• Editor

DFSK Glory 580 Gak Kuat Nanjak? Ini Pengalaman OTOPLUS-ONLINE!


Glory i-Auto menggunakan basis yang sama dengan Glory 580.

Seperti diberitakan CNBC Indonesia, sebanyak 7 konsumen pemakai DFSK Glory 580 Turbo CVT, tahun pembuatan 2018 mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum lantaran mobilnya dianggap tidak kuat menanjak. Gugatan ini diajukan terhadap PT Sokonindo Automobile selaku ATPM dan produsen, serta enam pihak lainnya selaku dealer dan bengkel resmi DFSK.

Lantaran gak kuat nanjak, Glory 580 1.5 Turbo CVT dituntut secara hukum.


Para konsumen tersebut mengajukan gugatan melalui kuasa hukum David Tobing, yang teregister secara e-court (online) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan Nomor register: PN JKT.SEL-122020BS2 tanggal 3 Desember 2020.


Benarkah Glory 580 1.5 Turbo CVT gak kuat menanjak? OTOPLUS-ONLINE jadi teringat pengalaman salah satu rekan sesama wartawan otomotif yang pernah mengendarai Glory 560 1.5 T CVT, dan mengalami masalah tidak kuat menanjak saat dirinya mengambil jalur alternatif di sekitar daerah Bumiayu, Jawa Tengah, akibat terjadi kemacetan parah di jalur utama.

Tenaga mesin termasuk besar, mencapai 147 dk pada 6.000 rpm dengan torsi rata sebesar 220 Nm di rentang 1.800-4.000 rpm.


Sebagai informasi kalau mesin dan transmisi yang digunakan Glory 560 1.5 Turbo CVT itu identik dengan yang tersemat di Glory 580 1.5 Turbo CVT. Awalnya jalan menanjak landai masih bisa dilalui dengan transmisi pada posisi D. Namun saat mendapati tanjakan panjang dengan sudut cukup curam, Glory 560 bertransmisi CVT itu gagal mencapai puncak tanjakan, dan diam saja di tengah tanjakan, meski gas dibejek habis.


SUV itu pun terpaksa mundur teratur dan upaya untuk menanjak dilakukan dengan memindahkan transmisi ke posisi S. Awalnya berhasil namun kembali gagal mencapai puncak tanjakan. Setelah berkonsultasi dengan rekan wartawan yang sudah berpengalaman dengan karakter transmisi CVT Glory disadari ada kesalahan pengoperasian ketika transmisi pada posisi S.

Transmisi CVT dengan fitur manual (S). Jangan mainkan tuas ke (+) ketika menanjak!


Kesalahannya saat mesin mulai teriak di rpm 4.000-5.000, transmisi digerakkan ke posisi (+). Itu ibarat kita memindahkan transmisi manual dari gigi 1 ke 2 padahal posisi mobil sedang menanjak terjal. Akibatnya jelas gak akan kuat menanjak.


Dari pengalaman OTOPLUS-ONLINE yang sudah mencoba semua tipe SUV DFSK, mulai Glory 560, Glory 580 sampai Glory i-Auto yang bertransmisi CVT, rasio transmisi akan otomatis berubah saat putaran mesin di kisaran 4.000-5.000 rpm, atau mendekati peak-nya di putaran 6.000 rpm.

Transmisi CVT di Glory i-Auto merupakan improvement dari 580. Feelingnya lebih responsif di putaran bawah meski tidak terasa signifikan.


Oleh karena itu, ketika harus menaklukkan tanjakan terjal, jaga putaran mesin agar tidak naik lebih dari 4.000 rpm. Jangan khawatir gak kuat menanjak karena torsi terbesar dari mesin Glory 1.5 Turbo ada di kisaran 1.800-4.000 rpm. Pertahankan posisi gigi terendah pada mode manual (S), sembari menjaga putaran mesin di rentang 2.000-4.000 rpm, adalah jurusnya.

Fungsi traction control adalah mencegah ban kehilangan grip di atas permukaan jalan dengan membatasi penyaluran tenaga. Pada kondisi aktif, tenaga mesin tidak pernah seutuhnya tersalur ke roda penggerak. Oleh karena itu, jika sudah dibekali Traction Control non aktifkan dulu untuk sementara ketika harus menaklukkan tanjakan yang terjal.


Hal itu kami buktikan ketika berkelana ke kaki Gunung Argopuro di Kabupaten Probolinggo beberapa waktu lalu dengan unit Glory i-Auto 1.5 Turbo CVT (Baca: DFSK Glory i-Auto Intelligent: Midsize SUV Seharga Compact SUV).

OTOPLUS-ONLINE saat menjajal Glory i-Auto 1.5 Turbo CVT ke kaki Gunung Argopuro di Kabupaten Probolinggo awal Oktober lalu.

Yansen Tan, Operational Manager DFSK Surabaya yang mengandalkan Glory 580 1.5 Turbo CVT sehari-hari sepakat dengan menjaga putaran mesin saat menanjak tersebut sembari menambahkan, “Gunakan selalu bahan bakar sesuai panduan buku pentunjuk yakni memiliki kandungan oktan minimal 92.”

Teks & Foto: Nugroho Sakri Yunarto