No Na dan Kebangkitan I-Pop di Tengah Polemik Pick Up Impor India
- Editor

- 26 Feb
- 2 menit membaca
Saat budaya pop Indonesia mulai berani menegaskan identitasnya, industri otomotif nasional justru dihadapkan pada polemik masuknya pick-up impor dari India.

OTOPLUS ONLINE I Fenomena no na bukan hanya tentang kelahiran girl group baru di bawah naungan 88rising. Mereka adalah simbol dari sesuatu yang lebih besar: kebangkitan i-Pop dengan identitas yang berani menampilkan Indonesia sebagai pusat narasi, bukan sekadar latar.
Di tengah arus globalisasi budaya pop Asia, no na memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak menyamarkan akar, justru menampilkannya.

Dalam video klip āShootā, pesan itu terasa jelas. Hamparan sawah, lanskap hijau, dan suasana pedesaan bukan sekadar estetika visual. Itu adalah pernyataan. Indonesia bukan hanya pasar, tetapi identitas!


Di salah satu adegan, para personel berdiri dan bernyanyi di bak sebuah mobil pick-up berwarna krem. Kendaraan itu bukan SUV premium, bukan simbol kemewahan metropolitan. Ia adalah kendaraan niagaāyang akrab dengan petani, pedagang, dan pelaku UMKM.
Dari bentuk kabin dan proporsinya, kendaraan tersebut kemungkinan besar adalah model klasik seperti Suzuki Carry Pick Up atau Mitsubishi Colt T120SSādua nama yang selama puluhan tahun identik dengan denyut ekonomi rakyat dan diproduksi di dalam negeri.
Tidak ada logo yang diperlihatkan secara eksplisit. Tidak ada framing heroik ala iklan otomotif. Justru di situlah letak maknanya: mobil itu hadir sebagai identitas budaya Indonesia, bukan negara lain!
Simbol ini menjadi menarik ketika diletakkan dalam konteks yang lebih luas. Saat budaya pop Indonesia mulai berani menegaskan identitasnya, industri otomotif nasional justru dihadapkan pada polemik masuknya pick-up impor dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih.
Di tengah desakan sebagian pelaku industri untuk menunda atau meninjau ulang kebijakan tersebut demi melindungi manufaktur lokal, kendaraan impor tetap masuk.
Tentu, ada alasan ekonomi: efisiensi produksi regional, skema perdagangan bebas, hingga strategi global principal. Namun pertanyaan editorialnya sederhana: ke mana arah keberpihakan kebijakan industri kita? Apakah Indonesia ingin menjadi basis produksi yang kuat, atau sekadar pasar yang luas?
Baca juga: NEW Colt L300 Euro4 2023 dengan Pelek R17, Josss untuk Angkut Muatan 3 Ton Bromo-Surabaya!
Budaya sering kali lebih jujur daripada kebijakan. Ketika no na memilih menampilkan kendaraan kerja rakyat dalam narasi visual mereka, itu seperti cermin kecil tentang kebanggaan terhadap keseharian Indonesia.
Sementara itu, kebijakan yang membuka ruang lebih lebar bagi produk impor menghadirkan ironi tersendiri.
Editorial ini tidak bermaksud menghakimi, apalagi menyederhanakan persoalan kompleks industri otomotif. Namun konsistensi adalah hal yang layak dipertanyakan.
Jika budaya pop generasi muda mulai mengangkat simbol produksi dan kehidupan lokal, mengapa arah kebijakan industri tidak menunjukkan semangat yang sama?
Jika no na bisa tampil dengan wajah Indonesia yang percaya diri, bukankah regulator seharusnya juga menunjukkan kepercayaan yang sama pada produk buatan negeri sendiri?
Teks: Indramawan
Foto: Instagram@nonawav




Komentar