Tren Layar Sentuh Berakhir? Studi Ungkap Potensi Bahaya, Regulator Keluarkan Pembatasan
- Editor

- 2 hari yang lalu
- 3 menit membaca
Desain interior mobil yang bergantung pada layar sentuh mulai dipertanyakan, setelah sejumlah studi keselamatan mengungkap potensi risiko distraksi yang berujung pengambilan langkah pembatasan oleh regulator di China dan Eropa.

OTOPLUS ONLINE I Dalam satu dekade terakhir, industri otomotif global mengalami transformasi besar dalam desain interior kendaraan.
Dashboard yang dulu dipenuhi tombol fisik perlahan berubah menjadi kokpit minimalis dengan layar sentuh besar sebagai pusat kendali.
Dari pengaturan AC, audio, navigasi, hingga sistem bantuan pengemudi (ADAS), semuanya kini terintegrasi dalam satu panel digital.


Pendekatan ini dianggap modern, futuristik, dan efisien. Produsen kendaraan listrik maupun mobil konvensional berlomba menghadirkan kabin serba layar demi menciptakan kesan teknologi tinggi.
Namun, di balik estetika yang bersih dan canggih, muncul pertanyaan serius: apakah layar sentuh justru meningkatkan risiko saat berkendara?
Studi Soroti Distraksi dan Waktu Reaksi

Sejumlah penelitian keselamatan menunjukkan temuan yang konsisten: interaksi dengan layar sentuh saat mengemudi meningkatkan potensi distraksi.
Pada 6 Maret 2024, European Transport Safety Council (ETSC) mendukung kebijakan Euro NCAP yang mulai 2026 akan mensyaratkan kontrol fisik untuk fungsi-fungsi penting kendaraan agar bisa meraih rating keselamatan lima bintang. Menurut ETSC, penggunaan layar sentuh untuk fungsi krusial memaksa pengemudi mengalihkan pandangan lebih lama dari jalan. Sumber: Cars will need buttons not just touchscreens to get a 5-star Euro NCAP safety rating.
Penelitian dari Allianz Center for Technology (AZT) pada April 2025 di Jerman juga menemukan bahwa penggunaan layar sentuh dapat meningkatkan waktu reaksi hingga sekitar 57 persen dibandingkan kontrol fisik. Pengemudi perlu melihat layar, mencari ikon, dan memastikan perintah berhasil ā proses yang memicu distraksi visual dan kognitif sekaligus. Sumber: Topics at the Allianz Center for Technology:
Beberapa studi simulator bahkan menunjukkan peningkatan deviasi jalur lebih dari 40 persen ketika pengemudi berinteraksi dengan layar sentuh dibanding tombol konvensional.
Intinya, kontrol fisik dapat dioperasikan secara taktil tanpa perlu melihat, sementara layar sentuh menuntut perhatian visual.
China Ambil Langkah Pembatasan

Kekhawatiran tersebut kini berujung pada kebijakan konkret. Pemerintah China melalui Ministry of Industry and Information Technology (MIIT) merevisi standar nasional otomotif dengan mewajibkan kontrol fisik untuk sejumlah fungsi penting kendaraan.
Fungsi seperti lampu sein, lampu darurat (hazard), pemindah gigi (P/R/N/D), wiper, defogger, aktivasi sistem bantuan pengemudi, hingga tombol darurat tidak lagi boleh sepenuhnya bergantung pada layar sentuh. Regulasi ini ditujukan untuk memastikan pengemudi tetap dapat mengoperasikan fungsi vital tanpa harus mengalihkan perhatian dari jalan.
Langkah China bukan pelarangan total layar sentuh, melainkan pembatasan untuk fungsi yang berdampak langsung pada keselamatan.
Di Eropa, pendekatan serupa muncul lewat protokol uji keselamatan Euro NCAP yang memberi tekanan pada pabrikan agar menghadirkan kontrol fisik demi mempertahankan rating bintang lima. Meski bukan regulasi pemerintah, dampaknya signifikan terhadap strategi desain global.
Dampak terhadap Tren Industri

Sebagai pasar otomotif terbesar dunia, kebijakan China berpotensi memengaruhi arah desain kendaraan secara global. Produsen yang sebelumnya mengusung konsep āall-screen cockpitā kini harus meninjau ulang ergonomi dan keselamatan desain interior mereka.
Beberapa dampak yang mulai terlihat antara lain:
Kembalinya tombol fisik untuk fungsi vital.
Desain hybrid yang memadukan layar besar dengan kontrol taktil.
Penyesuaian strategi global karena standar keselamatan semakin ketat.
Perubahan persepsi konsumen yang kini lebih sadar aspek keselamatan dibanding sekadar tampilan futuristik.
Industri otomotif kini menghadapi dilema antara estetika minimalis dan keselamatan fungsional. Tantangan berikutnya adalah menemukan keseimbangan antara digitalisasi dan ergonomi yang aman.
Apakah era dashboard serba layar akan benar-benar berakhir? Mungkin tidak sepenuhnya. Namun satu hal mulai jelas: di tengah gelombang digitalisasi, tombol fisik tampaknya belum akan punah, dan justru bisa kembali menjadi simbol keselamatan di era kendaraan modern.
Teks: Indramawan
Foto: dari berbagai sumber




Komentar