Test Drive Jaecoo J5 EV, Mobil Listrik Terlaris di Indonesia: Performa Impresif, Tapi Hati-Hati dengan Karakter Berkendaranya
- Editor

- 1 hari yang lalu
- 6 menit membaca
Gerakan setir tipe Rack & Pinion dengan Electronic Power Steering pada Jaecoo J5 EV memang enteng, tapi tidak terlalu komunikatif ketika dipacu pada kecepatan tinggi.

OTOPLUS-ONLINE I Jaecoo J5 EV resmi diperkenalkan di Indonesia pada 3 November 2025 menyusul kemunculan Jaecoo J7 SHS (Februari 2025) dan J8 SHS (Juli 2025).
Dibanderol dengan harga perkenalan Rp279.900.000 (Standard) dan Rp309.900.000 (Premium) electric SUV ini langsung laris manis. Konsumen bahkan rela inden sampai 3 bulan lamanya.
Hasilnya, selama semester I (Januari-Juni) 2026 J5 EV mencatatkan angka penjualan ritel yang sangat impresif, 16.990 unit, menjadikannya salah satu mobil listrik terlaris di pasar Indonesia.
Sebagai informasi, pada bulan Juni, Jaecoo J5 EV terjual sebanyak 3.041 unit. Tak berselisih jauh dengan angka penjualan Toyota Kijang Innova Zenix yang 3.294 unit.
Di Surabaya, Jaecoo J5 EV dipasarkan dengan harga OTR Rp (Juli 2026)
Selain harga, ada beberapa faktor spesifik lain yang membuat mobil listrik asal Anhui, Tiongkok ini mendominasi pasar Indonesia. Apakah sajakah itu?
Racikan Desainer Mercy

Chris Rhoades, desainer utama di balik mobil Jaecoo (termasuk lini Jaecoo J5 EV) adalah mantan desainer Mercedes-Benz yang mengepalai departemen desain untuk merek Jaecoo/Chery.
Diakui atau tidak, saat mendesain J5 EV, tim desain Chris agaknya terinspirasi desain Range Rover Evoque dan Range Rover Sport.

Itu terlihat dari garis bodi yang tegas, atap mengambang (floating roof), hingga pilar yang dihitamkan membuatnya sekilas terlihat seperti versi kompak dari SUV mewah asal Inggris tersebut.
Dimensi panjangnya, 4.380 mm, lebar 1.860 mm, dan tinggi 1.650 mm. Sementara jarak sumbu roda 2.620 mm. Komposisi ini ideal untuk jalanan di Indonesia.
Apalagi SUV listrik 5-seater ini memiliki ground clearance setinggi 200 mm yang memungkinkannya menjelajah medan offroad ringan atau melibas genangan air.
Jaecoo J5 EV diklaim memiliki kemampuan wading depth (kemampuan menerobos genangan air) hingga 450 mm. Kapasitas ini sangat memadai untuk membantu SUV listrik ini melewati genangan air di jalanan perkotaan maupun saat melakukan perjalanan semi off-road.
Value for Money

Jaecoo J5 EV sejatinya bermain di kategori B-Segment Compact Electric SUV berkapasitas 5 penumpang. Kompetitor J5 EV di segmen ini di antaranya BYD Atto 3, GAC Aion V, Omoda E5 dan Geely EX5 yang rata-rata dipasarkan pada kisaran Rp400-500 jutaan. Sementara Jaecoo J5 EV ditawarkan āhanyaā Rp300 jutaan.

Dengan kisaran harga 300 jutaan, Jaecoo J5 EV sudah memberikan kenyamanan kabin dan menyodorkan fitur yang biasanya hanya ditawarkan pada mobil-mobil premium.

Di varian Standard yang dipasarkan dengan harga OTR Rp282.500.000 (Surabaya) meski belum dibekali panoramic sunroof, dan fitur ADAS tapi untuk keamanan sudah dilengkapi 6 airbag dan tentunya ABS, EBD serta Traction Control.
Walau belum dilengkapi setelan elektrik, joknya berlapis artificial leather yang nyaman diduduki.
Sebagai pusat informasi, kontrol dan hiburan ada head unit 9 inci yang sudah mendukung konektivitas smartphone secara nirkabel lewat aplikasi Android Auto dan Apple Carplay serta bisa menjalankan perintah suara. Kekurangan vital varian ini ada pada spikernya yang hanya ada sepasang.
Untuk varian Premium yang harganya Rp 322.500.000 (OTR Surabaya) fitur seperti panoramic sunroof, infotainment touchscreen 13,2 inci, electric & ventilated seats, sistem audio premium 8 spiker, ambient light 64 warna dan ADAS dengan 17 fitur keselamatan jadi bawaannya.
Menjawab tingginya permintaan, Chery Sales Indonesia bahkan sampai melakukan perakitan di dua pabrik, Handal Indonesia Motor (Purwakarta) dan Inchcape Indonesia (Bogor).
Kepraktisan Sebuah MPV

Kedemenan masyarakat Indonesia yang membutuhkan kendaraan untuk mengakomodir banyak kebutuhan juga dijawab J5 EV. Meski sosoknya SUV tapi ia sanggup menawarkan kelegaan dan kepraktisan sebuah MPV.

Bagasinya pun besar. Pada mode default, kapasitas bagasinya 480 liter akan jadi 1.180 liter dengan melipat jok baris kedua.
Belum cukup? Masih ada lagi frunk berkapasitas 35 liter yang muat dijejali buah beraroma kuat seperti durian atau pakaian basah dan 35 kompartemen penyimpanan yang tersebar di sekeliling kabin. Sangat akomodatif dan praktis untuk sebuah SUV.
Biaya Operasional Rendah

Jaecoo J5 EV menggunakan baterai Litihium Iron Phospate (LFP) 60,9 kWh yang diklaim sanggup menempuh jarak hingga 461 kilometer dalam sekali pengisian daya (NEDC).
Dengan asumsi pengisian dilakukan di SPKLU yang tarif per kWh-nya Rp2.600 maka hanya dibutuhkan Rp158.340 untuk jarak 461 kilometer atau Rp343/km.
Jika pengisian daya dilakukan di rumah yang tarif listriknya sekitar Rp1.700/kWh maka biayanya bisa terpangkas jadi Rp103.530 atau Rp225/km.
Dengan biaya harian yang sangat murah, menjadikannya sebagai pilihan rasional untuk mobilitas perkotaan.
Performa Impresif

Jaecoo J5 EV dibekali motor listrik tunggal Permanent Magnet Synchronous Motor beroutput 155 kW atau 207 DK dan torsi maksimum 288 Nm sebagai penggerak.

Output sebesar itu lantas diumpan ke roda depan lewat perantara single-speed reduction gear transmission.
Akselerasi 0-100 km/jam dapat dientaskan hanya dalam 7,3 detik, impresif jika dibandingkan dengan mobil internal combustion engine (ICE) namun jamak buat sebuah mobil listrik di segmennya. BYD Atto 3 atau MG4 EV juga menorehkan capaian waktu serupa.
Karakter Berkendara

Kombinasi jarak sumbu roda 2.620 mm, lebar tapak roda (wheel tread) depan 1.580 mm dan belakang 1.590 mm serta ban 235/55R18 memberikan keseimbangan antara stabilitas saat bermanuver di kecepatan tinggi dan peredaman yang mantap di berbagai kontur jalan.

Catatan kami, gerakan setir tipe Rack & Pinion dengan Electronic Power Steering memang enteng, cocok untuk bermanuver di jalanan perkotaan tapi terasa kurang natural, dan meski cukup presisi tapi tidak terlalu komunikatif ketika dipacu pada kecepatan tinggi.

Karakter kemudi seperti ini memang bukan diciptakan untuk enthusiast driver tapi ideal untuk kebanyakan karakter pengemudi harian.
Fitur Keselamatan Super Lengkap

Untuk mobil dengan harga Rp300 jutaan kecil, fitur keselamatan dan ADAS yang diboyong Jaecoo J5 EV tergolong advance. Selain sistem keamanan pasif seperti struktur bodi High-Strength Steel dengan front impact beams dan side impact beams (dirancang untuk menyerap dan meminimalkan energi tubrukan agar tidak masuk ke kabin), 6 airbag, sabuk pengaman dengan pretensioner dan ISOFIX Child Seat Mounts, J5 EV juga dibekali sistem keselamatan aktif ADAS level 2+.
Ada 17 fitur ADAS yang dimiliki mencakup Adaptive Cruise Control (ACC), Traffic Jam Assist (TJA), Autonomous Emergency Braking (AEB), Forward Collision Warning (FCW), Lane Keeping Assist (LKA), Lane Departure Warning (LDW), Blind Spot Detection (BSD), Rear Cross Traffic Alert (RCTA), Rear Cross Traffic Braking (RCTB), Door Open Warning (DOW), Emergency Lane Keeping (ELK), Intelligent High Control (IHC), Speed Assistance System (SAS), Front Departure Alert (FDA), Integrated Cruise Assist (ICA), Cornering Cruise Control (CCC), Emergency Direction/Warning.
Point for Improvement

Walau begitu, Jaecoo J5 EV ada beberapa poin yang jadi perhatian kami. Sistem pengereman regeneratif misalnya. Untuk beberapa orang, di mode high sistem regenerative dirasa terlalu agresif sehingga membuat mobil terdeselerasi mendadak dan berpotensi memicu mual buat penumpang.
Masalahnya, untuk menyetel kekuatan pengereman regeneratifnya (low-medium-high) harus diakses melalui infotainment screen.
Selanjutnya fitur ADAS yang terlalu sensitif khususnya AEB. OTOPLUS ONLINE memilih untuk tidak mengaktifkan Autonomous Emergency Braking (AEB) yang bisa menjadi terlalu sensitif dan justru berpotensi membahayakan di jalanan yang sangat padat seperti saat jam pulang kerja.
Poin berikutnya sudut kemiringan jok belakang. Sudut kemiringan jok belakang Jaecoo J5 EV dipatok 103 derajat. Kendalanya kemiringan jok belakang fix tak bisa direbahkan. Meski ini dalam toleransi rentang 100-110 derajat baku standar keamanan dan kenyamanan ideal dan standar kenyamanan untuk penumpang belakang agar tulang belakang tidak tegang namun angka 103 derajat masih terlalu tegak.
Menurut OTOPLUS ONLINE dengan dibuat sedikit lebih rebah akan lebih baik dan nyaman untuk perjalanan jauh.

Pengembangan sebaiknya segera diterapkan pada sistem infotainment yang nge-lag. Layar sentuh kadang lambat merespon. Saat menghubungkan ke aplikasi Android Auto, beberapa tampilan pengaturan tertutup. Selain itu, fitur pelacak sinyal radio otomatisnya kurang sensitif sehingga beberapa stasiun radio terlewati.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto




Komentar