Marc Marquez Berpeluang Rebut Gelar Juara Dunia MotoGP 2026, Regulasi Balap Tiba-Tiba Berubah Jelang Assen
- Editor

- 1 hari yang lalu
- 4 menit membaca
Grand Prix Commission mengumumkan pelarangan Holeshot Device dan perubahan Grid Start mulai seri Belanda dan Jerman.

OTOPLUS-ONLINE | Peluang Marc Márquez dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 kembali terbuka setelah kemenangan penting pada GP Brno akhir pekan lalu.
Dari tertinggal 65 poin dari pemuncak klasemen Marco Bezzecchi sebelum balapan, kini pembalap Ducati Lenovo Team tersebut berhasil memangkas jarak menjadi hanya 40 poin.
Namun di tengah momentum perebutan gelar yang mulai menghangat, paddock MotoGP justru diguncang oleh perubahan regulasi mendadak. Jika umumnya perubahan regulasi dilakukan di awal musim kompetisi, kini dilakukan di tengah musim kompetisi. Tepatnya akan langsung berdampak pada seri berikutnya, yakni MotoGP Belanda 2026 di sirkuit TT Assen!
Regulasi Baru: Holeshot Device Dilarang, Grid Start Diubah

Grand Prix Commission resmi mengumumkan dua perubahan besar yang akan langsung diterapkan secara bertahap mulai seri Belanda (Assen), dan Jerman (Sachsenring).
Perubahan paling signifikan adalah pelarangan penggunaan holeshot device pada fase start balapan dimulai, pada seri berikutnya MotoGP Belanda.
Perangkat yang selama ini digunakan untuk menurunkan posisi motor secara mekanis saat start itu kini tidak lagi diizinkan aktif saat race dimulai.
Holeshot device sebelumnya berfungsi untuk menurunkan pusat gravitasi motor saat start, mengurangi wheelie (roda depan terangkat) pada akselerasi awal, dan meningkatkan traksi ban belakang di fase launch.
Dengan regulasi baru ini, pembalap harus sepenuhnya mengandalkan kontrol manual tanpa bantuan mekanis tambahan di momen start.

Grand Prix Commission menegaskan bahwa perubahan regulasi ini didorong oleh tiga faktor utama.
Pertama adalah keselamatan pembalap, terutama di tikungan pertama yang menjadi titik paling rawan kecelakaan. Dengan kecepatan akselerasi MotoGP modern yang semakin tinggi, risiko tabrakan beruntun dianggap meningkat signifikan.
Kedua adalah upaya mengurangi ketergantungan pada perangkat mekanis dan elektronik dalam fase start. MotoGP ingin mengembalikan elemen start sebagai bagian yang lebih “natural”, di mana kemampuan pembalap menjadi faktor dominan.
Ketiga adalah standarisasi kompetisi, di mana perbedaan performa di awal balapan tidak terlalu dipengaruhi oleh keunggulan teknologi tertentu.
Baca juga: Di Giannantonio Menangkan MotoGP Catalunya 2026 yang Berlangsung Horor dengan 2 Kali Red Flag!
Perubahan regulasi ini langsung menjadi sorotan karena berdampak pada tim, terutama Ducati yang bisa dibilang sebagai pabrikan pertama yang berhasil mengadaptasi teknologi Motocross ini ke MotoGP pada akhir musim 2018.
Jika di Motocross, fungsi holeshot device adalah mengunci suspensi depan agar motor menunduk saat start, maka di MotoGP (Ducati), fungsi alat ini adalah menurunkan suspensi belakang menggunakan sistem mekanis atau hidrolik yang diaktifkan lewat tombol atau tuas di setang, untuk menurunkan pusat gravitasi motor.
Langkah berani Ducati ini kemudian memaksa seluruh pabrikan rival (Honda, Yamaha, Suzuki, Aprilia, dan KTM) untuk meniru sistem yang sama pada musim-musim berikutnya agar tidak tertinggal saat melakukan start.
Dalam pernyataan yang beredar di paddock, Ducati menyebut: “Setiap perubahan regulasi adalah bagian dari perkembangan kejuaraan. Kami akan selalu beradaptasi secepat mungkin dan tetap kompetitif dalam kondisi apa pun.”
Tim asal Bologna itu kini disebut mulai mengalihkan fokus pada penyempurnaan kontrol traksi dan stabilitas start tanpa bantuan perangkat ride-height maupun holeshot device.
Sementara itu, Marc Marquez, pembalap Ducati menilai bahwa regulasi baru merupakan bagian dari evolusi alami MotoGP yang harus dihadapi semua pembalap.
“MotoGP selalu berubah. Kalau aturan berubah, semua pembalap harus beradaptasi. Pada akhirnya, yang paling cepat beradaptasi akan tetap berada di depan,” ujar Márquez.
Komentar tersebut mencerminkan pendekatan pragmatis Márquez yang dikenal cepat beradaptasi dalam berbagai perubahan teknis sepanjang kariernya di MotoGP.

Selain itu, MotoGP juga menetapkan perubahan pada jarak antar posisi grid mulai GP Jerman di Sachsenring.
Jarak antar motor akan diperlebar untuk mengurangi risiko insiden beruntun di tikungan pertama, yang selama ini menjadi salah satu titik paling krusial dalam balapan.
Untuk itu, jarak antar satu pembalap dengan pembalap di depannya ditingkatkan dari 3 meter menjadi 4 meter.
Begitu juga jarak antar baris (Row Spacing) yang dibuat lebih renggang. Karena jarak per pembalap melonggar, otomatis jarak total antar baris grid di lintasan melar dari yang semula 9 meter menjadi 12 meter.
Perlu dicatat, perubahan ini tidak mengubah jumlah pembalap per baris. Formasi start tetap mempertahankan 3 pembalap per baris, hanya saja posisinya dibuat jauh lebih renggang ke belakang.
Dengan memperlebar jarak antar baris hingga 12 meter, Dorna dan FIM ingin mengurai penumpukan rombongan motor saat melakukan pengereman keras di tikungan pertama. Efeknya, pembalap memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk menghindar dan risiko kecelakaan karambol saat start bisa ditekan secara drastis seperti yang terjadi di Hungaria.
Baca juga: Marc Marquez Menang Lagi! Drama “Zero Grip” Kali Ini Benar-Benar Terjadi di MotoGP Hungaria 2026
Dengan regulasi baru yang langsung berlaku mulai TT Assen, MotoGP 2026 memasuki fase transisi penting menuju era baru yang lebih menekankan kemampuan pembalap.
Meski Ducati masih menjadi salah satu kekuatan dominan di grid, perubahan aturan ini membuka ruang kompetisi yang lebih seimbang di awal balapan.
Dan di tengah dinamika tersebut, nama Marc Márquez kembali muncul sebagai salah satu kandidat dalam perebutan gelar dunia MotoGP 2026.
Teks: Indramawan
Foto: MotoGP




Komentar