Strategi DFSK di Indonesia: Fokus EV Niaga di Tengah Tren EV Gaya-Gayaan di IIMS 2026
- Editor

- 2 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Saat banyak merek berlomba menjual mobil listrik bergaya hidup, DFSK justru konsisten di EV niaga yang dipamerkan di IIMS 2026 dari Gelora E hingga Super Cab,
OTOPLUS ONLINE I Di tengah euforia mobil listrik yang semakin identik dengan gaya hidup urban, DFSK memilih jalur yang tak banyak dilirik. Di Indonesia, pabrikan di bawah naungan PT Sokonindo Automobile ini justru konsisten menempatkan kendaraan niaga, termasuk kendaraan niaga listrik sebagai fondasi utama strateginya.
Di IIMS 2026, konsistensi DFSK terlihat jelas. Ketika banyak EV tampil sebagai simbol gaya hidup, DFSK justru menegaskan bahwa kendaraan listrik juga harus relevan secara ekonomi. Bagi segmen niaga, efisiensi dan keandalan jauh lebih penting dibanding sensasi visual.
Melalui strategi ini, DFSK menempatkan EV niaga bukan sebagai pelengkap tren, melainkan sebagai investasi jangka panjang di pasar Indonesiaāpasar yang membutuhkan kendaraan yang benar-benar bekerja, bukan sekadar tampil.
Pandangan ini sejalan dengan strategi jangka panjang DFSK yang menempatkan kendaraan niaga, termasuk kendaraan niaga listrik sebagai fondasi utama strateginya di Indonesia. Ditunjukkan lewat pabrik di Cikande, Banten, yang ditunjang dengan teknologi manufaktur modern menjadi tulang punggung produksi untuk kebutuhan domestik sekaligus ekspor.

āKeputusan untuk terus berinvestasi di Indonesia merupakan bagian dari strategi jangka panjang DFSK. Indonesia menjadi fondasi penting bagi pengembangan bisnis dan strategi regional DFSK di Asia Tenggara,ā ujar Franz Wang, Chief Operating Officer PT Sokonindo Automobile.
Pernyataan ini penting di tengah kekhawatiran konsumen soal keberlanjutan merek otomotif, khususnya dari Tiongkok. Investasi manufaktur, produksi lokal, dan ekspor menjadi sinyal bahwa DFSK datang untuk bertahan, bukan sekadar mencoba peruntungan.
Jajaran Kendaraan Niaga DFSK


Gelora E menjadi representasi paling jelas dari pendekatan bahwa kendaraan ini bukan sekadar āEV niaga pertama DFSK.ā Tapi juga diproduksi secara lokal dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 44%. Artinya, DFSK tidak hanya menjual produk, tetapi ikut membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.
Tersedia dalam varian Blind Van dan Mini Bus, Gelora E dirancang fleksibel untuk berbagai kebutuhan usaha. Mulai dari distribusi barang, travel, shuttle karyawan, hingga sektor pariwisata, kendaraan ini ditujukan untuk langsung bekerja sejak hari pertama.
Pendekatan DFSK terasa pragmatis. Spesifikasi memang penting, tetapi yang ditawarkan adalah logika bisnis: biaya operasional lebih efisien, garansi baterai hingga 5 tahun atau 200.000 km, serta harga yang relatif terjangkau di kelasnya.

Menariknya, strategi niaga DFSK tidak berhenti di kendaraan listrik. DFSK Super Cab tetap dipertahankan sebagai pikap andalan bagi pelaku UMKM dan sektor distribusi. Meski belum berbasis listrik, kehadiran Super Cab memperkuat posisi DFSK sebagai merek yang memahami kebutuhan kerja harian, sekaligus menjadi jembatan menuju elektrifikasi niaga di masa depan.
Program āDFSK Dukung Bisnis Andaā
DFSK menghadirkan program āDFSK Dukung Bisnis Andaā. Program ini dirancang untuk memudahkan pelaku usaha beralih ke kendaraan niaga listrik melalui berbagai insentif, termasuk subsidi trade-in hingga Rp85 juta untuk Gelora E.
Langkah ini menegaskan bahwa DFSK tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan solusi kepemilikan yang lebih terukur bagi dunia usaha.
Teks: Indramawan
Foto: DFSK Indonesia




Komentar