top of page

Akhirnya Terungkap! Mobil Kia Wajib Jalani “Interogasi” di 1.000 Titik Sebelum Diproduksi, Kenapa?

  • Gambar penulis: Editor
    Editor
  • 10 menit yang lalu
  • 3 menit membaca
Sebelum diproduksi, kendaraan Kia ternyata harus melewati pemeriksaan hingga 1.000 titik berdasarkan sekitar 600 kriteria kualitas.

Engineer Kia menggunakan 3D scanner untuk memeriksa hasil pengukuran dan menemukan kemungkinan penyimpangan pada komponen kendaraan sebagai dasar penyempurnaan sebelum produksi.
Engineer Kia menggunakan 3D scanner untuk memeriksa hasil pengukuran dan menemukan kemungkinan penyimpangan pada komponen kendaraan sebagai dasar penyempurnaan sebelum produksi.

OTOPLUS-ONLINE I Ketika melihat sebuah mobil, kita biasanya menilai kualitas dari hal sederhana. Panel bodi terlihat rapi, pintu menutup dengan pas, kabin terasa senyap, dan seluruh komponen bekerja sebagaimana mestinya.


Bagi Kia, untuk memastikan kualitas kendaraan seperti itu, butuh rangkaian pemeriksaan yang sangat panjang. Hal tersebut terungkap melalui press release yang dikirimkan Kia Indonesia kepada redaksi (08/09/2026).


Di situ dijelaskan, sebelum memasuki tahap produksi, kendaraan menjalani serangkaian pemeriksaan detail di Digital Measuring Center (DMC), yang berada di Namyang Research and Development Center, Korea Selatan.


Di fasilitas ini, sebuah mobil seolah menjalani “interogasi”. Bukan dengan pertanyaan, melainkan dengan data hasil pengukuran.


1.000 Titik Jadi Sasaran Pemeriksaan


Bukan sekadar dilihat, struktur bodi kendaraan Kia diukur secara presisi menggunakan Coordinate Measuring Machine (CMM) hingga 1.000 titik berdasarkan sekitar 600 kriteria kualitas.
Bukan sekadar dilihat, struktur bodi kendaraan Kia diukur secara presisi menggunakan Coordinate Measuring Machine (CMM) hingga 1.000 titik berdasarkan sekitar 600 kriteria kualitas.

Di DMC, Kia dapat mengukur hingga 1.000 titik pada struktur bodi kendaraan berdasarkan sekitar 600 kriteria kualitas.


Untuk memeriksa struktur dasar kendaraan, salah satu perangkat yang digunakan adalah Coordinate Measuring Machine (CMM), yang memakai sensor kontak berpresisi tinggi untuk membaca koordinat tiga dimensi pada titik-titik yang telah ditentukan.


Sederhananya, engineer Kia ingin memastikan bukan hanya bentuk kendaraan yang terlihat bagus, tetapi juga ukuran, posisi, kesejajaran, hingga celah antarkomponen sesuai dengan rancangan.


Pemeriksaan mencakup kualitas eksterior, kebisingan, getaran dan kekasaran atau Noise, Vibration, and Harshness (NVH), kekedapan terhadap air, serta fungsi dan kelayakan perakitan.


“Setiap titik yang diukur memberi engineer data untuk memahami kondisi kendaraan dan menentukan bagian yang masih perlu disempurnakan. Melalui DMC, kualitas dibangun sejak awal, kemudian acuannya diteruskan hingga tahap produksi,” ujar Harry Yanto, VP Operations Kia Sales Indonesia.


Pintu Pun Ikut “Diinterogasi”


Robotic 3D scanning systems atau sistem pemindaian 3D berbasis robot digunakan di Digital Measuring Center (DMC) Kia untuk memeriksa bentuk, ukuran, dan posisi komponen secara presisi sesuai rancangan.
Robotic 3D scanning systems atau sistem pemindaian 3D berbasis robot digunakan di Digital Measuring Center (DMC) Kia untuk memeriksa bentuk, ukuran, dan posisi komponen secara presisi sesuai rancangan.

Pemeriksaan tidak berhenti pada struktur bodi. Komponen bergerak seperti pintu dan liftgate juga diperiksa menggunakan pemindai optik 3D yang terpasang pada lengan robot.


Pemindai ini membaca bentuk komponen secara tiga dimensi untuk memastikan ukuran dan posisinya sesuai rancangan.


Komponen juga dipasang pada alat inspeksi yang menyerupai bentuk bodi kendaraan sebenarnya. Engineer kemudian menggunakan pemindai 3D portabel untuk memastikan pemasangannya tepat.


Setelah seluruh komponen terpasang, kendaraan dipindai kembali untuk melihat kemungkinan penyimpangan yang muncul dari struktur bodi hingga trim.


500 Pengukuran dalam Satu Detik


Engineer Kia meninjau hasil dynamic motion validation, yang merekam pergerakan komponen kendaraan melalui kamera berkecepatan tinggi dan sensor hingga 500 data pengukuran per detik.
Engineer Kia meninjau hasil dynamic motion validation, yang merekam pergerakan komponen kendaraan melalui kamera berkecepatan tinggi dan sensor hingga 500 data pengukuran per detik.

Yang menarik, pengujian juga dilakukan ketika komponen bergerak.


Pintu, liftgate, dan komponen lainnya diuji dalam kondisi pengoperasian. Kamera berkecepatan tinggi dan sejumlah sensor mampu menangkap hingga 500 data pengukuran per detik!


Dengan demikian, engineer dapat melihat perubahan bentuk yang terlalu cepat untuk ditangkap mata manusia, termasuk ketika komponen mendapat tambahan beban atau tekanan dari luar.


Data Jadi Senjata untuk Memperbaiki Mobil


3D scanner bekerja memindai komponen kendaraan dalam proses pemeriksaan kualitas di Digital Measuring Center (DMC) Kia.
3D scanner bekerja memindai komponen kendaraan dalam proses pemeriksaan kualitas di Digital Measuring Center (DMC) Kia.

Seluruh hasil pengukuran kemudian dikumpulkan untuk membantu engineer menemukan sumber penyimpangan dan menentukan perbaikan.


Kia menggunakan DATA-FIT untuk mencari konfigurasi perakitan optimal secara virtual, sementara DATA-AUDIT membantu menemukan kemungkinan sumber penyimpangan dan memberikan rekomendasi perbaikan.


Standar pengukuran dari DMC kemudian diteruskan ke fasilitas produksi sebagai acuan kualitas.


Kia juga berencana memanfaatkan data tersebut untuk membangun infrastruktur berbasis kecerdasan buatan bagi pengembangan kendaraan berikutnya.


Bagi konsumen, seluruh proses “interogasi” ini memang tidak terlihat. Namun hasilnya diharapkan terasa melalui hal-hal sederhana: bodi yang rapi, pintu yang presisi, kabin yang nyaman, serta fungsi kendaraan yang bekerja sebagaimana mestinya.


Dengan kata lain, sebelum kualitas sebuah mobil Kia bisa dirasakan tangan dan telinga konsumen, kualitas tersebut terlebih dahulu harus dibuktikan lewat data.


Teks: Indramawan

Foto: Kia

Komentar


logo media lreasi indonusa-OK2.png

© 2026 OTOPLUS-ONLINE

This website is owned and published by PT Media Kreasi Indonusa.

Reproduction of text, photographs or illustrations is not permitted in any form.

bottom of page