Pakar Transportasi Darat ITS Ungkap Perlintasan Tidak Sebidang Jadi Solusi Efektif Tekan Risiko Kecelakaan Kereta
- Editor

- 29 menit yang lalu
- 2 menit membaca
Tragedi kecelakaan di perlintasan kereta api dekat Stasiun Bekasi Timur menegaskan tingginya risiko perlintasan sebidang di Indonesia.

OTOPLUS ONLINE I Tragedi kecelakaan di perlintasan kereta api dekat Stasiun Bekasi Timur kembali menegaskan tingginya risiko perlintasan sebidang di Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, pakar transportasi darat dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ir. Hera Widyastuti, menegaskan bahwa solusi paling efektif untuk menekan potensi kecelakaan adalah dengan menghilangkan pertemuan langsung antara jalur kereta dan kendaraan melalui pembangunan perlintasan tidak sebidang.

āJika kita ingin menghindari benturan langsung, maka perlintasan tidak sebidang adalah jawaban utamanya,"ujar Prof. Ir. Hera Widyastuti.
Menurutnya, perlintasan sebidang memiliki kelemahan dari sisi desain.
Posisi rel yang umumnya lebih tinggi dari jalan membuat kendaraan harus melintas dalam kondisi menanjak.
Situasi ini kerap memicu kesalahan teknis, seperti perpindahan gigi yang tidak tepat hingga menyebabkan kendaraan mati di atas rel.
Ia menjelaskan, āKepanikan saat menanjak membuat pengendara kadang salah pindah gigi, sehingga berisiko mesin mobil mati tepat di atas rel.ā

Selain itu, sistem perlintasan sebidang sangat bergantung pada faktor manusia, baik dari sisi kepatuhan pengguna jalan maupun fungsi palang pintu.
Padahal, kereta api memiliki karakteristik yang tidak memungkinkan untuk berhenti secara mendadak.
Dengan kecepatan tinggi dan jarak pengereman yang panjang, risiko kecelakaan akan selalu ada selama jalur kendaraan dan kereta masih saling bersinggungan.
Ia menegaskan, āPerlintasan sebidang akan selalu menjadi titik rawan selama masih terjadi pertemuan langsung antara arus kendaraan dan laju kereta api.ā
Sebagai langkah jangka panjang, pembangunan infrastruktur seperti jalan layang (flyover) atau terowongan (underpass) dinilai menjadi solusi paling aman karena mampu memisahkan sepenuhnya arus kendaraan dan kereta api.
Dengan demikian, risiko benturan dapat ditekan secara signifikan.
Kebutuhan akan perlintasan tidak sebidang juga semakin mendesak, terutama di wilayah perkotaan seperti Surabaya yang tengah bersiap mengoperasikan Surabaya Regional Railways Line (SRRL).
Dengan peningkatan frekuensi perjalanan kereta di masa depan, keberadaan perlintasan sebidang dinilai tidak lagi relevan, khususnya di kawasan padat penduduk.
Ia pun mengingatkan, āSudah saatnya kita mengawal transisi ini agar perlintasan sebidang, terutama di area padat penduduk, segera ditiadakan demi keselamatan bersama.ā
Upaya ini sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam aspek pembangunan infrastruktur yang aman dan berkelanjutan, serta mendukung terciptanya sistem transportasi yang lebih aman dan inklusif bagi masyarakat.
Teks: Indramawan
Foto: Humas ITS




Komentar