no na Luncurkan Single “HONK!” Bawa Angkot dan "Om Telolet" Om ke Panggung Global

no na angkat kembali fenomena "Om Telolet Om" yang viral secara global pada 2016 melalui single HONK!

OTOPLUS-ONLINE I Bagi masyarakat Indonesia, angkot bukan kendaraan yang identik dengan kemewahan. Ia lebih dekat dengan rutinitas: menunggu di pinggir jalan, berdesakan dengan penumpang lain, hingga mendengar suara klakson yang menjadi bagian dari kehidupan jalanan.
Namun, girl group Indonesia, no na memberikan panggung berbeda melalui single terbaru “HONK!”. Kendaraan umum khas Indonesia tersebut diubah menjadi bagian dari perjalanan budaya I-Pop yang membawa identitas lokal menuju audiens global.
No na yang beranggotakan Baila, Christy, Esther dan Shaz menempatkan suara klakson angkot sebagai salah satu elemen pembuka “HONK!”.

Dalam bio resminya, no na menyebut lagu tersebut mengubah perjalanan sehari-hari dengan angkot di Indonesia menjadi petualangan pop yang tak terlupakan.
Artinya, angkot bukan sekadar properti visual. Ia menjadi representasi pengalaman mobilitas yang sangat Indonesia.
Dari angkot hingga “Om Telolet Om”

Suara klakson juga mengingatkan pada fenomena “Om Telolet Om”, ketika anak-anak di pinggir jalan meminta pengemudi bus membunyikan klakson khas kendaraan mereka.
Fenomena yang sempat viral secara global pada 2016 itu kini mendapatkan konteks baru melalui musik no na.
Bagi no na, memasukkan elemen lokal bukan sesuatu yang dibuat-buat. Shaz mengatakan, "Banyak hal-hal yang kami masukkan (dalam lagu dan musik) merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan kami dan terasa sangat alami."
Ia kemudian menjelaskan pendekatan mereka dengan pertanyaan sederhana, "Pakaian apa yang kita kenakan sehari-hari? Apa yang kita biasa lakukan?”
Jawabannya adalah kehidupan Indonesia sehari-hari, termasuk angkot!
Secara visual, “HONK!” juga memainkan estetika Y2K. Namun, nostalgia awal 2000-an itu tidak diterjemahkan melalui mobil sport atau kendaraan mewah. no na justru memilih angkot, lalu memadukannya dengan fashion dan produksi pop modern.
Angkot sebagai identitas


Pilihan tersebut sejalan dengan konsep I-Pop atau Island Pop yang menjadi bagian dari identitas no na.
Baila mengatakan, “Di Indonesia, kita punya 17.000 pulau yang berbeda, dan kami adalah gadis-gadis kepulauan. Jadi kami adalah ‘Island pop!’”
Konsep itu kemudian menjadi fondasi album debut Island Girl. “Honk!” pun terasa seperti salah satu contoh bagaimana no na menerjemahkan pengalaman Indonesia ke dalam bahasa pop global.
Baca juga: Fakta Menarik di Balik Ditunjuknya Rookie K-Pop Hearts2Hearts Jadi Brand Ambassador Kia di Indonesia
Dari perspektif otomotif, pendekatan ini menarik. Kendaraan tidak selalu harus menjadi simbol teknologi, performa atau kemewahan. Angkot adalah bagian dari budaya mobilitas Indonesia, dari bentuk kendaraan, suara klakson, hingga interaksi pengemudi dan penumpangnya.
Christy mengungkapkan ambisi mereka, “Impian kami adalah membuat Indonesia lebih dikenal di dunia.”
Sementara Baila menegaskan, “Kami benar-benar ingin membuat negara kami bangga.”
Maka “HONK!” bukan sekadar lagu dengan angkot sebagai latar. Ini adalah cara no na menjadikan kendaraan rakyat sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Dari klakson angkot di jalanan Indonesia, no na mengajak dunia untuk ikut naik angkot. Get on the angkot. The ride has just begun...
Teks: Indramawan
Foto: @nonawav



