• Editor

Begini Rasanya Naik GTS Super 150 I-Get, Vespa Paling Canggih!


Vespa GTS Super 150 i-Get diperkenalkan pada 26 Juni 2019. Produk ini merupakan facelift dari GTS Super 150 i-Get yang mengalami major model change tahun 2017 silam. Beberapa perubahan dari model 2017 di antaranya motif pelek, lampu-lampu yang telah mengadopsi LED, desain cover radiator, motif dan desain jok, desain panel dasi dengan 3 bilah horn cover juga spion yang sekarang serupa dengan kepunyaan Vespa Primavera. Perubahan itu mengerek harga jualnya menjadi Rp 58 juta dari yang sebelumnya Rp 54 juta, sementara harga OTR di Surabaya Rp 62,9 juta.

Piaggio Indonesia membagi target pasar mereka menjadi 3 kategori. Kategori entry level diisi oleh model Vespa S dan Vespa LX. Untuk kategori inti diisi model Vespa Primavera dan Vespa Sprint. Untuk kategori high-end diisi oleh model Vespa GTS Super 150 i-Get dan Vespa GTS 300 Super Tech HPE.

Sebagai varian high-end dari keluarga Vespa yang dijual di Indonesia, tentunya GTS Super 150 i-Get menyuguhkan kelebihan yang tidak dimiliki model-model di bawahnya. Dengan support PT Smart Mulia Abadi, dealer Piaggio Vespa di Raya Waru 92, Sidoarjo, kami berkesempatan merasakan impresi utuh Vespa GTS Super 150 i-Get selama 5 hari pada kondisi pemakaian sehari-hari.


Posisi Berkendara

Duduk di atas sadel GTS Super 150 i-Get berasa commanding banget. Setangnya lebar dan tinggi, posisi duduk berasa jenjang lantaran joknya berjarak 790 mm dari tanah. Ini lebih rendah dari keluaran sebelumnya yang dilansir tahun 2017 dengan ketinggian jok 800 mm.


Saat kaki menapak ke floordeck (lantai), posisi berkendara rileks dan nyaman. Yang harus diwaspadai saat menyelinap di kepadatan lalu lintas adalah ujung setang. Biasanya spion lebih lebar dari setang namun tidak di GTS ini. Ujung setang lebih nongol dibandingkan spion.

  • Memiliki fitur Start Stop System yang dapat diaktif/nonaktifkan dari tombol ini

  • Tombol hi-beam, sein dan klakson berada di sisi kiri

Letak tombol starter, Start Stop System dan tombol untuk menyalakan lampu berada di sisi kanan setang. Sementara letak tombol hi-beam, sein dan klakson berada di sisi kiri setang.

  • Pelapis jok punya motif baru dengan penampang yang lebar. Sayang busanya kurang empuk

Berperan sebagai pembonceng, meski busa jok kurang empuk penampang jok yang lebar terasa nyaman diduduki. Seandainya ujung belakang jok dibuat sedikit menanjak maka akan terasa lebih nyaman dan menghadirkan rasa aman untuk pembonceng lantaran tidak khawatir meluncur ke belakang saat berakselerasi.


Rem Pakem Banget

  • Rem depan mengandalkan cakram 220 mm + ABS. Suspensi depan khas Vespa, single arm dengan pegas helical dan sok hidraulis tunggal

Mengimbangi bobot Vespa GTS Super 150 i-Get yang mencapai 160 kilogram, Piaggio membekalinya dengan sepasang rem cakram 220 mm plus ABS. Tuas rem terasa ringan dan empuk saat dioperasikan, kemampuan pengeremannya juga istimewa, pakem banget. Kehadiran ABS sungguh membuat pengendara merasa aman saat melakukan pengereman mendadak.


Mesin Responsif

  • Mesin identik dengan Piaggio Medley, berkapasitas 155,1 cc menghasilkan tenaga 14,48 dk pada 8,750 rpm. Yang istimewa mesin ini menggunakan 4 katup, tenaga terasa padat terutama di putaran menengah

  • Mesin yang digunakan identic dengan Piaggio Medley, menggunakan radiator sehingga memungkinkan kompresi mesin dibuat lebih tinggi untuk menghasilkan tenaga lebih besar

Vespa GTS Super 150 i-Get menggunakan unit mesin yang sama dengan Piaggio Medley. Mesin generasi terbaru berteknologi i-Get ini berkapasitas bersih 155,1 cc dengan 4 katup di kepala silindernya. Tenaga yang dihasilkan mencapai 14,48 dk pada 8.250 rpm dengan torsi 13,5 Nm pada 7.500 rpm.


Bandingkan dengan mesin Vespa Sprint atau Primavera i-Get yang bertenaga 11,67 dk pada 7.500 rpm dan torsi 12 Nm pada 5.000 rpm, bisa dirasakan kalau tenaga yang dimiliki GTS Super 150 i-Get lebih besar dan padat.


Karakternya, hempasan tenaga muncul ketika mendekati putaran menengah. Jadi saat start tenaga mesin terasa smooth, begitu menjejak mendekati putaran menengah mesinnya terasa responsif lalu kembali smooth di putaran atas.

  • Panel meternya termasuk simple untuk motor dengan harga Rp 58 juta

Asyiknya meski berkatup 4 dan punya bobot berat, GTS Super 150 i-Get terbaru ini bisa disimpulkan irit bahan bakar. Dengan metode full to full pada penggunaan sehari-hari di jalan-jalan kota Surabaya dengan menggunakan bensin pertamax, kami dapat meraih konsumsi bahan bakar rata-rata 35,4 km per liter. Gak jauh beda dengan skutik-skutik Jepangan berkapasitas mesin mirip.


Fitur Jempolan

  • Headlampnya full LED, sinarnya putih dengan sebaran pencahayaan yang melebar

  • Lampu belakang LED, desain klasik dengan sentuhan modern

GTS Super 150 i-Get layak dibilang canggih, pasalnya fitur yang diusung termasuk jempolan. Headlamp LED, nyalanya terang banget dengan sebaran sinar yang cenderung melebar menerangi permukaan jalan, Desainnya juga cakep karena tetap dapat mempertahankan nuansa klasik dan menyuntikkan teknologi modern di dalamnya.

  • Toolkit bawaan yang termasuk lengkap juga memberikan nilai plus

Ada fitur Start Stop System, yang akan mematikan mesin ketika motor ini idle sekitar 5 detik. Sistem starternya pun canggih, karena mengadopsi model Alternate Current Generator Starter yang halus tanpa suara. Sistem starter ini mendukung fitur Start Stop System.

  • Kuncinya dibekali dengan fitur pembuka jok dan bike finder untuk memudahkan menemukannya di lokasi parkir

Selain itu ada fitur Bike Finder, Saat tombol di remote ditekan, lampu sein akan berkedip sehingga memudahkan kita menemukannya di parkiran. Sayangnya tidak mengeluarkan suara, jadi kita harus memantaunya secara visual nyalan kedipan sein tadi.

  • Bagasi di bawah jok, cukup besar untuk menyimpan barang bawaan. Tapi ingat suhunya cukup panas!

Selain Bike Finder, pada remote tadi juga dibekali fitur seat opener. Jadi tak perlu memasukkan anak kunci untuk membuka bagasi. Cukup dengan menekan tombol di remote, jok pun membuka.

  • Ada soket USB yang dapat digunakan untuk melakukan pengisian ulang baterai gadget

Fitur lainnya yang kami rasakan fungsional adalah keberadaan soket USB di bagasi depan yang dapat digunakan untuk melakukan pengisian ulang baterei ponsel


Lebih OK Kalau..

Ada beberapa hal yang rasanya perlu jadi perhatian, pertama putaran gas pada unit tes kami terasa berat. Jika hanya dipakai sekitar 5-10 menit mungkin tidak mengganggu namun untuk digunakan sekitar 30 menit, pergelangan tangan hingga otot lengan akan terasa pegal.

  • Area bodi di depan kaki pengendara, rawan lecet terutama kalau punya kebiasaan meletakkan barang belanjaan di gantungan yang ada di situ

Kedua, akan lebih mantap apabila desain penampang dek mengadopsi keluarga Vespa LX atau S terbaru yang sedikit melekuk pada area dimana kaki menjulur untuk menapak ke permukaan jalan. Terlebih penampang lantai di GTS lebar banget sehingga akan memudahkan pengendara menapakkan kakinya di atas permukaan jalan.

  • Posisi footstep akan lebih ergonomis untuk pembonceng dan tidak mengganggu kaki pengendara jika posisinya lebih ke belakang

  • Footstep model foldable. Mekanismenya pintar tapi posisinya perlu disesuaikan dengan panjang kaki rata-rata orang Asia

Ketiga, letak footstep pembonceng. Saat footstep itu digunakan, ujung kaki pembonceng sudah pasti akan mengenai betis pengendara. Selain mengganggu juga mengotori celana, terlebih di musim hujan seperti saat ini.

  • Sok belakang ganda dengan 4 setelah kekerasan. Karakter redamannya lembut, nyaman untuk boncengan. Kelebihan ini sedikit menutupi kekurangan jok yang kurang empuk

Keempat desain jok baru lebih baik dari sebelumnya. Namun untuk pembonceng di mana paha bertumpu terasa terlalu lebar, pembonceng jadi terlalu ngangkang sehingga kurang nyaman untuk jalan jauh. Selain itu seperti sudah disinggung di atas, material busa jok kurang empuk.

  • Rem belakang menggunakan cakram+ABS. Pakem banget! Sayang belum ada fitur park brake lock

Kelima, untuk motor dengan bobot 160 kilogram rasanya fitur park brake lock dibutuhkan. Fitur ini akan sangat membantu saat berhenti di tanjakan atau turunan karena tak harus terus menerus menarik tuas rem.

Naskah & Foto: Nugroho Sakri Yunarto