau kalian berkunjung ke jazirah awal di akhir atau awal tahun ketika memasuki musim dingin. Beberapa teman perjalanan OTOPLUS-ONLINE terpaksa harus membungkus tubuhnya menggunakan sarung untuk menghalau hawa dingin tersebut. Selain pakaian hangat, memakai kaos kaki tebal dan sepatu hukumnya wajib karena efektif menghalau udara dingin.

  • Suasana kota Amman, sering berselimut kabut dan dingin.

Di Palestina dan Israel, suhunya lebih ‘bersahabat’, berkisar 4-7 derajat celsius di malam hari. Di siang hari berkisar 9-11 derajat celsius. Alhasil sepanjang perjalanan kami baru dapat merasakan betul manfaat fitur heater yang di Indonesia jadi fitur mubazir. Dengan heater, suhu udara di dalam kabin bis dijaga berkisar 23-24 derajat sehingga nyaman.

  • Suhu udara di kompleks Masjid Al-Aqso saat sore hari berkisar 7 derajat celcius, sungguh sebuah berkah bisa menjejakkan kaki di sini.

Selama 16 hari berpetualang di jazirah Arab tak terasa kami berkelana sejauh 2.400 kilometer, OTOPLUS-ONLINE mengamati ada hal menarik, yakni pilihan kendaraan khususnya mobil di tiap kota yang kami kunjungi.

Madinah

  • Sentra otomotif seperti di Kedungdoro, Surabaya atau Pasar Senen, Jakarta juga ada di Madinah, didominasi merek Toyota & Hyundai.

Di sini banyak dijumpai mobil-mobil ber-cc besar buatan Amerika seperti GMC Yukon yang mesinnya berkapasitas 5.300 cc, Lincoln Navigator atau Ford Expedition yang sama-sama bermesin 3.500 cc twin turbo.

  • Kondisi lalu lintas di Madinah yang ramai layaknya kota besar.

Selain produk Amerika, ada juga produk Jepang tapi juga yang ber-cc besar seperti Toyota FJ Cruiser bermesin 4.000 cc atau Toyota Land Cruiser yang menggendong mesin berkapasitas 5.700 cc. Padahal rata-rata konsumsi BBM mobil-mobil itu berkisar 16-17 mpg atau 6-7 km/liter.

  • Kami nyaris tidak menjumpai sepeda motor. Hanya ada motor polisi, Honda CB250 lansiran 2008 dan skutik pizza delivery yang menggunakan brand lokal, Oryx XO150.

Mekah

  • Taksi di Mekah didominasi jenis sedan dengan warna putih.

Di jalanan kota Mekah, kita akan banyak menjumpai taksi berwarna putih. Kebanyakan menggunakan mobil Korea seperti Hyundai atau KIA. Tapi tidak seperti di Indonesia yang menggunakan small sedan seperti Hyundai Accent atau KIA Rio, di Mekah yang dipilih sekelas mid sedan seperti Hyundai Elantra atau KIA Cerato, ada juga Toyota Camry tapi tidak sebanyak sedan brand Korea.

  • Ada Toyota Kijang Innova tapi berbeda dengan di Indonesia, versi arab menggunakan mesin bensin 2.700 cc.

  • Toyota Fortuner di Arab juga menggunakan mesin berbeda, unit yang dipakai adalah mesin bensin berkapasitas 4.000 cc.

  • Nemu jiplakan Toyota Camry bermerek BYD G6.

Di sini, tarif taksi disepakati lewat tawar menawar, keberadaan argometer hanya ornamen penghias kabin. Rata-rata supir taksi di Mekah bisa berbahasa Indonesia sedikit. Tak heran karena rasanya selama 5 hari kami di sana, berasa seperti di Tanah Air, di mana-mana banyak saudara sebangsa yang juga beribadah.

Yerusalem, Palestina/Israel

  • Kami berkesempatan mengunjungi Hebron, kota yang kerap menjadi wilayah konflik Palestina-Israel.

  • Kontur jalan di wilayah Palestina – Israel naik turun serta berkelok.

  • Di dalam kota Yerusalem, jalannya sempit-sempit.

  • Di jalan lintas antar kota, kami menjumpai beberapa junkyard.

  • Daerah di Palestina terlihat tandus tapi anehnya subur. Kebun zaitun & kurma banyak menghias punggung bukit.

Untuk masuk ke wilayah Israel melalui jalan darat dari Yordania menggunakan bis, rombongan harus melewati pos perbatasan Allenby Bridge dengan pemeriksaan super ketat. Selain memeriksa seluruh barang bawaan, infonya petugas juga sudah memantau aktivitas media sosial para pemohon visa sebelum masuk wilayah Israel. Di area ini segala bentuk aktivitas perekaman baik menggunakan kamera atau ponsel dilarang.

  • Di wilayah Palestina, sepeda motor yang kami dapati skutik ber-cc kecil seperti Peugeot Tweet 125 atau Kymco Mooie XL125 tapi di wilayah Israel skutiknya mayoritas ber-cc besar seperti Piaggio MP3 400, Yamaha T-Max 500.

Setelah memasuki wilayah Israel, kota pertama yang akan kita lewati adalah Jeriho. Jangan heran begitu memasuki wilayah Israel akan dijumpai pos-pos pemeriksaan untuk kendaraan yang melintas pasalnya sejak konflik Palestina-Israel, ada beberapa wilayah Palestina yang berada di dalam wilayah Israel, begitu juga sebaliknya. Umumnya kendaraan berplat Israel bebas melintas sementara kendaraan berplat Palestina akan menjalani pemeriksaan.

  • Harga BBM di Israel sangat mahal berkisar 6,14-6,28 Shekel atau 25-26 ribu rupiah.

Sebagai penanda, plat nomor kendaraan asal Palestina diberi warna putih untuk mobil probadi dan hijau untuk taksi, sementara plat kendaraan Israel berwarna kuning.

  • Plat putih untuk Palestina dan plat kuning untuk Israel.

Merek mobil di Palestina/Israel banyak didominasi tipe hatchback dengan brand-brand Eropa dan Amerika seperti VW, Mercedes-Benz, Seat, BMW, Ford, Chevrolet, Citroen, Renault, Audi

Amman, Yordania

  • Deretan mobil hybrid banyak ditemukan: Hyundai Ionic, Toyota Prius, Hyundai Sonata, Nissan Leaf.

Kami tak menyangka kalau bakal menjumpai banyak sekali mobil hybrid di sini. Toyota Prius, Hyundai Ionic, Toyota Camry Hybrid, Hyundai Genesis Hybrid, Hyundai Sonata Hybrid sampai mobil-mobil pure electric seperti Nissan Leaf, BMW i3 dan Tesla model 3.

  • Bahkan taksi online (Uber) yang kami pakai adalah Toyota Prius Hybrid.

Jihad, driver Uber yang mengandalkan Toyota Prius menuturkan ia memilih mobil hybrid karena lebih hemat bahan bakar, harga bahan bakar di Amman cukup mahal, berkisar 0,7-0,8 Dinar atau Rp 15-16 ribu per liter. Jihad mengaku dapat berhemat banyak jika menggunakan mobil bermesin hybrid ketimbang mesin bensin. Jika dikurskan rata-rata dengan mobil hybrid ia menghabiskan sekitar 15 Dinar 300 ribu rupiah sementara kalau memakai mobil bermesin bensin akan habis lebih dari 24 Dinar atau 500 ribu rupiah.

  • Kemacetan jadi pemandangan biasa pada pagi dan sore hari di Amman.

  • Kami berkunjung ke resort di Dead Sea yang berada 418 meter di bawah permukaan air laut.

Bis Didominasi Produk Cina

  • Bis pariwisata umumnya model high deck.

Dari semua negara yang kami kunjungi, armada bis yang digunakan didominasi produk Cina. Merek-mereknya terdengar asing di telinga kita seperti Asiastar, King Long atau Sun Win.

  • Ruang bagasi yang super lega.

  • Layout dasbor termasuk modern.

Menariknya bis-bis tersebut cukup nyaman karena sudah dilengkapi dengan teknologi suspensi udara dan transmisi otomatis.

  • Bis brand Cina yang asing terdengar di telinga kita, Asiastar, King Long, Sunwin.