Di Tengah Lesunya Daya Beli, Wholesales Mobil Meningkat 12,2 Persen pada Februari 2026
- Editor

- 21 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Toyota memimpin diikuti Daihatsu di posisi kedua dan Suzuki di peringkat ketiga.

OTOPLUS ONLINE I Di tengah masih lesunya daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga di tengah tekanan ekonomi di awal 2026 (sumber: Kementerian Keuangan), namun di saat yang sama, data industri otomotif justru memperlihatkan tren yang relatif positif.
Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan wholesales mobil pada Februari 2026 mencapai 81.159 unit, meningkat sekitar 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 72.344 unit.
Dalam daftar merek terlaris, dominasi pabrikan Jepang masih sangat kuat.
Toyota memimpin dengan penjualan 22.522 unit, diikuti Daihatsu di posisi kedua dengan 13.452 unit, serta Suzuki di peringkat ketiga dengan 9.659 unit.
Mitsubishi Motors berada di posisi keempat dengan 7.008 unit, sementara Honda melengkapi lima besar dengan 5.385 unit.
Sementara itu, merek asal China mulai menunjukkan pergerakan signifikan. BYD menempati posisi keenam dengan 4.653 unit, diikuti Jaecoo di peringkat ketujuh dengan 3.005 unit.
Di posisi berikutnya, Mitsubishi Fuso mencatat 2.506 unit, disusul Isuzu dengan 1.948 unit, dan Hyundai di posisi kesepuluh dengan 1.741 unit.
Urutan 10 besar merek mobil terlaris Februari 2026:
Toyota ā 22.522 unit
Daihatsu ā 13.452 unit
Suzuki ā 9.659 unit
Mitsubishi Motors ā 7.008 unit
Honda ā 5.385 unit
BYD ā 4.653 unit
Jaecoo ā 3.005 unit
Mitsubishi Fuso ā 2.506 unit
Isuzu ā 1.948 unit
Hyundai ā 1.741 unit
Perlu diketahui wholesales adalah penjualan dari pabrikan (produsen) ke dealer atau distributor, bukan langsung ke konsumen akhir.
Melihat dua fakta ini - daya beli yang masih menjadi perhatian pemerintah dan wholesales yang justru meningkat - muncul indikasi bahwa kenaikan pasar otomotif belum tentu sepenuhnya mencerminkan lonjakan permintaan riil dari konsumen.
Ada kemungkinan pertumbuhan ini didorong oleh distribusi stok ke dealer, strategi agresif pabrikan, serta faktor musiman menjelang periode konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Lebaran.
Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen juga mulai terlihat.
Merek dengan harga kompetitif dan value tinggi, terutama dari China, mulai mendapatkan ruang di pasar.
Artinya, bukan hanya soal āapakah daya beli naikā, tetapi juga bagaimana konsumen mengalokasikan daya beli yang terbatas.
Teks: Indramawan
Foto: GAIKINDO




Komentar