Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Energi Negara Asia, Bagaimana Pertamina Menyikapinya?
- Editor
- 3 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Jika konflik Iran, AS, Israel di Timur Tengah terus berlanjut, harga minyak mentah berpotensi naik mendekati atau melewati US$100 per barel.

OTOPLUS ONLINE I Di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, pasokan minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah ke negara‑negara Asia mengalami gangguan serius, menimbulkan ancaman nyata terhadap ketahanan energi regional.
Reuters melaporkan bahwa Asia masih sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah, dengan sekitar 60% minyak impor berasal dari wilayah ini, dan sebagian besar melalui Strait of Hormuz, jalur strategis yang menangani sekitar 20% aliran minyak dan LNG dunia.

Akibat serangan dan respons militer, banyak kapal tanker menunda atau menghindari transit karena risiko keamanan dan penarikan asuransi “war risk”, memicu penundaan kapal dan kenaikan harga energi global.
Tekanan terhadap pasokan ini tercermin di pasar global.
Analis memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut, harga minyak mentah berpotensi naik mendekati atau melewati US$100 per barel, berdampak langsung pada biaya energi, neraca perdagangan, dan inflasi di negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi.
Sebagai respons, beberapa negara Asia menyesuaikan produksi domestik.
Menurut The Economic Times, India meningkatkan produksi LPG untuk mengantisipasi potensi kekurangan akibat gangguan pasokan melalui Hormuz.
Kilang Indian Oil Corp., HPCL, dan BPCL menyesuaikan operasi untuk memaksimalkan output dan mengurangi ketergantungan impor dari Teluk Persia.

Bagaimana dengan Pertamina? Di tengah situasi ini, Pertamina menegaskan kesiapan dan ketahanan energi nasional.
Keselamatan pekerja dan kelancaran operasional menjadi prioritas, dengan penguatan mitigasi risiko dan pemantauan intensif.
Berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar, Konsulat Indonesia, dan otoritas lokal, Pertamina memastikan rantai pasok energi, dari minyak mentah hingga BBM dan LPG domestik tetap berjalan optimal.
Unit bisnis strategis yang terdampak termasuk Pertamina International Shipping (PIS) Non Captive, Pertamina Internasional EP (PIEP) di Basra, Irak, dan Pertamina Patra Niaga.
Dikutip dari situs resmi Pertamina, Vice President Corporate Communication, Muhammad Baron menekankan, pengawasan ketat armada dan fasilitas serta komunikasi intensif dengan otoritas setempat untuk menjaga keamanan kru dan kelancaran operasi.
Selain mitigasi jangka pendek, Pertamina menekankan komitmen transisi energi, mendukung Net Zero Emission 2060, SDGs, dan penerapan prinsip ESG di seluruh lini bisnis, memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat tetap aman, memadai, dan terkendali.
Teks: Indramawan
Foto: dari berbagai sumber
