• Editor

Dahlan Iskan Bercerita Tentang Tesla, dan Rasa Marah Seharga Rp4 Miliar

Dahlan Iskan di acara Talkshow Grand Opening Perfection Auto Gallery, authorized dealer Tesla di Surabaya.

Doorstop interview bersama Dahlan Iskan setelah prosesi grand opening Perfection Auto Gallery dan unveiling Tesla Model 3


OTOPLUS-ONLINE I Ada yang menarik pada grand opening Perfection Auto Gallery, authorized dealer Tesla, brand mobil listrik asal Amerika Serikat, sekaligus showroom yang khusus memasarkan supercar di Surabaya pada Sabtu, 11 Desember 2021 kemarin.


Tampak di antara tamu undangan, turut hadir Dahlan lskan, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang 'mati-matian' mendukung program mobil nasional berpenggerak listrik, dan bahkan pernah mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil listrik di kawasan Tawangmangu, Jawa Timur pada tanggal 5 Januari 2013

Acara grand opening Perfection Auto Gallery dibuka oleh Roy Adidharma selaku pemilik tunggal


Menariknya, Dahlan Iskan yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama PLN pada akhir 2009 ini juga bisa dibilang sebagai orang Indonesia pertama yang membeli Tesla hampir 5 tahun lalu, dan memilikinya sampai sekarang.

Para tamu undangan Richard Muljadi selaku perwakilan Prestige Motorcars Jakarta, Melvin Tenggara sebagai influencer dan kolektor mobil mewah, juga tak ketinggalan Prof. Dr. (H.C.) Dahlan lskan selaku tokoh masyarakat Surabaya.


Pada sesi talkshow di sela grand opening Perfection Auto Gallery lalu pun OTOPLUS-ONLINE berkesempatan menanyakan, apa yang menjadi alasan Dahlan Iskan membeli Tesla waktu itu, dan sekaligus memintanya berbagi pengalaman selama memiliki Tesla.


"Waktu itu saya membeli Tesla (Model S) 5 tahun yang lalu karena marah. Padahal harganya waktu itu Rp4 miliar. Jadi kira-kira itu gambaran, berapa harga rasa marah saya waktu itu," senyum Dahlan Iskan menjawab pertanyaan OTOPLUS-ONLINE.


Abah, sapaan Dahlan Iskan menambahkan, "Waktu itu saya marah, kenapa banyak orang (di Indonesia) yang tidak percaya dengan mobil listrik."

Dahlan Iskan sebagai salah satu pembicara pada sesi talkshow


Sayang, Abah enggan berkomentar tentang program pemerintah saat ini terkait mobil listrik dengan alasan tidak lagi berada di Pemerintahan.


Namun Abah mengaku sangat banyak sekali pertanyaan yang diterimanya terkait mobil listrik. "Paling banyak pertanyaan, kalau rusak bagaimana? Saya sendiri bingung, rusak apanya? Kan mobil listrik nggak ada mesinnya," tutur Abah.


Kemudian pertanyaan lain yang banyak diterimanya, baterai habis bagaimana? Untuk menjawab pertanyaan ini Abah mengisahkan pengalamannya mengendarai Tesla miliknya.


Abah mengaku, awalnya tidak tahu sama sekali, seperti apa teknologi Tesla Model S yang dibelinya. Tapi ia nekat memakai mobil itu pertama kali ke Batu - Malang.

Simbolis opening Perfection Auto Gallery ditandai dengan pemindaian (scanning) para tamu undangan


"Terus terang waktu itu saya tidak tahu teknologinya seperti apa. Tapi saya coba saja ke Batu. Perkara nanti baterainya habis di jalan, ya nggak apa-apa," kenang Abah.


Sesampainya di Batu, Abah mengatakan kapasitas baterai tinggal 40%. "Dari situ saya mulai deg-degan. Sebab saya punya pemikiran perjalanan Surabaya-Batu menghabiskan baterai sebanyak 60%. Pulangnya pasti nggak sampai."

Unveiling produk Tesla Model 3 standard range yang dipasarkan Perfection Auto Gallery.


Terdorong keinginannya mengeksplor mobil listriknya, Abah pun nekat memakai mobil itu kembali ke Surabaya.

"Ternyata dari Batu ke Lawang justru baterai nambah menjadi 42%, dan tetap segitu ketika sampai ke Pandaan. Bahkan ketika sampai di rumah pun, baterai masih 32%."

Tesla Model 3 standard range dipasarkan seharga Rp 1,5 Miliar untuk area Surabaya


Dari sini, Abah mengaku banyak belajar mengenai teknologi mobil listrik. "Memang ketika perjalanan Surabaya-Batu yang rutenya menanjak terus, pemakaian listrik jadi lebih banyak. Tapi begitu rute perjalanan Batu-Surabaya yang menurun, baterai justru secara otomatis ngisi."


Beda lagi dengan pengalaman perjalanan Surabaya-Magetan yang medannya datar. "Pengalaman saya, perilaku berkendara kita yang menentukan boros tidaknya konsumsi listriknya. Karena waktu itu saya dikejar waktu gara-gara jadwal rapat dimajukan, terpaksa saya harus menempuh jarak Surabaya-Magetan salam 1,5 jam lewat jalan tol."

Sesi First Tesla Driving Experience oleh para tamu undangan termasuk Dahlan Iskan


"Sampai di sana memang listrik habis banyak karena banyak melakukan zig-zag drastis dan ngebut mendadak. Jadi kesimpulan saya, kita harus memperhatikan cara mengemudi kita, sekaligus harus tahu akan menghabiskan berapa watt," pungkasnya.


Baca juga: Tesla Hadir di Surabaya, Bisa Didapatkan di Perfection Auto Gallery


Teks dan Foto: Indramawan