• Editor

Fakta Quartararo Gunakan Ban Bekas Pakai Untuk Menangkan MotoGP Andalucia


Seri ke-2 MotoGP Andalucia tercatat sebagai salah satu seri MotoGP yang digelar dalam kondisi udara paling panas dalam sejarah,

Banyak fakta menarik terjadi di sirkuit Jerez tempat berlangsungnya seri ke-2 MotoGP Andalucia hari ini (26/7). Pertama adalah mundurnya Marc Marquez setelah merasakan ada yang tidak beres pada lengan kanan pasca operasi beberapa hari sebelumnya.

Marc Marquez putuskan untuk mundur dari MotoGP Andalucia, karena alami masalah pada cedera lengan kanannya.


Kedua, munculnya peluang bagi duo Yamaha, Maverick Vinales dan Fabio Quartararo untuk memanfaatkan moment absennya Marquez ini dalam upaya perburuan podium tertinggi sekaligus pengumpulan poin sebanyak-banyaknya, sebagai modal merebut gelar juara dunia.

Dengan kondisi balap yang penuh dengan faktor X ini, maka pembalap tak diunggulkan seperti Johann Zarco, Francesco Bagnaia, atau Miguel Oliveira, berpeluang mencuri podium sebagaimana terlihat dari hasil kualifikasi.


Ketiga, munculnya peluang bagi banyak pembalap yang tak diunggulkan, untuk naik minimal podium ketiga . Sebut saja Francesco Bagnaia (Ducati Pramac Racing) yang start dari posisi ke-3, Miguel Oliveira (Red Bull KTM Tech 3) start ke-5, Franco Morbidelli (Petronas Yamaha SRT) start ke-6, dan masih banyak lagi.

Strategi pemilihan ban menjadi sangat krusial pada kondisi balap dengan suhu ekstrem seperti ini.


Keempat, seri ke-2 ini tercatat sebagai salah satu seri MotoGP yang digelar dalam kondisi udara paling panas dalam sejarah, bahkan lebih panas dari seri sebelumnya yang juga digelar di sirkuit Jerez. Pihak Michelin selaku supplier tunggal ban MotoGP mengatakan, temperatur trek adalah 57 derajat celcius. Lebih panas dari minggu lalu, yakni 53 derajat celcius. Bahkan official MotoGP mengatakan, suhu trek lintasan tembus 59 derajat celcius, sementara suhu udara mencapai 36 derajat celcius. Bagi ukuran orang Eropa suhu udara seperti ini terbilang sangat ekstrem!

Iker Lecuona sempat putuskan tidak meneruskan balap meski hanya tersisa 5 lap ketika seri 1 berlangsung di Jerez minggu lalu, kemungkinan karena dehidrasi.


Pada seri 1 kemarin, Iker Lecuona, pembalap rookie tim Tech3 KTM terpaksa memutuskan tidak menyelesaikan balap meskipun tinggal 5 lap saja, karena mengaku kepalanya tiba-tiba pusing terpapar matahari.

Pembalap rame-rame meninggalkan grid start dan memilih untuk berteduh menghindari sengatan matahari.


Dan itulah kenapa, kalau Anda lihat di siaran TV, kondisi ini menjelaskan, setelah berada di grid atau tempat start, banyak pembalap yang kemudian memutuskan masuk kembali ke pit, untuk berteduh dari sengatan matahari. Bahkan pembalap Ducati, Danilo Petrucci tampak di grid memegang kipas angin kecil yang diarahkan ke mukanya.

Quartararo telah memikirkan strategi ban ini sejak seri 1 di Jerez, untuk mengalahkan Marquez. Lantas bagaimana strateginya di Andalucia ini?


Fakta kelima, kondisi panas seperti ini tak hanya menjadi siksaan bagi pembalap tapi juga ban belakang yang diperkirakan akan mencapai kondisi kritis pada lap ke-17 – 20 dari 25 lap yang dipertandingkan. Dari data yang ada, semua pembalap di grid memilih menggunakan ban belakang kompon lunak, dan ban depan kompon keras. Hanya Alex Rins yang agak nyeleneh karena memakai ban kompon lunak depan dan belakang.

Official MotoGP melaporkan suhu trek lintasan tembus 59 derajat celcius, sementara suhu udara mencapai 36 derajat celcius.


Nah, 5 fakta ini turut menentukan hasil balapan di MotoGP Andalucia ini. Begitu lampu merah dipadamkan, tanda balap dimulai, Quartararo yang start dari posisi terdepan langsung membesut motornya kencang-kencang, untuk segera membuat jarak dengan pembalap di belakangnya. Baru setelah itu, dia akan mengatur pemakaian bannya agar tahan sampai finish, sesuai strategi yang dipakainya.

Quartararo langsung lepas tanpa ada pembalap yang mampu membendungnya sejak start.


Ini adalah strategi yang coba Quartararo mainkan di seri 1 MotoGP Jerez minggu lalu, namun digagalkan oleh Marc Marquez. Nah dengan absennya Marquez, tak ada lagi penghalang bagi pembalap 21 tahun asal Prancis itu.

Harusnya, satu-satunya pembalap yang mampu membuyarkan strategi Quartararo ini adalah Maverick Vinales. Namun pembalap dengan nomor start 12 yang start di posisi ke-2 ini melakukan kesalahan ketika terlalu buru-buru coba melewati Quartararo di akhir lap pertama. Karena kondisi ban belum mencapai suhu kerja ideal, Vinales pun melebar sehingga Rossi langsung masuk dan mengambil alih posisi ke-2 ini.

"Di belakang motor Rossi, saya hampir tidak bisa bernafas karena panas. Saya benar-benar menyerah dibuatnya" (Maverick Vinales)

Naas bagi Vinales, karena laju motor Rossi terbukti tak mampu menyamai Quartararo yang terus memperlebar jarak, bahkan terkesan melambat. Akibatnya deretan pembalap yang berada di belakang pun mulai mendekat. Ini memberi pekerjaan baru bagi Vinales yang dituntut mampu menyerang Rossi, sekaligus menahan gempuran pembalap-pembalap di belakangnya.

Vinales coba menyerang Rossi sekaligus menahan gempuran pembalap di belakangnya.


Ini membuat Vinales kerja ekstra keras, termasuk ban yang jadi cepat hancur. Puncaknya ketika balap hanya menyisakan 15 lap lagi. Vinales berhasil dilewati Jack Miller dan Morbidelli di tikungan, hingga posisinya turun ke urutan ke-6.


Meski demikian dewi fortuna masih berpihak ke Vinales kali ini. Tanpa bersusah payah, dua pembalap di depannya ini mengalami masalah pada lap-lap berikutnya. Miller tersungkur, dan motor Morbidelli alami jebol mesin. Padahal saat itu dia berada di posisi ke-4.

Masalah yang terjadi pada GP20 besutan Bagnaia akan diselidiki oleh Ducati.


Tak lama kemudian, motor Bagnaia tampak mengeluarkan asap. Padahal dia sudah berhasil mengambil posisi ke-2 dari Rossi, yang tampaknya mulai bermasalah dengan ban.

Vinales terus melancarkan serangan ke Rossi hingga lap terakhir.


Dengan hasil ini, maka posisi 1-3 dihuni pembalap Yamaha. Quartararo tetap tak tersentuh di depan, diikuti Rossi dan Vinales. Kondisi ini bertahan hingga 3 lap terakhir. Beberapa kali Vinales melakukan serangan, namun berhasil dipatahkan oleh Rossi.

Rossi mulai alami masalah pada roda depan, dan kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Vinales

1 lap sebelum finish.


Sampai akhirnya ketika balap hanya menyisakan 1 putaran saja. Rossi yang terlihat mengalami masalah pada sektor depan motornya terpaksa harus menyerah dari gempuran Vinales yang akhirnya berhasil finish di posisi ke-2 diikuti Rossi ke-3.

"Merebut podium setelah balap yang berlangsung sengit dengan suhu trek 60 derajat bagi saya artinya, kami siap menghadapi seri berikutnya di Brno." (Valentino Rossi)

Sementara itu, di parc ferme atau tempat pembalap memarkir motornya usai balap, Quartararo yang berhasil merebut podium pertama keduanya secara berturut-turut mengungkap keberhasilan strategi yang dia lakukan terkait ban, seperti yang OTOPLUS-ONLINE kutip dari official website motogp.com.

“Biasanya kami selalu memakai ban baru saat di garis start. Tapi hari ini, kami putuskan bersama Yamaha, untuk memakai ban yang sudah kami pakai 3 lap saat warm up. Hasilnya saya cukup senang karena berhasil melaju kencang begitu balap dimulai, dan bisa langsung memperlebar jarak dengan pembalap di belakang." (Fabio Quartararo)

Dan aplaus buat Quartararo! Dengan keberhasilan ini, pembalap 21 tahun ini tercatat sebagai rider termuda kedua yang berhasil menang dua kali berturut-turut di jerez dan Andalucia setelah Marc Marquez. Selain itu, pembalap peraih gelar Rookie of the Year 2019 ini juga menjadi pembalap Prancis paling sukses dalam sejarah MotoGP.


Teks: Indramawan

Foto: motogp.com