• Editor

Begini Rasanya Membesut Sporty Version dari Vespa Sprint S i-get ABS


  • Vespa Sprint S ditawarkan dengan 3 pilihan warna, Grey Materia seperti unit tes kami ini, lalu ada Blue Vivace (matte) dan Black Vulcano. Pilihan warna ini tidak disodorkan di varian standarnya.


Vespa Sprint S merupakan versi lebih sporty dari Vespa Sprint yang sejatinya sudah terlahir sporty. Tidak ada perbedaan desain, elemen detail juga fitur-fitur yang melekat. Varian ini dirancang dengan menggabungkan aura sporty dan teknologi terkini. Tampilannya dibedakan dari aksen warna merah yang melapis horn cover, pegas sok depan, warna decals atau stiker yang terdapat di bodinya, material pelapis jok dan warna peleknya.


Dengan perbedaan-perbedaan tersebut, Vespa Sprint S dijual Rp 2,5 juta lebih mahal dari Vespa Sprint versi reguler. Price list Vespa Sprint S yaitu Rp 49,7 Juta (OTR Jakarta) sedangkan untuk wilayah Surabaya dipasarkan dengan harga Rp 52,8 juta OTR. Menariknya, meski harganya terbilang mahal, tapi Vespa Sprint/Sprint S jadi tipe terlaris dari seluruh line up yang dipasarkan PT Piaggio Indonesia. Gimana sih impresinya?

Desain

Secara keseluruhan, tidak banyak perubahan pada desain dan elemen detail dari pendahulunya. Karakter sporty yang dicirikan dari desain headlight berbentuk lampu segi enam, motif palang pelek dan wujud jok tetap dipertahankan. Namun di trim Sprint S ini tetap ada newness yang ditawarkan diantaranya, aksen warna merah pada horn cover, sok depan, decals yang menempel di pelek dan tiap sisi bodi.


Meski bentuk lampu depan dan belakang tidak berubah tetapi sumber pencahayaannya di keluarga Sprint yang diluncurkan April 2019 ini sudah mengandalkan LED, baik untuk low beam maupun hi beam sehingga selain lebih awet dan hemat daya, kemampuan penerangannya di malam hari lebih baik.


Joknya terasa ergonomis, bentuknya sudah disesuaikan dengan postur konsumen Asia seperti Indonesia. Area dimana paha bertumpu dibentuk lebih ramping sehingga pengendara tidak dipaksa mengangkang yang menyulitkan ketika akan menapakkan kaki ke jalan. Jok ini dilapis material artificial suede yang menjamin pantat enggan bergeser lantaran kesat.


Anyway, kami mengapresiasi redesain pada bentuk lantai dek yang melekuk pada bagian yang bersinggungan dengan betis kaki saat menjejak jalan. Di pendahulunya tepi lantai rata aja dari depan ke belakang, bentuk seperti itu memaksa kaki harus melebar sehingga menyulitkan bagi pengendara yang posturnya tidak terlalu tinggi.

  • Merupakan reinkarnasi dari Vespa Sprint V yang diproduksi 1976-1979.

  • Desain lampu segi enam, terinspirasi pendahulunya yang lahir tahun 1976 silam

  • Varian S dibedakan dari aksen merah pada pegas sok depan, horn cover dan decals.

  • Pelek depan-belakang ukuran 12 inci berwarna black glossy.

  • Desain jok yang sporty dibungkus material suede yang tidak licin saat diduduki.

  • Dashboard LCD yang sporty.

  • Visor minimalis menyiratkan tampilan sporty.

Fitur

Sprint S dilengkapi dengan teknologi dan fitur canggih seperti mesin i-get (Italian Green Experience Technology), ABS (Anti-lock Braking System) pada roda depan, LED untuk head light dan tail light, sistem immobilizer untuk keamanan dari tindak pencurian, dan USB port yang akan memudahkan pengisian daya smartphone dan perangkat elektronik lainnya. Selain itu ada pula electric saddle opening yang dioperasikan dengan menekan tombol di dekat kunci kontak.


Desain instrumen meter tidak berubah dari sebelumnya, angka kecepatan yang ditampilkan juga masih dalam satuan km/h dan mph. Perbedaan yang terlihat adalah hadirnya indikator ABS di sudut kiri. Oya, skutik ini juga dibekali saklar lampu dim yang ada di holder switch sebelah kiri. Dari sisi kenyamanan, baik Sprint maupun Sprint S dibekali sok belakang dengan 4 tingkat setelan kekerasan.

  • Menggunakan LED di depan dan belakang.

  • Electric saddle opening with button.

  • USB Port berada di bagasi depan berdampingan dengan tuas seat opener.

Posisi Berkendara

Buat yang terbiasa nyemplak skutik jepang, duduk di atas jok Sprint akan terasa kalau posisinya tinggi. Jok Sprint berjarak 790 mm dari tanah, sebagai perbandingan tinggi jok Honda Vario 150 eSP hanya 769 mm. Ergonomi tinggi jok dikombinasikan dengan posisi setang yang juga tinggi dan lebar. Lebar setang Sprint dipatok 695 mm, sementara Vario 150 eSP lebar setangnya 679 mm. Sengaja kami bandingkan dengan Honda Vario 150 eSP karena merupakan salah satu skutik  terpopuler dan sama-sama bermesin 150-an cc,


Jok tinggi menghasilkan rasa commanding sementara setang lebar membuat pengendalian jadi ringan. Paduan ini membuatnya menyenangkan diajak bermanuver di jalan yang padat meski bobot kosongnya 117 kg. Tantangannya untuk rider dengan postur di bawah 170 cm, kaki akan dipaksa menjinjit agar dapat berpijak ke tanah.

  • Jok berjarak 790 mm dari tanah, tergolong tinggi untuk rata-rata postur orang Indonesia. Untungnya ujung depan jok dibuat menyempit sehingga pengendara tidak perlu ngangkang seperti sebelumnya.

  • Desain floor deck meliuk, lebih ergonomis bagi pengendara khususnya kaum hawa karena tidak perlu terlalu ngangkang untuk menapak ke jalan.

  • Setang lebar dan tinggi, membuat pengendaliannya ringan.

Impresi Berkendara

Teknologi mesin i-get yang diperkenalkan 2016 merupakan pengembangan dari generasi mesin LEm (Low Emission) 3V. Kapasitasnya identik, 154,8 cc tetapi mesin berteknologi i-get lebih irit dengan performa lebih baik. Dari pengujian kami pada pemakaian dalam kota dengan kondisi lalu lintas tidak terlalu ramai (tes dilakukan sebelum PSBB di wilayah Surabaya diberlakukan 25 April 2020), kami mendapatkan konsumsi rata-rata 38 km/liter.


Hal itu dimungkinkan berkat aplikasi sistem injeksi close loop dari Bosch lengkap dengan barometric sensor, penyempurnaan pada kruk as dan penggunaan injektor 8 hole menggantikan versi 2 hole sehingga pangabutan bahan bakar lebih baik yang ujung-ujungnya membuat pembakaran lebih sempurna sekaligus rendah emisi dan menghasilkan suara lebih halus.


Respon mesin di putaran rendah-menengah terasa tanggap, beringsut di kepadatan lalu lintas jadi mudah namun performa mesin terasa paling menyenangkan pada rentang kecepatan 50-70 km/jam. Di rentang kecepatan ini, mesinnya terasa enteng berkitir. Ketika gas dipelintir lebih dalam melewati 70 km/jam, respon mesin melandai namun tidak sulit meraih 100 km/jam.


Catatan lain, vibrasi mesin dan transmisi CVT-nya berkurang signifikan dibandingkan generasi awal mesin LEm 3V. Hal itu berkat penggunaan driven pulley yang kini memiliki alur oli.


Rangkanya setia menggunakan model monokok yang didesain ulang dengan material baja sehingga menyumbang memangkas getaran. Suspensi depan juga masih mengandalkan model lengan tunggal dengan pegas helical dan peredam kejut tunggal double action sementara suspensi belakang bertumpu pada 2 arm engine mount dengan peredam kejut yang memiliki 4 tingkat setelan kekerasan. Karakter redaman suspensi depan cukup empuk, untuk suspensi belakang pada posisi 1 dan 2 untuk tester OTOPLUS-ONLINE berbobot 78 kg terasa terlalu lembut, paling pas posisikan di posisi 3.


Kalau belum terbiasa, suspensi depan karakternya seperti melawan saat diajak menikung ke kiri di atas permukaan jalan yang bergelombang. Gelagat itu natural mengingat roda depan hanya punya satu tumpuan di sisi kiri. Sementara jika menikung ke kanan dengan permukaan jalan yang sama-sama bergelombang, gejala itu tidak muncul.


Unjuk kerja sektor rem juga lebih baik berkat pengaplikasian teknologi ABS di roda depan yang mengandalkan cakram 220 mm. Kehadiran ABS membuat Sprint tetap bisa dikendalikan meski pengendara melakukan panic brake.


Seperti telah disinggung di atas, dengan posisi berkendara yang commanding dan ringan, skutik italia ini lincah. Namun tetap stabil dan nyaman ketika melaju berkat jarak sumbu roda yang tergolong panjang, mencapai 1,340 mm. Kembali kami bandingkan dengan jarak sumbu roda Honda Vario 150 eSP yang 1.280 mm.


Komplain kami ada pada jok di area boncenger. Penampangnya kelewat lebar sehingga posisi paha pembonceng dipaksa membuka lebar juga slope di ujung jok belakang dibiarkan landau, tidak didesain meninggi sehingga pembonceng terasa seperti akan meluncur ke belakang.  Kombinasi itu terasa melelahkan meski tidak berjalan untuk jangka waktu yang lama.

  • Redesain rangka monokok tak hanya menjadikannya lebih kuat tapi juga lebih lincah.

  • Mesin berteknologi i-get (Italian Green Experience Technology) menawarkan tenaga 11,6 dk di 7.500 rpm dan torsi 12 Nm di 5000 rpm, terasa responsif di putaran rendah sehingga menyenangkan dipakai dalam kondisi stop and go.

  • Rasio CVT kini lebih mengakomodir akselerasi di putaran rendah sehingga ideal dipakai di jalan kota yang padat.

  • Pencahayaan headlight LED-nya sangat terang, ini pada posisi low beam.

  • Ini pencahayaan headlight pada posisi hi beam.

  • Tangki berkapasitas 8 liter cukup untuk dipakai menjelajah lebih dari 300 km.

Kepraktisan

Mengakomodir kodratnya sebagai skutik perkotaan, Sprint dibekali dua kompartemen penyimpanan, satu bagasi ekstra besar di bawah jok dengan volume 16,6 liter yang dapat digunakan menampung berbagai bawaan termasuk helm saat parkir. Kami coba memasukkan helm model full face, eh muat lho. Laptop sebenarnya juga masuk, tapi sebaiknya jangan ngotot memasukkan laptop atau perangkat elektronik lain di situ terlebih untuk waktu berkendara yang lama. Pasalnya intrusi panas mesin berpotensi menyebabkan kerusakan pada perangkat elektronik.


Kompartemen kedua yakni glove box. Volumenya tidak besar tapi setidaknya cukup aman untuk menyimpan gadget, dilengkapi USB port yang dapat digunakan untuk mengisi ulang daya gadget pula. Ada juga luggage hook alias cantelan barang di ujung depan jok untuk meletakkan/menggantung barang bawaan berukuran kecil. Floor deck-nya juga cukup luas untuk meletakkan barang bawaan tambahan apabila terpaksa.


Masih kurang? Piaggio Indonesia menyediakan beberapa aksesori original yang dapat digunakan sebagai tambahan tempat barang seperti front carrier, rear carrier dan top box.

  • Dimensi lebar 695 mm (735 mm dengan spion), memang tidak seramping seperti kebanyakan skutik jepang namun tidak sampai menyulitkan di jalanan yang sempit.

  • Bagasi dapat memuat helm full face.

  • Kompartemen di bagasi depan untuk meletakkan ponsel.

  • Tuas pembuka bagasi darurat seandainya electric saddle opening bermasalah.

  • Luggage hook berkapasitas maksimal 3 kg tetap dipertahankan.

  • Desain behel belakang melekuk, berbeda dengan kepunyaan Primavera yang menyambung.

Teks: Nugroho Sakri Yunarto

Foto: Hendra Sonie, Nugroho Sakri Yunarto