Superchallenge Superprix 2026 Seri 3 Malang Sukses Digelar dengan Layout Tricky dan Aspal Campuran Sirkuit Kanjuruhan
- Editor

- 41 menit yang lalu
- 4 menit membaca
Superchallenge Superprix 2026 Seri 3 Malang (26-27.6) sukses digelar dengan diikuti 215 starter dan disaksikan lebih dari 5000 penonton.

OTOPLUS-ONLINE I Superchallenge Superprix 2026 Seri 3 di Stadion Kanjuruhan, Malang (26-27 Juni) tak hanya menyajikan persaingan sengit antar pembalap di lintasan. Lebih dari itu, karakter sirkuit justru menjadi tantangan tersendiri bagi mekanik maupun rider. Kombinasi layout yang rapat dengan 11 tikungan serta lintasan yang memadukan aspal lama dan baru memaksa setiap tim mencari setelan motor yang tepat.


Sirkuit non permanen sepanjang sekitar 900 meter tersebut memiliki total 11 tikungan yang terdiri dari tujuh tikungan kiri dan empat tikungan kanan. Namun bukan hanya konfigurasi tikungannya yang menjadi perhatian, melainkan karakter permukaan lintasan yang berbeda di beberapa sektor.
Abed Nego dari Genta Auto & Sport selaku Wakil Ketua Penyelenggara Superchallenge Superprix 2026 mengungkapkan, desain layout sengaja dibuat untuk menghadirkan tantangan baru bagi seluruh peserta.


"Layout ini sudah kami maksimalkan dengan panjang sekitar 900 meter, dengan lebar 10 meter untuk area start sampat R1, sementara sisanya kombinasi 8 sampai 10 meter," tunjuk Abed.
"Ada tujuh tikungan kiri dan empat tikungan kanan. Yang membedakan, sebagian lintasan masih menggunakan aspal lama, sementara sebagian lainnya baru selesai diaspal. Kondisi itu membuat setting suspensi menjadi tantangan karena karakter permukaan lintasannya berbeda," ujarnya.
Karakter sirkuit non permanen juga memberikan tantangan tersendiri baik bagi mekanik maupun pembalap, termasuk rider Asia yang tampil pada putaran ketiga musim ini.
Ivan Harry dari Genta Auto & Sport selaku Ketua Penyelenggara menyebutkan, berbeda dengan sirkuit permanen yang dapat dipelajari lebih awal, lintasan non-permanen seperti yang ada di Stadion Kanjuruhan ini membuat waktu adaptasi menjadi jauh lebih mepet, sehingga pembalap maupun mekanik dituntut bekerja cepat sejak sesi latihan.
"Kami melihat beberapa pembalap Asia cukup kesulitan beradaptasi di Malang. Kalau di sirkuit permanen mereka biasanya bisa langsung kompetitif. Di lintasan non permanen banyak faktor yang harus disesuaikan dalam waktu singkat, terutama setting motor," jelasnya.

Tantangan tersebut turut diamini pembalap senior asal Surabaya, Tommy Salim. Rider yang memiliki pengalaman berlaga di berbagai kejuaraan nasional hingga level Asia itu menilai kualitas aspal baru sebenarnya sudah sangat baik.
"Aspal yang baru cukup bagus. Biasanya aspal baru suka mengelupas, tapi yang ini sama sekali tidak. Jadi kualitasnya sudah bagus," ujar Tommy.


Meski demikian, proses transisi dari aspal lama menuju aspal baru menjadi tantangan tersendiri saat motor dipacu dalam kecepatan tinggi.
"Ketika melewati bagian aspal baru motor otomatis terasa meloncat. Makanya setting shockbreaker tidak boleh terlalu keras," jelasnya.
Menurut Tommy, kondisi tersebut membuat mekanik harus mencari setelan suspensi yang lebih fleksibel agar motor tetap stabil saat melintasi sambungan dua karakter aspal sekaligus tetap nyaman digunakan pembalap saat bermanuver di rangkaian tikungan.
Selain karakter permukaan lintasan, lebar sirkuit juga menjadi perhatian. Sekilas layout Stadion Kanjuruhan terlihat cukup lega, namun kenyataannya ruang untuk bermanuver tidak sebesar yang dibayangkan.



"Kelihatannya lebar, tapi setelah datang ternyata sirkuitnya cukup sempit. Terutama setelah masuk tikungan dua (R2) sampai empat (R4). Di situ cukup sulit untuk melakukan overtake, jadi pembalap harus benar-benar memperhitungkan setiap manuver," ungkap Tommy.
Di balik tantangan tersebut, antusiasme peserta justru mencapai rekor baru musim ini.
Sebanyak 215 starter ambil bagian pada putaran ketiga Superchallenge Superprix 2026 yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Malang ini, melampaui capaian putaran sebelumnya di Tasikmalaya yang diikuti 208 starter.
Tingginya antusiasme peserta menjadi sinyal positif bagi kejuaraan balap motor bebek paling bergengsi di Indonesia tersebut. Apalagi seri Malang kembali membuka 14 kelas yang dipertandingkan, sehingga mampu menarik lebih banyak pembalap dari berbagai daerah.
Baca juga: Bintang Balap Asia Siap Ramaikan Superchallenge Superprix 2026 Seri 3 Malang Akhir Pekan Ini
"Untuk seri 3 Malang ini jumlah starter mencapai 215. Kami tentu sangat senang karena melampaui target yang sudah kami tetapkan. Target kami sebenarnya hanya di atas 200 starter, namun ternyata jumlahnya bahkan melampaui seri Tasik yang sebelumnya menjadi yang tertinggi," ujar Mariachi Gunawan selaku Pimpinan Genta Auto & Sport.



Apalagi seperti disampaikan Abed Nego, jumlah penonton yang datang menyaksikan dan memadati tribun serta sekeliling lintasan mencapai 5000 orang lebih dari Sabtu (27/6) siang hingga malam hari ini.
Ini hasil penghitungan jumlah penonton dari 4 pintu ya," ujar Abed sambil menunjukkan hasil hitungan mesin checker kepada OTOPLUS-ONLINE.

Dengan karakter lintasan yang unik, kombinasi aspal lama dan baru, serta layout yang menuntut presisi tinggi, Superchallenge Superprix Seri 3 Malang menjadi salah satu putaran paling teknis dalam kalender balap musim 2026. Bukan hanya menguji kemampuan pembalap membuka gas, tetapi juga menguji kecermatan mekanik dalam menemukan setting motor yang mampu menjawab tantangan lintasan.
Dan Superchallenge Superprix Seri 3 Malang menjadi tontonan yang menghibur bagi 5000 penonton yang hadir memadati Sirkuit Kanjuruhan.



Sampai jumpa di Superchallenge Superprix Seri 4 berikutnya pada 21-22 Agustus 2026 mendatang.
Sebagai informasi, pada kesempatan ini Genta Auto & Sports juga menginformasikan, ada perubahan lokasi gelaran dari semula di sirkuit Mijen, Semarang berubah ke Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya.
"Seri Mijen mundur menjadi 23-24 Oktober 2026, sementara Purwokerto batal musim ini karena bentrok jadwal venue," pungkas Mariachi Gunawan.
Teks: Indramawan
Foto: Dhyaan Icha, Indramawan








Komentar