Ngegas MINI Cooper S 3-Door di Sirkuit Science Techno Park ITS: Punya Go-kart Feel Beneran!

Kita buktikan apakah MINI Cooper S 3-Door beneran memiliki sensasi seperti membesut gokart? Atau cuma gimmick marketing?

OTOPLUS-ONLINE I Buat generasi millennial, MINI itu bukan sekadar mobil. Ia semacam simbol gaya hidup: kecil, lucu, tapi sekali diinjak langsung nunjukin taringnya.
Nah, MINI Cooper S 3-Door generasi terbaru (F66) yang dipasarkan Plaza MINI ini katanya makin sakti soal "Go-Kart Feel"-nya. Tapi namanya juga klaim, ya harus dibuktikan dong. Makanya OTOPLUS ONLINE nggak mau cuma muter-muter di jalan kota.

Kami bawa si mungil ini ke sirkuit Science Techno Park ITS Surabaya. Panjang lintasannya 1,1 kilometer, dengan aspal nomor satu dan kombinasi lengkap: trek lurus, chicane, tikungan parabolic, sampai tikungan 180 derajat.
Lengkap banget buat menguji apakah sensasi gokart itu beneran ada atau cuma gimmick marketing.

Sebelum ngebut, kenalan dulu sama jeroannya. Dapur pacunya pakai mesin bensin 2.0 liter 4-silinder TwinPower Turbo dengan tenaga 201 DK dan torsi 300 Nm.
Mesin berkode B48 ini bukan nama baru di dunia BMW Group. Ia dikenal punya blok closed-deck yang kokoh, komponen internal yang bandel, dan sepasang balance shaft yang bikin putarannya halus. Jadi walau cuma empat silinder, rasanya tetap enak dan nggak kasar.
Tenaganya disalurkan lewat transmisi 7-percepatan Wet Dual-Clutch buatan Magna Getrag, kode 7DCT300. Kopling basahnya dikenal lebih tahan panas dibanding dry clutch, jadi lebih aman buat macet-macetan ala Surabaya. Soal spek di atas kertas, MINI mengklaim akselerasi 0-100 km/jam ditempuh 6,6 detik dengan top speed 242 km/jam. Angka yang bikin penasaran, kan?

Nggak kalah penting, unit yang dipasarkan Plaza MINI ini masih berstatus CBU dari Oxford. Bahkan ban Hankook Ventus S1 evo3 ukuran 215/40-18 yang membungkus pelek-nya pun buatan Hungaria. Harga ban ini sekitar Rp4,4 juta per buah, jadi jangan sampai asal drift ya, Bro. Dompet bisa ikut menjerit.

Masuk ke kabin, hal pertama yang bikin senyum adalah cara menyalakan mesinnya. Ada switch starter unik yang diputar seperti kunci kontak, namanya "Twist-to-Start" Key-Shaped Switch. Memang cuma detail kecil, tapi rasanya seperti ritual sebelum perang.
Ada juga aksen strap di setir dan lapisan kain ala karpet di dasbor serta doortrim yang unik. Cakep sih, tapi hati-hati, bahan ini rawan menyimpan debu.

Posisi mengemudinya ergonomis banget. Jok dan setir bisa disetel dengan rentang yang luas, jadi gampang cari posisi pas, apalagi buat dipakai ngebut. Sebagian besar switch dan tombolnya identik dengan BMW, jadi buat yang sudah akrab bakal langsung nyambung. Ditambah double panoramic glass roof plus sunroof di bagian depan, kabinnya terasa lega dan terang.

Tapi tentu ada catatannya. Switch transmisi di dasbor perlu pembiasaan soal penempatannya, begitu juga wireless charger yang posisinya berdiri tegak. Nggak fatal, cuma butuh beberapa hari sampai tangan hafal letaknya. Setelah itu, aman.

MINI menyediakan 6 mode berkendara: balance, timeless, vivid, personal, green, dan core. Buat sesi di sirkuit, tentu saja kami nggak mau yang kalem-kalem. Mode yang lebih agresif bikin respons gas makin tajam dan karakter mobil makin nakal. Rasanya seperti mengganti mood mobil cuma dengan satu sentuhan.

Begitu start meninggalkan pit, karakter kemudinya langsung terasa direct dan presisi. Putar setir sedikit, hidung mobil langsung nurut tanpa banyak drama.

Dimensi bodinya yang compact, dengan panjang 3.876 mm dan lebar 1.727 mm, bikin mobil ini gampang dilempar ke mana-mana. Pantas saja nyaman dibawa di jalan kota yang padat maupun rute antar kota.
Di tikungan, di situlah gokart feeling-nya keluar. Mobil ini beneran terasa nempel kuat di aspal, seolah ada rel tak terlihat yang menuntun ban depannya. Pusat gravitasi yang rendah dan bobot kosong sekitar 1.360 kg bikin perpindahan bobot di chicane terasa rapi dan minim limbung. Masuk tikungan parabolic dan hairpin 180 derajat? Betah banget, malah bikin pengin nambah lap.

Suspensinya berkarakter kaku tapi tidak keras. Memang didesain untuk menunjang pengendalian dan stabilitas, bukan buat kenyamanan sofa. Hasilnya, mobil terasa stabil dan percaya diri saat dibanting-banting, tapi masih cukup manusiawi untuk dipakai harian. Buat yang punya tulang punggung sensitif, tetap coba dulu ya sebelum beli.

Sekarang bagian paling seru: akselerasi. Di trek lurus sirkuit yang panjangnya sekitar 200 meter, OTOPLUS ONLINE mencatatkan kecepatan 124 km/jam! Untuk jarak sependek itu, angkanya sadis. Torsi 300 Nm terasa muncul instan dan mendorong punggung ke jok sport yang memeluk badan dengan baik.

Performa transmisi dual clutch-nya cocok banget dipadukan dengan mesin ini. Perpindahan giginya sigap dan nyaris tanpa jeda saat dikebut. Sayangnya, di kecepatan rendah atau jalan perlahan, ia masih terasa sedikit gagap dan tersendat. Ini memang karakter umum transmisi dual clutch sih, jadi buat pemakaian macet harian perlu sedikit toleransi.
Urusan pengereman, cakram 294 mm di depan dan 259 mm di belakang sangat meyakinkan, apalagi dipadu cengkeraman ban Hankook Ventus S1 evo3. Mobil bisa diperlambat dengan percaya diri sebelum masuk tikungan. Hanya saja, reaksi remnya kadang kurang terasa natural, kemungkinan imbas keberadaan fitur autohold.
Soal suara, deru dari ban tapak lebar ini lumayan menyusup masuk ke kabin, tapi buat sebagian orang itu justru bumbu yang bikin makin semangat.
Sekarang soal keiritan. MINI mengklaim konsumsi BBM 10-12 km/liter di dalam kota, 15-18 km/liter di tol, dan rata-rata 14-15 km/liter untuk rute kombinasi. Kenyataannya, dari pengetesan kami, konsumsi rata-rata di dalam kota berkutat di angka 7,9-9,1 km/liter. Jelas lebih boros dari klaim, tapi ya wajar lah, kami juga ngegasnya nggak pakai mikir.

Sekarang sisi yang kurang asyik. Kabin belakang jelas bukan tempat ideal untuk penumpang dewasa dengan postur 160 cm ke atas: legroom nyaris tidak ada dan headroom sangat terbatas. Kalau cuma numpang sebentar sih nggak apa-apa, tapi lebih dari sejam bakal capek. Pandangan ke depan pun terhalang sport seat dengan headrest menyatu. Bagasinya juga cuma 211 liter, jadi lupakan acara belanja bulanan sekeluarga.
Buat urusan perawatan, transmisi dual clutch-nya memang andal, tapi umur panjangnya sangat bergantung pada servis rutin. Disarankan mengganti oli transmisi sesuai panduan resmi, maksimal setiap 5 tahun atau sebelum menyentuh 60.000 km. Dan sebagai mobil Eropa, siapkan juga anggaran khas mobil premium untuk servis berkala, pajak, dan suku cadang.

Jadi, apakah gokart feeling-nya beneran ada? Jawabannya: ya, dan terasa banget. Setir presisi, bodi lincah, mesin responsif, dan rem yang meyakinkan membuat MINI Cooper S 3-Door ini menyenangkan di sirkuit sekaligus di jalan raya.
Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan MINI Cooper S Electric Seharga Satu Milyar Terungkap Usai Test Drive
Memang ruang belakang sempit, bagasi kecil, dan perawatannya tidak murah. Tapi buat kamu yang menomorsatukan keseruan di balik kemudi, mobil ini adalah teman ngegas yang susah ditolak.
Siap jadi pemilik berikutnya? Sisihkan anggaran Rp1,2 M buat menebusnya.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto



