• Editor

Test Drive DFSK Super Cab 1.5L Gasoline Surabaya - Pasuruan

Dengan tiga orang penumpang, perjalanan sejauh 120 kilometer tidak terasa melelahkan, dengan konsumsi BBM riil berkisar 13,23 km/liter.

OTOPLUS-ONLINE I DFSK Super Cab merupakan tulang punggung penjualan PT Sokonindo Automobile, produsen DFSK di Indonesia.


“Di Jawa Timur Super Cab menyumbang 70 persen penjualan keseluruhan produk DFSK. Berkisar 60-70 unit sebulan,” kata Yansen Tan, Operational Manager CV Manang Sejahtera Abadi, DFSK Surabaya.


Selain varian diesel (1.3T Diesel) yang pernah kami ulas ada da juga varian bensinnya (1.5 Gasoline). Seperti varian diesel, varian bensin juga sudah dilengkapi A/C, Electronic Power Steering (EPS) sebagai standar. Untuk wilayah Surabaya varian 1.5 Gasoline dipasarkan dengan harga OTR Rp 159.750.000.

Kami mencobanya ke luar kota menuju Pasuruan


Kalau menilik spesifikasi teknis,varian bermesin bensin ini menyodorkan tenaga lebih besar dengan torsi maksimum yang keluar di putaran 3.200-4.000 rpm.


Cocok nih buat para pengusaha hasil bumi dan laut atau pelaku UMKM yang rutin melakukan pengiriman antar kota. Oleh karena itu kami pun mensimulasikan pengetesannya di rute antar kota, Surabaya-Pasuruan. Berikut impresinya.


Kabin Lega

Dimensi panjang totalnya 4.440 mm, lebih panjang 160 mm dibandingkan versi diesel. Dengan dimensi panjang bak muatan 2.470 mm sehingga menyisakan kepala kabin sepanjang 1.970 mm. Dikombinasi dimensi lebar ruang kabin 1.810 mm, ruang kabin Super Cab terasa lega 3 orang penumpang dapat duduk tanpa berdesakan.

Lega untuk 3 penumpang


Meski masuk kategori kendaraan niaga, ruang kabin Super Cab terasa cukup manusiawi, tidak mendewakan kodratnya sebagai kendaraan angkut barang. Desain dasbor dan materialnya sewajarnya sebuah kendaraan niaga di kelas ini. Ada 2 tempat penyimpanan terbuka dan 1 tempat penyimpanan tertutup yang menambah unsur fungsionalitas. Bottle holder disiapkan namun letaknya tersembunyi di sisi kanan sandaran bangku pengemudi.


Permukaan jok khususnya di sisi driver berkontur dengan lapisan busa lebih tebal sehingga pengemudi dibuat betah meski harus berlama-lama mengemudikannya. Menunjang kenyamanan, jok pengemudi selain bisa direbahkan juga dapat bergeser (sliding) cukup jauh untuk mengakomodir berbagai postur tinggi driver.

Ruang kaki terpangkas rumah sepatbor


Ruang kakinya termakan bentuk rumah sepatbor yang mengintrusi area kaki, untungnya ruang kaki yang tersedia masih terasa luas apalagi DFSK memosisikan tuas transmisi dan parkbrake di area dasbor.

Lantai sudah dilapis karet pelindung yang berfungsi sekaligus sebagai peredam suara


Sementara ruang kepalanya sangat lega, ketika penumpang berpostur 160 cm duduk di joknya, masih tersisa satu jengkal ruang antara kepala bagian atas dengan plafonnya. Itu imbas baik dari tinggi kepala kabin yang mencapai 1.890 mm, namun dikompensasi dengan ekstra usaha untuk mengakses kabinnya yang tinggi.

Fitur

Kelengkapan fitur Super Cab cukuplah untuk sebuah kendaraan angkut ringan. Ada A/C, sistem audio single DIN dengan sepasang spiker dan electronic power steering.

Head unit bawaan sudah dibekali USB dan aux slot


Power outlet 12 volt juga ada meski belum model USB slot jadi harus menyiapkan adaptornya, kehadiran fitur ini vital lantaran digunakan untuk mengisi ulang daya ponsel.

Instrument meter tidak dibekali takometer seperti varian dieselnya


Untuk memberi kesan manusiawi, bagian plafon dilapis material moulded headliner layaknya mobil-mobil modern dengan permukaan beludru tipis. Kesannya mewah meski lebih sulit dibersihkan jika kotor.



Sasis Kokoh

Super Cab menggunakan rangka ladder (tangga) model nine horizontal and two longitudinal beams. Artinya rangka tersebut diperkuat dengan 9 pipa mendatar dan sepasang pipa penguat yang dipasang horizontal.

Enam bilah pegas daun yang diposisikan under axle untuk daya angkut maksimum


Konstruksi ini diklaim sanggup menahan beban hingga nyaris 1,268 ton. Kemampuan angkut maksimum varian bensin lebih sedikit sekitar 130 kg imbas dari torsi maksimum mesin bensin yang lebih kecil dibandingkan mesin diesel.

Ban varian bensin berukuran 185R14-8PR berspesifikasi niaga (Light Truck) berdinding ban kaku. Saat tanpa beban atur tekanan angin ban pada angka 36 psi (depan) dan 40 psi (belakang).


Mengimbangi kekuatan rangka, suspensi belakang menggunakan model under axle sehingga ground clearance jadi tinggi dikombinasikan dengan 6 pegas daun untuk daya angkut maksimum. Saat tanpa beban redaman suspensi tentu terasa keras namun hal itu wajar lantaran selain karakter dasar suspensinya sebagai mobil beban.


Dimensi Bak dan Daya Angkut

Dinding bak dapat dibuka 3 arah, ada 10 pengait tertanam di dinding bak, 4 pengait di masing-masing sisi dan 2 pengait di sisi belakang


Dimensi bak Super Cab berukuran 2.470 mm x 1.670 mm x 340 mm (PxLxT) beda tipis dengan kepunyaan Suzuki New Carry tipe FD yang jadi market leader di segmen ini, ukuran baknya 2.505 x 1.665 x 360. Dengan lantai yang bak rata memungkinkan membuat barang lebih banyak dengan lebih mudah.

Letak Aki dan Lubang Pengisian Bensin

Letak aki di ruang mesin


Tidak seperti Suzuki Carry yang memosisikan aki di bawah dek, DFSK meletakkan aki di ruang mesin yang lebih aman dari kemungkinan tindak pencurian.

Diberi panel sehingga terlihat lebih rapi


Sayangnya lubang pengisian bensin masih di bawah bak barang. Bedanya di varian bensin terlihat lebih rapi lantaran diimbuhi panel plastik. Tidak seperti varian diesel yang dibiarkan terbuka.

Impresi Berkendara

Seperti disinggung sebelumnya, lantai kabin cukup tinggi sehingga perlu menjinjit untuk naik ke kabinnya. Tapi imbasnya, posisi duduk terasa commanding didukung kaca depan lebar dan samping yang besar.

Bentuk kunci tidak seperti mobil niaga


Posisi setir cukup pas dijangkau, sudut dan jaraknya mengakomodir rata-rata postur tubuh, apalagi jok pengemudi yang bisa digeser cukup jauh untuk mendapatkan posisi mengemudi yang ideal.

Tiga orang penumpang tidak terasa duduk berdesakan, dalam perjalanan jauh seperti kami simulasikan seolah melakukan perjalanan mengirim barang dari Surabaya ke Pasuruan pergi pulang, 3 orang penumpang dapat duduk dengan cukup nyaman. Perjalanan sejauh 120 kilometer pun tidak berasa melelahkan.


Panel meter cukup lengkap dan informatif meski desainnya tidak sekeren varian bermesin diesel yang dibekali takometer. Toh fungsinya tidak terlalu vital di kendaraan niaga seperti Super Cab

Seluruh cairan dicek dari balik kap depan


Keunikan ada pada pengoperasian switch-switch kemudi. Letak switchnya sih jamak, kanan untuk lampu-lampu dan kiri untuk wiper. Yang berbeda switch kemudi di sisi kanan, arah putaran untuk menghidupkan lampu diputar kebalikan dengan arah jarum jam. Ini kebalikan dengan kebanyakan mobil pada umumnya. Begitu juga pada switch sisi kiri, arah putaran untuk mengaktifkan wiper diputar searah jarum jam.

Mesin 1,5 liter berteknologi Dual Variable Valve Timing yang dapat menghasilkan tenaga maksimum 100,5 dk. Lebih besar dibandingkan versi diesel yang tenaganya 73,75 dk. Hanya saja versi bensin kalah torsi membuat kemampuan maksimumnya mengangkut beban kalah dibandingkan varian diesel.


Sistem audio yang mengandalkan head unit single DIN dengan slot USB dan AUX lumayan jadi teman perjalanan melengkapi sistem AC-nya yang sejuk. Hanya letak tombol volume yang berada di sisi kiri menyulitkan saat harus mengatur ulang volume.


Pasalnya dengan sabuk pengaman model 2 titik yang fix, tubuh jadi mustahil bergerak bebas untuk menjangkau tombol volume head unit. Mengakalinya minta tolong penumpang (kalau ada) untuk mengatur volume radio.

Kualitas insulator tergolong baik


Kualitas insulator di Super Cab cukup baik. Tak hanya suara mesin yang minim, panas mesin pun minim merangsek masuk ke dalam kabin. Bahkan ketika kami geber di ruas tol Surabaya-Pasuruan, panas mesin sama sekali tidak terasa masuk ke dalam kabin.

Konsumsi Bahan Bakar

Konsumsi bahan bakar riil berkisar 13,23 km/liter


Kami tes dengan metode full to full, setelah menempuh jarak 122 kilometer, bensin yang ditambahkan sebanyak 9,22 liter. Artinya konsumsi bahan bakar riil berkisar 13,23 km/liter.

Teks & Foto: Nugroho Sakri Yunarto