Driving Experience Jaecoo J7 SHS: SUV PHEV yang Kencang, Irit, Tapi Agak “Overthinking”

Jaecoo J7 SHS mengusung Super Hybrid System, yaitu SUV Plug-in Hybrid (PHEV) yang memadukan mesin bensin 1.5L turbo dengan motor listrik. Seperti apa rasa di balik kemudinya?

OTOPLUS-ONLINE I Kalau kamu lagi cari SUV yang bisa dipakai gawe tanpa mampir SPBU, tapi tetap bisa diajak liburan jauh, Jaecoo J7 SHS layak masuk daftar. Jaecoo J7 SHS ditawarkan dengan harga OTR Rp510.400.000 (Surabaya).
Mobil ini mengusung Super Hybrid System, yaitu SUV Plug-in Hybrid (PHEV) yang memadukan mesin bensin 1.5L turbo dengan motor listrik. Di atas kertas, kombinasinya menjanjikan. Tapi seperti apa rasa di balik kemudinya?

Begitu pintu terbuka, kamu langsung disambut kabin yang terasa premium. Layar sentuh tengah 14,8 inci terpampang lebar, responsif, dan bikin dashboard terlihat modern. Di atas kepala ada panoramic sunroof sepanjang 1,1 meter yang bikin kabin terasa lega dan terang. Buat kamu yang suka foto-foto interior buat feed, spot ini jelas fotogenik.

Soal kenyamanan, J7 SHS nggak pelit fitur. Ada ventilated seats alias kursi pendingin yang jadi penyelamat di tengah macet siang bolong. Ada juga wireless fast charging 50W dengan ventilasi pendingin, jadi HP kamu nggak gampang panas saat ngecas sambil buka maps. Hiburan di perjalanan dijaga sistem audio Sony 8 speaker. Playlist road trip kamu dijamin lebih hidup.

Sekarang masuk ke bagian yang paling ditunggu: performa. Gabungan mesin 1.5L turbo dan motor listrik menghasilkan tenaga sekitar 301 DK dengan torsi besar 525 Nm. Hasilnya, dari pengetesan kami akselerasi 0–100 km/jam bisa dicapai dalam 7,5 detik. Untuk SUV sebesar ini, angka itu bikin tarikannya terasa enteng dan responsif, entah buat nyalip truk di tol atau sekadar keluar dari antrean meski hanya mengandalkan gerak roda depan (FWD).
Sebagai informasi selain J7 SHS FWD, Jaecoo juga menghadirkan varian AWD dengan mesin bensin 1.6 liter TGDI bertenaga 183 DK dan torsi 275 Nm tanpa support motor listrik (SHS). Harganya Rp560.400.000 (OTR Surabaya) In this economy, varian SHS menurut kami lebih menarik karena selain lebih terjangkau juga lebih irit BBM.

Salah satu daya tarik terbesarnya adalah mode EV murni. Dengan baterai 18,3 kWh, J7 SHS bisa melaju hanya dengan tenaga listrik sejauh 90 sampai 106 km. Buat pemakaian harian di kota, itu artinya kamu bisa pulang-pergi kantor tanpa menyalakan mesin bensin sama sekali. Senyap, halus, dan dompet pun lebih tenang.

Pas butuh perjalanan jauh, giliran tangki bensin yang ambil peran. Kombinasi tangki penuh dan baterai terisi bisa mengantar kamu lebih dari 1.300 km. Jadi, range anxiety yang sering jadi momok mobil listrik murni hampir nggak relevan di sini. Weekend ke luar kota? Santai, nggak perlu pusing mikirin lokasi charger.

Ada satu fitur yang bikin mobil ini terasa seperti “power bank raksasa”, yaitu V2L (Vehicle-to-Load) dengan daya keluar 3,3 kW. Buat yang hobi camping, kamu bisa colok perangkat elektronik langsung dari mobil, mulai dari lampu, kipas, sampai laptop. Dalam kondisi darurat, fitur ini juga bisa berfungsi layaknya genset mini. Praktis banget, kan?

Dari sisi keselamatan, J7 SHS dibekali hingga 19 fitur ADAS, 8 airbag, dan struktur bodi high strength steel. Tapi ada catatan di sini. Adaptive Cruise Control-nya dinilai cukup agresif saat menyesuaikan kecepatan, jadi kamu perlu waktu untuk membiasakan diri. Alat pemadam api ringan (APAR) di unit tes kami ini masih tipe ABC powder yang kurang optimal untuk risiko kebakaran baterai lithium. Semoga di batch selanjutnya ada improvement. Kalau kamu cukup teliti, upgrade APAR bisa jadi PR kecil yang worth it.
Nah, sekarang bagian “sisi lain” yang perlu kamu tahu. Banyak pengaturan penting, seperti AC, defogger, pelipat spion, tombol penutup bagasi, dan sunroof, harus diakses lewat layar sentuh. Selama layarnya responsif dan tangan bersih, aman-aman saja. Tapi kalau tangan lagi kotor atau layar lagi lemot, ini bisa bikin kesal. Kami prefer tombol fisik harus ada karena kadang lebih bersahabat.

Mobil ini juga punya sisi yang terlalu “pintar” atau istilah orang jawa, keminter. Keyless entry-nya otomatis membuka atau mengunci pintu saat kamu mendekat atau menjauh, dan itu bisa mengganggu saat kamu lagi mencuci mobil. Tips simpelnya: jangan bawa kunci kalau mau cuci mobil. Electric Parking Brake (EPB) juga bisa otomatis menahan mobil kalau kamu lupa pakai sabuk pengaman, padahal hanya mau memasukkan mobil ke carport atau garasi. Sementara untuk mematikannya harus lewat menu. Niatnya baik, tapi kadang terasa overthinking.

Untuk urusan visibilitas dan ergonomi, ada beberapa catatan. Jendela belakang yang kecil bikin pandangan ke belakang kurang optimal, dan spion tengahnya punya sudut pandang yang terlalu lebar.

Window lock dan child lock ada di infotainment screen tanpa sakelar mekanik terpisah.

Bagasi sekitar 340 liter tergolong relatif kecil untuk ukuran SUV di kelasnya, jadi atur-atur barang bawaan dengan bijak. Untungnya ada roof rail yang fungsional, bukan sekadar pajangan, plus hands-free power tailgate untuk memudahkan saat tangan penuh belanjaan.

Jadi, kesimpulannya: Jaecoo J7 SHS menawarkan performa kenceng, efisiensi tinggi, dan fitur premium yang jarang ada di kelasnya, dengan beberapa kekurangan yang perlu kamu pertimbangkan.
Kalau kamu siap beradaptasi dengan kuirk-nya dan nyaman dengan merek baru, ini bisa jadi teman perjalanan yang seru.
Di kelasnya, Jaecoo J7 SHS bersaing dengan Geely Starray, Wuling Eksion PHEV, Jetour T1i-DM/T2i-DM. Sebelum memutuskan, saran kami test drive dulu deh.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto



