Black Dragbike 2026 Seri 2 Malang Diserbu 750 Starter dan 4.000 Lebih Penonton, Kelas Open EV Ditunda Demi Safety!
- Editor
- 3 jam yang lalu
- 4 menit membaca
Kelas Open EV kemungkinan baru akan digelar pada seri pamungkas Black Dragbike 2026 Seri 3 di sirkuit balap Sentul.

OTOPLUS-ONLINE I Black Dragbike 2026 Seri 2 yang digelar di sirkuit non permanen Kanjuruhan, Malang (18/7), sukses mencatatkan antusiasme luar biasa. Sebanyak 750 starter ambil bagian dalam putaran kedua musim ini, sementara 3.962 penonton memadati area sirkuit hingga balapan usai.
Di tengah tingginya animo tersebut, penyelenggara mengambil satu keputusan penting dengan menunda kelas Open EV demi mengutamakan keselamatan pembalap!


Tingginya partisipasi peserta terlihat dari persaingan di kelas-kelas Open. Lima kelas Open yang dipertandingkan masing-masing diikuti lebih dari 20 starter. Bahkan kelas Open Ninja 150 menjadi yang paling ramai dengan sekitar 35 starter.
Capaian tersebut sesuai target penyelenggara untuk kembali menghidupkan persaingan di kelas Open yang selama beberapa tahun terakhir menjadi perhatian para dragster dari berbagai daerah. Dan target tersebut akhirnya bisa tercapai di seri 2 Malang ini.
Saking membludaknya starter, Genta Auto & Sport selaku penyelenggara pun terpaksa harus melakukan pembatasan jumlah starter.

Hal ini sebagaimana disampaikan Ivan Harry dari Genta Auto & Sport selaku Ketua Penyelenggara.
"Jumlah starter pada Black Dragbike 2026 Seri 2 Malang ini terpaksa kami batasin karena jika kita buka terus kemungkinan bisa sampai 800-900 starter. Jika ini terjadi, takutnya nggak selesai (hingga pukul 23.00 WIB), dan ada kelas yang dibatalkan. Kita nggak enak sama yang sudah daftar, karena kita lebih mengutamakan kualitas balap, baik dari segi keamanan maupun kenyamanan pembalap maupun penonton," jelas Ivan.
Keseruan Black Dragbike 2026 Seri 2 Malang juga tampak pada jumlah pengunjung. Untuk pertama kalinya, penyelenggara menerapkan sistem ticketing bagi penonton.




"Sistem ticketing seperti ini baru kita coba malam ini. Melalui tiket masuk seharga Rp25.000, pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan aksi para dragster di lintasan, tetapi juga memperoleh berbagai keuntungan berupa produk sponsor, minuman gratis, doorprize, hingga hiburan yang disiapkan sepanjang acara," jelas Abed Nego dari Genta Auto & Sport selaku Wakil Ketua Penyelenggara.

Menurut Abed, respons penonton terhadap konsep baru tersebut terbilang positif. "Berdasarkan data akhir panitia, dari pagi sampai malam hari, jumlah penonton yang masuk dari pintu utama ditambah paddock mencapai 3.962 orang," ujar Abed sambil menunjukkan checker penonton kepada OTOPLUS-ONLINE.
Dari sini kita asumsikan, jumlah penonton Black Dragbike 2026 Seri 2 Malang tembus melebihi 4.000 orang, sehingga bisa dijadikan salah satu indikator tingginya minat masyarakat terhadap event Black Dragbike. Termasuk juga sponsor yang terus bertambah dengan masuknya merek pelumas, Repsol.
Keberhasilan penerapan ticketing ini sekaligus menjadi modal positif bagi penyelenggara untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pada seri-seri berikutnya.

Tak hanya membatasi jumlah starter, panitia penyelenggara juga mengambil keputusan yang cukup menyita perhatian, yakni menunda kelas DB25 Open EV Mix Rider yang sebelumnya sempat direncanakan masuk dalam daftar perlombaan.

Pengawas Lomba Black Dragbike 2026, Tommy Wijanarko, menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan aspek keselamatan. Menurutnya, performa motor listrik yang terus berkembang membuat karakter lintasan harus menjadi perhatian utama.
"Yang menjadi pertimbangan utama adalah faktor keselamatan. Kecepatan motor EV sekarang sudah sangat tinggi, sementara area pengereman di sirkuit non permanen Kanjuruhan masih kami nilai kurang memadai," ujar Tommy kepada OTOPLUS-ONLINE.


Ia menjelaskan, area pengereman di Sirkuit Kanjuruhan sebenarnya masih memadai untuk sebagian besar kelas yang dipertandingkan. Namun karakter lintasan yang menurun di ujung braking zone serta keberadaan tembok pembatas membuat risiko menjadi lebih besar apabila digunakan untuk motor listrik berperforma tinggi.
"Karena itu, penyelenggara memilih tidak mengambil risiko dan menempatkan keselamatan pembalap sebagai prioritas utama," tegas Tommy.
Selain faktor lintasan, penundaan kelas Open EV juga dipengaruhi belum tuntasnya pembahasan regulasi teknis. Event Director Genta Auto & Sport, Abed Nego, mengatakan pihaknya masih berdiskusi dengan berbagai komunitas motor listrik untuk menyempurnakan aturan yang akan diterapkan, termasuk terkait spesifikasi kendaraan dan batas kapasitas baterai.
"Regulasi EV masih terus dibahas. Tidak semua komunitas sepakat dengan aturan yang disusun, termasuk mengenai spesifikasi motor dan batas kapasitas baterai yang akan digunakan," jelas Abed.

Keputusan tersebut mendapat dukungan dari pembalap motor listrik Tim Amuba Malang, Muhammad Aldo. Menurutnya, area pengereman di lintasan Kanjuruhan memang belum ideal untuk mengakomodasi motor listrik dengan performa tinggi.
"Kalau melihat kondisi sirkuitnya, terutama area pengereman, memang masih kurang kalau dipakai untuk kelas Open EV. Jadi menurut saya keputusan panitia menundanya sudah tepat demi faktor safety," kata Aldo kepada OTOPLUS-ONLINE.
Aldo memperkirakan motor listrik idealnya membutuhkan area pengereman hingga 300 meter agar pembalap memiliki ruang deselerasi yang lebih aman. Ia pun berharap kelas Open EV dapat segera dipertandingkan setelah didukung lintasan yang lebih memadai serta regulasi yang telah disepakati bersama.
Baca juga: Tim Senyap Suarakan Kelas Khusus Motor Listrik di Black Drag Bike 2024 Putaran 1 - Surabaya

Peluang tersebut masih terbuka pada seri pamungkas Black Dragbike 2026 Seri 3 di sirkuit balap Sentul yang jauh lebih proper. Penyelenggara memastikan akan kembali berkoordinasi dengan komunitas motor listrik untuk mematangkan regulasi sehingga kelas Open EV dapat dipertandingkan apabila seluruh persyaratan keselamatan dan teknis telah terpenuhi.
"Kami selalu terbuka jika diajak berdiskusi mengenai regulasi dan safety untuk balap EV," komentar Rendy Vananda dari Tim Senyap, dan Rudi Hartono dari Hart Garage mewakili komunitas motor listrik yang tidak pernah absen dari event balap motor listrik Tanah Air.
Teks: Indramawan
Foto: Dhyaan Icha, Indramawan
