• Editor

Top Speed Honda Mobilio Mentok 150 Km/jam?


Keluhan ini mencuat dari beberapa pemilik Honda Mobilio, setidaknya setelah tol Trans Jawa mulai dioperasikan akhir 2018 lalu. Tak bisa dipungkiri, beroperasinya tol memungkinkan pengemudi melajukan kecepatan hingga batas maksimumnya meski aturan membatasi kecepatan maksimal yang diperbolehkan di dalam tol adalah 100 km/jam.


Kenyataannya kalau dibandingkan dengan jajaran LMPV lain seperti Suzuki Ertiga, Mitsubishi Xpander, Nissan Livina, Chevrolet Spin, Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia, top speed Honda Mobilio hanya 150 km/jam. Sementara para kompetitornya bisa tembus 170-180 km/jam. Top speed Honda Mobilio bahkan kalah kencang dibandingkan Toyota Calya atau Daihatsu Sigra. Duo LCGC 7-seater itu bisa meraih kecepatan puncak lebih dari 160 km/jam.


Dari pengetesan yang pernah kami lakukan pada Honda Mobilio tipe S bertransmisi manual, kenyataannya memang jarum spidometer seakan tak mau beranjak dari angka 150 km/jam dan takometer tak lagi bergerak naik dari angka 5000 rpm meski pedal gas masih menyisakan jarak main dan coba diinjak sampai mentok. Dengan spesifikasi mesin, seharusnya angka 170-180 km/jam di spidometer seharusnya tak sulit diraih oleh Mobilio.


Saat kami konsultasikan, Taufiq, Service Advisor Honda Citra Cakra Surabaya menuturkan, “Kecepatan memang dibatasi untuk alasan safety (keamanan) dan durability (ketahanan).”

Top speed Honda Mobilio, mentok di 150 km/jam

Dari sisi keamanan, Honda yang dikenal unggul pada pengendalian sepertinya memang membatasi kecepatan maksimum Mobilio di 150 km/jam karena pertimbangannya, lebih dari 150 km/jam ketajaman dan stabilitasnya tak lagi optimal. Bisa dirasakan MPV ini masih terasa aman saat cruising (menjelajah) dan terasa patuh saat bermanuver seperti harus berpindah jalur meski pada kecepatan 150 km/jam.


Keuntungan lain konsumsi bahan bakar bisa dijaga hemat meski melaju top speed. Dari tes kami dengan jarak tempuh sekitar 100 km, konsumsinya masih bisa mencapai 10,6 km/l pada kecepatan konstan 150 km/jam.


Pada sisi ketahanan, dengan membatasi kecepatan, umur pakai pada beberapa komponen mesin bisa dijaga agar awet. Salah satu yang paling rawan yaitu kompresor AC. “Komponen AC yang rawan rusak ketika melaju pada top speed adalah magnetic clutch,” sebut Taufiq.


Komponen ini berperan pada proses hidup dan matinya kompresor AC. Ketika suhu yang diinginkan tercapai, thermostat akan memutus arus yang menuju ke magnetic clutch sehingga melepas koneksinya pada motor kompresor sehingga AC berhenti bekerja. Begitu juga sebaliknya, ketika suhu yang dibutuhkan belum tercapai, thermostat akan menyalurkan arus sehingga magnetic clutch terhubung dengan motor kompresor AC dan bekerja memompa freon.


Kerusakan magnetic clutch terjadi apabila komponen ini tak lagi bisa memutus koneksinya ke motor kompresor AC dan memaksanya terus bekerja. Dampak umum yang terjadi adalah bekunya evaporator akibat aliran freon yang terus menerus. Freon tak lagi dapat mengalir, evaporator berpotensi bocor dan dapat berujung pada kerusakan kompresor AC itu sendiri.

Hindari kebiasaan mengubah-ubah suhu AC saat sedang melaju

“Magnetic clutch akan cepat rusak kalau punya kebiasaan mengubah-ubah suhu AC saat mobil melaju, terutama pada kecepatan tinggi,” kata Taufiq. Penjelasannya, ketika kita mengubah suhu AC (naik atau turun), thermostat akan memerintahkan magnetic clutch melepas atau menyambung koneksi dengan motor kompresor. Saat kondisi mesin idle, jelas bukan masalah karena minim beban namun akan menjadi masalah ketika koneksi itu terjadi pada putaran mesin yang tinggi misalnya saat berjalan kencang di jalan tol. Jika kondisi itu terjadi konstan dan terus menerus, dipastikan usia magnetic clutch tak akan lama.

Komponen magnetic clutch inilah yang akan cepat rusak

Karena itu Taufiq menyarankan sebelum melaju di jalan tol, atur suhu yang diinginkan terlebih dulu. Hal ini dapat mencegah terjadinya kerusakan pada komponen magnetic clutch di kompresor AC.


Bagaimana Speed Limiter Bekerja?

Kecepatan Honda Mobilio dibatasi oleh speed limiter. Speed limiter terdiri dari serangkaian sensor yang akan mendeteksi seberapa cepat anda melaju, kemudian mengomunikasikan informasi itu ke ECU (Electronic Control Unit) yang mengelola hampir semua fungsi mesin. Setelah Anda mencapai kecepatan tertinggi yang telah ditentukan sebelumnya dalam konteks ini 150 km/jam, komputer akan mengintervensi untuk membatasi aliran udara dan bahan bakar ke mesin dan bahkan percikan api yang memungkinkan terjadinya pembakaran. Alhasil kita tidak akan dapat melaju lebih cepat dari batas kecepatan tertinggi yang telah ditentukan tersebut.


Bisa Lebih dari 150 km/jam Asal..

“Paling mudah, matikan AC,” kiat Taufiq. Dengan mematikan AC beban mesin berkurang signifikan, kecepatan akan bertambah namun tidak banyak sekitar 5 km/jam. Langkah kedua dengan mengubah setting ECU atau memasang piggyback. Konsekuensinya selain butuh anggaran lebih banyak juga akan membuat konsumsi bahan bakar lebih boros.


Naskah & foto : Nugroho Sakri Yunarto