Marc Marquez Pantas Dijuluki Motegi Master: Apapun Ban yang Dipakai, Dia Tetap Tercepat di MotoGP Jepang 2026!

Marc Marquez memenangkan Sprint dan Grand Prix Motegi sehingga mengoleksi 37 poin penuh, sekaligus memangkas jarak dengan Jorge Martín menjadi dua poin di klasemen sementara.

OTOPLUS-ONLINE I Marc Marquez memang pantas disebut “Motegi Master”. Di tengah drama ban Michelin yang membuat Sprint Race MotoGP Jepang berantakan, Marquez justru tetap menunjukkan kecepatannya.
Begitu juga ketika ban belakang Soft bermasalah dan Michelin akhirnya menggantinya dengan Hard untuk balapan utama, pembalap Ducati itu kembali menjadi yang tercepat hingga merebut kemenangan di Motegi. Ban boleh berbeda, situasi boleh berubah, tetapi Márquez tetap berada di depan.
Drama ban Michelin yang mewarnai Sprint Race MotoGP Jepang (Sabtu, 03/10) ternyata belum selesai ketika balapan utama digelar. Setelah sejumlah pembalap mengalami blistering atau mengelupas pada ban belakang Soft, Michelin menarik kompon tersebut dari alokasi race dan merekomendasikan ban Hard dengan konstruksi yang diperkuat.
Keputusan tersebut mengubah strategi seluruh grid di Sirkuit Motegi. Jika pada Sprint pilihan ban masih beragam, seluruh pembalap akhirnya menggunakan kombinasi Medium di depan dan Hard di belakang untuk menempuh 24 lap GP Jepang.
Ban Hard tersebut bahkan baru pertama kali digunakan sepanjang akhir pekan, sehingga sesi warm-up diperpanjang dari 10 menjadi 20 menit untuk memberi kesempatan pembalap mengumpulkan data.
Situasi ini menjadi konsekuensi langsung dari masalah yang muncul pada Sprint. Jorge Martín mengalami penurunan performa ban belakang menjelang finis, sementara Francesco Bagnaia bahkan harus masuk pit setelah mengalami kerusakan serius pada bannya. Michelin kemudian menjelaskan bahwa tingkat blistering berbeda-beda antar pembalap dan dipengaruhi gaya berkendara, setup motor, wheelspin serta energi yang diteruskan ke ban belakang.
Menariknya, race utama (Minggu, 04/10) justru berlangsung tanpa drama ban separah Sprint.
Marc Marquez memanfaatkan situasi tersebut dengan pendekatan yang lebih sabar. Martín yang start dari posisi terdepan mampu mempertahankan keunggulan selama 10 lap pertama. Namun, Marquez terus memberikan tekanan sebelum akhirnya melakukan manuver untuk mengambil alih posisi pertama pada pertengahan balapan.

“Saya bersabar pada lap pertama karena kami baru memiliki pengalaman menggunakan ban Hard saat warm-up. Jadi, saya mencoba memahami batasnya. Setelah tiga lap, saya mulai meningkatkan tekanan untuk memangkas jarak, menyalipnya, dan kemudian mengontrol ritme balapan,” ujar Marc Marquez dikutip dari crash.net.

Setelah memimpin, Marquez mampu menjaga jarak hingga finis dan mengamankan kemenangan dengan keunggulan 1,363 detik atas Martín. Marco Bezzecchi melengkapi podium di posisi ketiga.
Hasil tersebut membuat Marquez menyapu bersih akhir pekan Motegi setelah sebelumnya juga memenangi Sprint. Lebih penting lagi, tambahan 25 poin membuat juara dunia bertahan itu memangkas jarak dengan Martín menjadi hanya dua poin di klasemen!
Martín masih memimpin, tetapi momentum kini berbalik. Setelah Sprint sempat diwarnai persoalan ban belakang, Aprilia justru membawa pulang posisi kedua, sementara Marquez mendapatkan kemenangan sekaligus keuntungan besar dalam perburuan gelar.

“Marc tidak terkalahkan hari ini. Akan sangat sulit untuk mengalahkannya, tetapi merupakan sebuah kehormatan bisa bertarung dengan Marc pada tahap kejuaraan seperti sekarang dan tetap memimpin klasemen,” ujar Jorge Martín.



Dengan demikian, drama Michelin di Motegi akhirnya tidak hanya menjadi cerita mengenai daya tahan ban. Perubahan alokasi ban setelah Sprint ikut mengubah pendekatan balapan utama—dan dalam kondisi tersebut, Márquez kembali menjadi pembalap yang paling mampu memanfaatkannya.
Duel keduanya kini berlanjut ke Indonesia dengan selisih hanya dua poin.
Teks: Indramawan
Foto: @marcmarquez93, @89jorgemartin, @motogp



