• Editor

Riding Impression Yamaha Tricity 155 (2): Enggak Ragu Menikung Serebah-Rebahnya


Suspensi depan jadi daya tarik dan keunggulan Yamaha Tricity. Dibangun dengan platform 3-Wheel Chassis, Yamaha menanamkan sistem suspensi roda depan yang dinamai Leaning Multi Wheel, konstruksinya tak hanya unik tapi juga menawarkan kenyamanan serta keasyikan berkendara.

3-Wheel Chassis

Tinggi joknya cukup bersahabat untuk postur mayoritas orang Indonesia, 780 mm.


Konsep 3-wheel motorcycle ini adalah untuk memberikan kepercayaan lebih ketika berkendara, khususnya buat mereka yang belum berpengalaman. Desain sasisnya diciptakan untuk memberikan stabilitas dan kepercayaan berkendara ketika melewati berbagai macam permukaan jalan.

Jarak pijak roda depan yang sempit membuatnya lincah dan mudah dikendarai.


Tidak seperti produk Piaggio seperti MP3 125 Yourban, jarak pijak roda depan dibuat lebih sempit untuk kelincahan dan kemudahan dikendarai.

Kompartemen dengan charging port 12 volt yang dapat digunakan untuk menyimpan ponsel, sayangnya ukuran terlalu kecil untuk dihuni ukuran ponsel masa kini yang rata-rata memiliki bentang layar 6,5 inci.

Desain pegangan tangan seolah menyatu dengan bodinya yang futuristik.


Faktanya selain menawarkan keunggulan di sisi pengendalian dan kenyamanan, skutik ini juga sakti dalam menarik perhatian. Gak perlu pamer kecepatan atau pasang knalpot brong, ketika mengendarai Tricity kalian dijamin akan jadi pusat perhatian.

Jadi pusat perhatian selama sesi pemotretan di Verwood Hotel, Raya Kupang Indah, Surabaya.


Hal itu OTOPLUS-ONLINE selama seminggu beraktivitas menggunakan skutik yang kami pinjam dari PT Surya Timur Sakti Jatim ini.

Leaning Multi Wheel System

Yamaha menyebut sistem suspensi Tricity ini dengan nama Leaning Multi-Wheel (LMW) System. Sistem kemudi ini menyodorkan gerakan kemudi yang mudah, keyakinan saat menikung serta rasa pengendalian yang natural khas skuter.

Dengan roda ganda, gak ragu menikung rebah.


LMW didukung komponen-komponen utama berupa link parallelogram yang terhubung langsung dengan bagian atas garpu teleskopik ganda yang mengawal setiap roda. Link parallelogram yang berbentuk seperti busur setengah lingkaran ini memungkinkan kedua roda depan bergerak seirama mengikuti kemiringan sasis.

Desain suspensi Leaning Multi-Wheel (LMW) dengan link parallelogram dan sepasang garpu teleskopik yang memungkinkan kedua roda depan rebah simetris saat menikung.


Sementara gerakan kemudi diatur oleh sistem kemudi yang cukup kompleks mengandalkan ball joint layaknya sistem kemudi mobil. Kelebihan dari sistem kemudi Tricity yakni setang tidak langsung menerima guncangan seperti halnya yang terjadi pada sistem kemudi motor konvensional dimana as stir langsung terhubung ke garpu teleskopik dan roda depan.


Awalnya haluan memang terasa berat saat diajak menikung namun setelah terbiasa, perasaan yang menonjol adalah rasa aman. Permukaan jalan yang basah, melibas garis-garis marka yang kadang menonjol, jalan kerikil atau terdapat ceceran oli tidak akan mengkhawatirkan.


Saking merasa amannya, OTOPLUS-ONLINE gak merasa ragu untuk menikung serebah-rebahnya sampai tatakan bawah standar tengah menyentuh permukaan aspal.

Jarak antar kedua roda depan yang rapat pengendaliannya terasa natural seperti sepeda motor pada umumnya.


Minimnya pengaruh guncangan dari permukaan jalan yang jelek terhadap kemudi kami rasakan ketika mencobanya di ruas jalan Tanjungsari, Surabaya yang pada hari kerja selalu sesak dengan wara wiri truk-truk container yang membuat permukaan aspal melipat. Tentunya itu sangat membantu pengendara untuk tetap in command mengarahkan laju motor ini.


Kekurangannya, mekanisme suspensi depan Tricity belum memiliki mekanisme penguncian seperti halnya yang terdapat di Piaggio MP3. Mekanisme seperti itu memungkinkan suspensi dikunci pada posisi sejajar, miring bahkan pada posisi salah satu roda beda ketinggian sehingga kaki pengendara untuk tetap berada di dek. Misalnya saat berhenti sejenak di traffic light.


Untungnya jarak jok pengendara ke tanah tidak terlalu tinggi, demikian juga dengan posisi berkendara yang cukup lega sehingga dapat mengakomodir berbagai postur pengendara.

Unified Braking System

Rem depan cakram 220 mm dan belakang 230 mm dilengkapi sistem ABS,


Tricity dibekali rem model cakram di semua roda. Sepasang roda depan masing-masing dikawal cakram berdiameter 220 mm. Sementara rem belakang mengandalkan cakram 230 mm. Untuk keamanan dilengkapi pula dengan sistem ABS yang akan mencegah roda-roda itu mengunci.

Unified Brake System (UBS), rem depan akan aktif meski hanya menarik tuas rem belakang.


Itu saja? Tidak. Coba perhatikan poros roda belakang dari sisi kiri. Kalian akan mendapati tuas penarik layaknya di rem model teromol ada umumnya. Rupanya selain rem model cakram, roda belakang juga memiliki rem model teromol yang difungsikan sebagai park brake. Oya park brake diaktifkan lewat tuas yang terdaoat di bawah switch control pada sisi kiri setang.

Rem belakang ada dua. Model teromol dan cakram. Teromol digunakan untuk park brake.


Untuk kepraktisan, Yamaha menanam sistem rem terintegrasi yang dinamai Unified Braking System. Cukup dengan menarik tuas rem kiri (belakang), maka seluruh rem akan aktif.

Park brake diaktifkan lewat tuas ini.


Deselerasi terasa smooth dan motor dapat berhenti secara efektif. Namun ketika diperlukan daya pengereman yang kuat, tarikan pada tuas rem di sisi kanan tetap dibutuhkan.


Baca juga: Riding Impression Yamaha Tricity 155 (1): Pilih Ini Atau Brompton?

Teks: Nugroho Sakri Yunarto

Foto: Hendra Sonie, Nugroho Sakri Yunarto

Lokasi: Verwood Hotel, Raya Kupang Indah, Surabaya. 031-7328738