• Editor

Scrambler Bike Dengan Performa GP Bike

Suzuki T125 II Stinger 1971.

Mochammad Faris, anggota MACI Gresik sangat beruntung mendapat motor 2-tak Jepang yang termasuk langka di pasaran. Ya, Suzuki T125 II Stinger 1971 ini dibeli Faris tahun 2011 lalu dari pemilik sebelumnya yang ada di Surabaya dengan harga Rp 15 juta.

Mochammad Faris suka Suzuki Stinger karena spek motor yang masuk kategori performance bike.

“Baru saja ada yang nawar Rp 25 juta enggak saya kasih. Susah cari lagi, apalagi dengan kondisi lengkap seperti ini. Cuma spion aja yang nggak ori, diganti punya motor Yamaha. Kebetulan saja cocok, karena sebenarnya sulit sekali cari persamaan komponen motor ini,” buka Faris sambil menambahkan, selain itu, cat juga sudah kondisi repaint, menyesuaikan STNK dan BPKB.


Satu hal yang membuat Faris suka dengan Suzuki Stinger selain masuk kategori rare item, adalah spek motor yang masuk kategori performance bike.

Mesin tidur bikin tarikan enteng tapi boros bensin dan oli samping.

Ini sesuai dengan bunyi iklan Stinger saat itu yang memberi julukan Grand Prix untuk motor dengan mesin twin 124cc dengan girboks 5-speed ini.

Karburator dual down-draft, posisi lubang intake ada di atas, sementara lubang exhaust di bawah.

“Bisa dilihat dari 2 karbunya yang pakai model tidur (dual down-draft). Posisi karbu atau lubang intake ada di atas, sementara posisi header knalpot atau lubang exhaust ada di bawah. Aliran bensin dari tangki di atasnya seolah digerojokkan saja ke ruang bakar, tanpa membran atau manifold.

Itulah kenapa motor ini sangat boros bensin dan oli samping. Karena memang ditujukan untuk kejar speed dan tarikan enteng,” jelas Faris.

Dilihat dari belakang, desain Stinger sangat ramping sehingga lincah bermanuver.

Seting karbu juga harus presisi. “Kalau terlalu lean mesin

cepat panas, kalau terlalu rich bakal berebet,” ujar Faris

yang punya kenangan piston macet saat geber Stinger ke Bojonegoro karena oli samping kurang. Untung di kawasan Bubutan, Surabaya masih ada toko yang jual ring piston Stinger.

Tangki lebih ramping dan memanjang ke belakang.

“Cuma sedikit ngakal karena tak ada oversize-nya. Harus dikikir sedikit menyesuaikan boringnya yang oversize 25,” kisah pria pemilik toko onderdil mobil, Arista Mobil yang juga dijadikan sekretariat MACG atau MACI Gresik ini.


Jok lebih panjang, dan dilengkapi engsel sehingga bisa dibuka ke belakang.

Suzuki memproduksi T125 Stinger pertama kali tahun 1969. Dua tahun kemudian (1971), generasi kedua, yaitu T125 II Stinger diproduksi dan dipasarkan hanya untuk pasar Amerika.


Langkah ini ditempuh Suzuki sebagai upaya untuk mencari pasar baru bagi Stinger yang kurang sukses di pasar Asia akibat gejolak resesi.

Panel dan instrumen dibiarkan apa adanya.

Demi menarik minat pasar di negara Uncle Sam ini, T125 II atau lebih dikenal dengan nama Wolf di sana, diproduksi dalam gaya scrambler. Bentuk tangki lebih ramping dan knalpot menjulang ke atas, serta setang model trail.


Logo klasik Suzuki.

Namun upaya Suzuki yang juga memasarkan Stinger ini ke Eropa tidak berhasil. Itulah sebabnya tahun 1972, produksi Stinger dihentikan.

Dengan usianya yang singkat, wajar kalau T125 Stinger ini termasuk langka.

Setang model trail untuk versi Scrambler.

Specification:

Engine

Type: Air Cooled 2 Stroke Inline Twin Bore x Stroke:

43 x 43mm Compression Ratio: 7.3:1 Displacement: 124 cc Lubrication System: Posi-Force Starting: kick start Carburation: Mikuni MD-18 Fuel Minimum Octane Rating: 85-95 OCTANE

Transmission

Clutch Type: Wet multi plate Transmission: 5 Speed

Dimensions

Length: 72.2 inch Width: 31.1" Height: 42.5" Seat Height: 736 mm Wheelbase: 46.9 inch 1190 mm

Ground Clearance: 6.7" Rake: 62∘ Trail: 3.4" Dry Weight: 226.7 lbs 96 kilos Fuel Capacity: 8 litres

Frame

Type: Tubular Steel Beam Swing Arm: Tubular Steel

Suspension

Front: 27 mm Telescopic Forks

Tyres

Front: 250-18 Tubed Rear: 275-18 Tubed

Brakes

Front: Drum Rear: Drum Rear Drum Size: 140 mm

Front Drum Size: 140 mm


Foto: Indramawan