top of page

Yadea E8S Pro Diburu Komunitas Modifikasi dan EV Dragbike, Gara-gara Mirip Lion SKS ZII Thailand!

  • Gambar penulis: Editor
    Editor
  • 2 hari yang lalu
  • 4 menit membaca
Yadea E8S Pro mempunyai desain mirip dengan Lion SKS ZII Thailand yang kini jadi primadona di ajang EV dragbike namun tidak dipasarkan di Indonesia.

Harga Yadea E8S Pro di pasar motor seken bisa mencapai Rp15 juta (Foto: Dok. OTOPLUS-ONLINE).
Harga Yadea E8S Pro di pasar motor seken bisa mencapai Rp15 juta (Foto: Dok. OTOPLUS-ONLINE).

OTOPLUS-ONLINE I Yadea E8S Pro kini semakin sulit dijumpai di showroom maupun dealer. Namun di sisi lain, motor listrik bergaya skuter ini justru diburu komunitas modifikasi dan drag bike EV hingga membuat harga bekasnya ikut merangkak naik.


Lonjakan minat tersebut turut mendongkrak harga Yadea E8S Pro di pasar motor bekas. Berdasarkan penuturan Rudi Hartono dari bengkel modifikasi HART Garage, Malang, unit tanpa baterai kini diperdagangkan di kisaran Rp8-10 juta.


"Itu dengan kondisi tanpa baterai lho. Kalau dengan baterai dan kondisi bagus bisa sampai Rp15 juta," ujar Rudi.


Penuturan ini sama dengan hasil penelusuran OTOPLUS-ONLINE di platform jual beli kendaraan bekas OLX, yang menunjukkan harga Yadea E8S Pro lengkap dengan baterai bahkan sudah menembus kisaran Rp15 juta, tergantung kondisi unit dan kelengkapan dokumen.


Yadea E8S Pro diperkenalkan pertama kali pada Februari 2023 dengan harga Rp23.900.000 OTR DKI Jakarta (Foto: Dok. OTOPLUS-ONLINE).
Yadea E8S Pro diperkenalkan pertama kali pada Februari 2023 dengan harga Rp23.900.000 OTR DKI Jakarta (Foto: Dok. OTOPLUS-ONLINE).

Sebagai informasi, saat pertama kali diperkenalkan pada gelaran IIMS (Februari 2023), harga peluncuran resmi untuk Yadea E8S Pro adalah Rp23.900.000 (OTR DKI Jakarta).


Namun setelah resmi terverifikasi memperoleh insentif atau subsidi motor listrik dari Pemerintah sebesar Rp7.000.000 pada September 2023, harga Yadea E8S Pro menjadi Rp16.900.000 (OTR Jadetabek).


Meski demikian, Rudi mengungkapkan bahwa pada perjalanannya, Yadea E8S Pro sempat bisa didapat sekitar Rp8 juta hingga Rp8,5 juta dengan kondisi off the road.


"Ya waktu itu, Yadea E8S Pro kurang laku di pasaran karena mungkin pasar dan komunitasnya belum terbentuk ya," ujar Rudi.


Elvindo RamaĀ diperkenalkan pertama kali pada 2020. (Foto: @elvindo.id)
Elvindo RamaĀ diperkenalkan pertama kali pada 2020. (Foto: @elvindo.id)

Ia juga mengungkapkan, selain Yadea E8S Pro di Indonesia sebenarnya sudah memiliki beberapa motor listrik dengan siluet yang sebelas-dua belas. Di antaranya Elvindo RamaĀ yang diperkenalkan pada 2020, Molindo DX-8Ā pada 2022, hingga Yadea E8Ā dan penerusnya Yadea E8S ProĀ pada 2023.


Molindo DX-8Ā dipasarkan pada 2022 (Foto: @molindo_id)
Molindo DX-8Ā dipasarkan pada 2022 (Foto: @molindo_id)

"Ya kita tahulah motor seperti ini sebenarnya pabriknya sama di China. Tapi ketika sampai di sini diberi label sesuai merek pemesannya," tutur Rudi.


Tapi sayang, saat itu model seperti ini kurang diterima pasar. Tapi apa yang terjadi sekarang?


Inilah penampakan Lion SKS ZII asal Thailand (Foto: @lionevofficial).
Inilah penampakan Lion SKS ZII asal Thailand (Foto: @lionevofficial).

Yadea E8S Pro tiba-tiba banyak dicari dan diburu terutama oleh penggemar modifikasi, dan EV dragbike hanya karena menyerupai motor listrik Lion SKS ZII asal Thailand!


Foto: @@riskiesqj
Foto: @@riskiesqj

Simak saja penuturan akun Instagram @riskiesqj. Dalam unggahan yang dipublikasikan pada 17 Juni 2026, akun tersebut mengaku heran mengapa Yadea E8S Pro tiba-tiba menjadi sangat populer pada pertengahan 2026 hingga stoknya di dealer motor bekas mulai sulit ditemukan. Padahal, menurutnya, sepanjang 2025 motor listrik itu nyaris tidak mendapat perhatian pasar.


Lion SKS ZII yang telah dimodifikasi untuk balap dragbike. (Foto: @matichappiness)
Lion SKS ZII yang telah dimodifikasi untuk balap dragbike. (Foto: @matichappiness)

Ia kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan kolaborasi antara salah satu builder di Jakarta dengan sebuah brand motor listrik yang tengah populer di Malaysia untuk memborong Lion SKS ZII dan memasarkan kembali untuk memanfaatkan peluang ini, di mana Lion SKS ZII tidak ada di Indonesia, sementara Yadea E8S Pro yang jadi alternatif karena desain mirip juga kian langka di pasaran.


Di akhir unggahannya, ia menegaskan bahwa pendapat tersebut hanyalah pandangan pribadinya dengan menuliskan, "Just share my opinion."


Justru opini ini mendorong OTOPLUS-ONLINE melakukan penelusuran lebih jauh dan menemukan bahwa dugaan tersebut memiliki benang merah.


Rendy Vananda, pegiat komunitas motor listrik Elektra Kosmik (kiri) bersama Rudi Hartono, pemilik bengkel modifikasi Hart Garage (Foto: Istimewa).
Rendy Vananda, pegiat komunitas motor listrik Elektra Kosmik (kiri) bersama Rudi Hartono, pemilik bengkel modifikasi Hart Garage (Foto: Istimewa).

Berdasarkan informasi yang disampaikan Rendy Vananda, pegiat komunitas motor listrik Elektra Kosmik, Malang, Lion SKS ZII memang tidak pernah dipasarkan secara resmi di Indonesia.


"Beberapa unit yang ada diketahui masuk melalui jalur pribadi, seperti punya Koh Hans dari Tekno Tuner dan saya sendiri," ujarnya.


Menurut Rendy, inilah yang membuat para builder kemudian mencari motor listrik dengan karakter desain serupa sebagai basis modifikasi. Dari beberapa model yang pernah beredar di Indonesia, Yadea E8S Pro dinilai menjadi salah satu yang paling mendekati.


Hanya bodi dan rangka Yadea E8S Pro yang dipakai untuk dipakai gacoan balap dragbike. Komponen lain hasil racikan tuner. (Foto: Amuba Team Malang)
Hanya bodi dan rangka Yadea E8S Pro yang dipakai untuk dipakai gacoan balap dragbike. Komponen lain hasil racikan tuner. (Foto: Amuba Team Malang)

"Yang dicari sekarang memang Yadea E8S Pro karena bentuknya mirip Lion SKS ZII," ujar Rendy kepada OTOPLUS-ONLINE.


Keterangan Rendy tersebut kemudian membawa OTOPLUS-ONLINE menelusuri lebih jauh asal-usul tren tersebut. Selain benang merahnya mengarah ke Lion SKS ZII Thailand, akhirnya justru mendarat ke Malaysia.


Dalam wawancara dengan OTOPLUS-ONLINE, Rudi Hartono, pemilik bengkel modifikasi Hart Garage di Malang kembali menjelaskan, bahwa fenomena ini merupakan efek FOMO (Fear of Missing Out) dari tren drag bike motor listrik yang lebih dulu berkembang di Negeri Jiran.


Kejuaraan EV dragbike sedang digemari di Malaysia (Foto: @ggrmotormalaysia)
Kejuaraan EV dragbike sedang digemari di Malaysia (Foto: @ggrmotormalaysia)

Hasil penelusuran OTOPLUS-ONLINE sendiri menemukan, ada kesamaan trend EV dragbike di Malaysia dan Thailand. Sama-sama menyukai desain mungil seperti Lion SKS ZII asal Thailand.


GGR Motor Malaysia memasarkan brand Lion GR1 (Foto: @ggrmotormalaysia).
GGR Motor Malaysia memasarkan brand Lion GR1 (Foto: @ggrmotormalaysia).

Popularitas semakin meningkat setelah dimodifikasi terutama melalui pemasangan lampu LED melingkar di bagian depan yang membuat tampilannya menyerupai karakter kartun Minion. GGR Motor Malaysia kemudian memasarkan dengan brand Lion GR1.


OTOPLUS-ONLINE juga menemukan info menarik dari akun Instagram resmi GGR Motor Malaysia. Dalam unggahan pada akhir Juni 2026, workshop tersebut mengumumkan kolaborasi dengan Tekno Tuner Indonesia melalui proyek GGR Ɨ Tekno Tuner Lion G1.


GGR Motor Malaysia berkolaborasi dengan Tekno Tuner Indonesia berencana memasarkan Lion G1 ke Tanah AIr (Foto: @ggrmotormalaysia).
GGR Motor Malaysia berkolaborasi dengan Tekno Tuner Indonesia berencana memasarkan Lion G1 ke Tanah AIr (Foto: @ggrmotormalaysia).

Dalam pengumuman itu, GGR menyebut kolaborasi tersebut bertujuan mengembangkan dunia EV Motorsport sekaligus memasarkan motor listrik ke Indonesia. Mereka bahkan menyatakan Lion G1 akan segera hadir di pasar Indonesia dan mengajak para pecinta motor listrik Tanah Air memberikan tanggapan melalui kolom komentar.


Rangkaian fakta tersebut memperlihatkan bagaimana tren modifikasi motor listrik yang bermula dari Thailand, berkembang di Malaysia, dan kemudian merembet ke Indonesia ini menjadi latar belakang diburunya Yadea E8S Pro yang sebelumnya kurang diminati.


Teks: Indramawan

Komentar


logo media lreasi indonusa-OK2.png

© 2025 OTOPLUS-ONLINE

This website is owned and published by PT Media Kreasi Indonusa.

Reproduction of text, photographs or illustrations is not permitted in any form.

bottom of page