Hasil Test Ride 5 Hari Vespa Primavera 180: Maaf Ini Skuter Lifestyle, Bukan untuk Balapan!

OTOPLUS-ONLINE melakukan test ride Vespa Primavera 180 selama 5 hari, dari city riding sampai inter city untuk mendapat pengalaman berkendara yang utuh. Simak hasilnya...

OTOPLUS-ONLINE I Vespa Primavera 180 resmi meluncur pada 16 Maret 2026 dengan sejumlah upgrade dari generasi sebelumnya. Biar dapat pengalaman yang utuh, OTOPLUS-ONLINE mengajaknya jalan-jalan selama 5 hari, dari city riding sampai inter city.
Di Surabaya, Satya Mandiri Motors selaku authorized dealer Piaggio Group membanderolnya Rp59.800.000 OTR untuk versi Standar dan Rp63.800.000 untuk varian S.
Yuk let's ride...

Hal pertama yang bikin perbedaan ada di dapur pacu. Mesinnya sekarang 180 cc i-get, naik dari 150 cc sebelumnya. Tenaganya 11 kW (sekitar 14,7 HP) dengan torsi 13,7 Nm, naik sekitar 24% dari generasi lama yang cuma 8,9 kW. Hasilnya, tarikan bawah-menengah terasa lebih padat dan responsif.
Buat kamu yang tiap hari berhadapan dengan stop-and-go perkotaan, Primavera 180 jadi lebih sigap dan lincah. Tapi jangan salah paham dulu: ini skuter lifestyle yang mengutamakan kenyamanan, bukan skuter performance.
Ketika kami coba saat melintas ruas Surabaya-Lamongan yang lengang dengan berboncengan, top speed-nya mentok di 102 km/jam. Santai aja, bestie, bukan buat balapan.

Soal tampilan, jelas ini jagoannya. DNA klasik Vespa tetap dipertahankan lewat lampu depan bulat, spion bulat, dan aksen krom yang dominan, plus crest mudguard eksklusif. Garis bodinya mendapat sentuhan baru yang lebih tegas di spatbor depan.
Pilihan warna Standar ada Beige Avvolgente, Green Amabile, dan White Innocente. Varian S hadir dengan Yellow Disivolto, Blue Capri, dan White Innocente, lengkap dengan jok dan dek cokelat serta pelek bronze. Dipakai nongkrong di kafe atau sekadar city ride, tampilannya tetap kelihatan premium dan sangat Instagramable. Build quality-nya juga khas Piaggio: solid dan kokoh.

Fiturnya pun sudah cukup modern. Lampu utama, lampu kota, dan sein sudah LED, dasbornya LCD dengan konektivitas smartphone via Vespa MIA (varian S), dan pengeremannya sudah dibekali ABS. Smart key hanya ada di Primavera S 180, sementara versi Standar masih pakai kunci konvensional dengan immobilizer. Jadi kalau gaya keyless penting buat kamu, siapkan budget lebih.

Sekarang soal posisi berkendara. Dengan jok setinggi 790 mm sebagai perbandingan Honda Vario EVO 160 punya 778 mm, posisi duduknya rileks khas skuter Italia dan cocok buat riding santai. Tapi buat yang biasa pakai skutik Jepang, segitiga berkendaranya butuh adaptasi. Jarak jok ke dek terasa nanggung, pendek enggak, tinggi juga enggak, dan setangnya terasa lebih lebar dengan sudut yang nggak biasa.
Soal manuver, nggak ada drama. Bodinya kompak (panjang 1.870 mm, lebar 735 mm, wheelbase 1.340 mm) dan ban tapak lebar 110/70-12 depan serta 120/70-12 belakang. Tapak lebar bikin handling-nya mantap sementara diameter roda kecil membuatnya tetap lincah buat nyelip di jalanan kota.

Nah, ini bagian yang perlu dibaca sebelum mengajak gebetan atau pasangan. Kenyamanan penumpang belakang sering dikeluhkan. Joknya lebar banget sehingga pembonceng terpaksa mengangkang, permukaannya datar sehingga yang bertubuh mungil gampang merosot ke belakang saat akselerasi, dan jarak pijakan kakinya kurang ergonomis. Hasilnya melelahkan kalau jalan jauh. Jadi buat boncengers, siap-siap pegangan dan sabar ya.
Beberapa kekurangan lain juga perlu dicatat. Mesin sudah 180 cc tapi masih pakai kipas pendingin konvensional, bukan radiator. Bagasinya 23 liter, lebih dari cukup buat helm open face dan perlengkapan harian, tapi jangan taruh smartphone atau barang elektronik di dalamnya karena suhunya bisa sangat panas.
Anehnya, kapasitas tangki malah dipangkas dari 8 liter jadi 7,5 liter. Apakah lebih irit? Gak juga. Hasil tes kami dengan Pertamax (RON 92) di dalam kota adalah 33-36 km/liter, jadi jarak tempuh maksimalnya sekitar 247,5-270 km dengan tangki penuh.

Lalu suspensi depan single sided arm memang estetik dan praktis saat ganti ban, tapi kestabilannya tidak sebaik skutik dengan fork ganda, jadi lebih hati-hati di jalan berlubang atau bergelombang. Ground clearance juga perlu diperhatikan karena bonggol standar tengah acap gasruk saat melewati polisi tidur, meski mesinnya aman.
Terakhir, ngomongin dompet. Harga belinya relatif mahal dan di atas rata-rata skutik kelas menengah. Dibanding skutik Jepang dengan kapasitas mesin dan fitur sekelas, kamu memang membayar lebih untuk desain, brand, dan heritage Vespa yang sudah 80 tahun eksis.
Biaya kepemilikan juga perlu dihitung. PKB pokok berkisar Rp800.000 sampai Rp1.000.000 per tahun, belum termasuk SWDKLLJ Rp35.000.

Servis rutin disarankan tiap 3 bulan atau 3.000-5.000 km. Servis ringan sekitar Rp235.000 (sudah termasuk servis CVT, cek kelistrikan, dan diagnosis komputer PADS), plus oli SAE 10W-40 sekitar Rp125.000 per liter. Mesin butuh 1,3 liter sehingga kamu beli 2 botol senilai Rp250.000, dan sisanya bisa disimpan buat servis berikutnya. Totalnya sekitar Rp600.000, tergantung komponen tambahan seperti filter oli, busi, atau pembersih CVT.

Jadi, apa kesimpulannya? Kalau yang kamu cari adalah angka spesifikasi paling gahar, Primavera 180 bukan jawabannya. Tapi kalau kamu mengincar skuter dengan karakter kuat, desain timeless, dan sensasi riding yang sulit diterjemahkan lewat angka, inilah nilai jual terbesar Vespa.
Faktor emosional dan lifestyle-nya yang bikin banyak orang jatuh cinta, termasuk kami. Asal sudah siap dengan kompromi soal kenyamanan boncengers, suspensi, dan biaya kepemilikan, Primavera 180 akan jadi teman nongkrong dan city ride yang bikin kamu pede di mana pun parkir.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto



