Riding Experience Honda Vario Evo 160: Galak di Mesin, Perlu Doa di Kaki-kaki

Honda Vario Evo 160 datang dengan tampang lebih segar dan mesin yang katanya... makin galak. Setelah dicoba langsung, ini cerita riding experience-nya.

OTOPLUS-ONLINE I Skutik 160 cc sudah jadi teman setia anak kota. Ia lincah di macet, masih tergolong irit di dompet, dan tampilannya nggak malu-maluin buat nongkrong. Honda Vario Evo 160 datang dengan tampang lebih segar dan mesin yang, katanya, makin galak. Setelah dicoba langsung, ini cerita riding experience-nya.

Kesan pertama datang dari posisi berkendara. Setangnya rendah dan agak sempit, dengan komposisi segitiga berkendara khas Vario. Hasilnya badan terasa sigap dan gampang dikontrol, cocok buat selap-selip di jalanan padat.

Soal jok, kami sempat waswas karena busanya terkenal agak keras. Ternyata di varian ABS yang kami coba, joknya nggak sekaku yang dibayangkan. Buat perjalanan 25 sampai 30 km, pantat masih aman dan nyaman. Kalau rutenya lebih jauh, jok ini bisa mulai bikin pegal.

Sekarang bagian serunya, yaitu mesin. Torsinya naik jadi 14 Nm di 6.500 rpm berkat kalibrasi ulang ECU, dan tarikan bawahnya terasa lebih responsif.

Buat kondisi stop-and-go di kota, ini enak banget. Lepas dari lampu merah, motor langsung melesat tanpa banyak mikir. Performanya masuk kategori sadis.
Di website resmi, top speed diklaim 109 km/jam, tapi kenyataannya angka 118 km/jam di spidometer gampang banget muncul. Harus diakui, di kelasnya kemampuan mesin Vario Evo 160 belum ada lawan.
Tenaga sebesar itu butuh sasis yang bisa mengimbangi, dan di sinilah ceritanya jadi lebih rumit. Vario Evo 160 memakai rangka Underbone eSAF (enhanced Smart Architecture Frame). Rangkanya terasa rigid dan nurut saat diajak bermanuver, jadi urusan gesit di tikungan dan slalom aman.

Masalahnya ada di fork depan. Diameter as sok cuma 26 mm dengan travel suspensi hanya 7,5 cm, dan kerjanya terasa keteteran menjaga stabilitas saat motor melaju kencang. Kalau lagi berboncengan, kesannya makin kentara. Buat kamu yang suka gas pol, ingat ya: mesinnya kuat, tapi kaki-kakinya punya batas.

Kabar baiknya, sokbreker belakang no complaint. Meski masih model tunggal dan di atas kertas kurang ideal untuk jalan rusak berat, kerjanya cukup oke selama riding.
Stabilitas juga banyak tertolong ban lebar berukuran 100/80-14 di depan dan 120/70-14 di belakang. Cengkeramannya bikin percaya diri, terutama saat menikung atau pengereman mendadak. Jadi meski suspensi depan agak kewalahan, ban lebar ini jadi penyelamat.

Perubahan desain yang paling terasa ada di leg shield. Di generasi sebelumnya, lutut sering beradu dengan sudut leg shield yang lancip dan bikin nggak nyaman.
Di Vario Evo 160, posisinya dinaikkan sehingga lutut nggak langsung beradu. Kelihatannya sepele, tapi dampaknya lumayan buat kenyamanan harian, apalagi buat pengendara yang kakinya panjang. Ini contoh upgrade kecil yang terasa besar.
Sayangnya, desain dek lantai nggak disentuh sama sekali. Ruang kaki tetap terbatas dan area yang tersedia sempit. Meski begitu, posisinya masih tergolong ergonomis, dan dek rata ini tetap fungsional buat menaruh barang bawaan harian.

Fitur praktis lainnya juga bertambah, seperti soket USB Type-C di laci tertutup dan pop-up hook yang lebih fungsional.
Tampilannya pun makin sporty, dengan lekukan bodi depan lebih tajam, aksen karbon, striping modern, dan pilihan varian CBS, CBS Nitro, dan ABS. Soal konsumsi BBM, catatan sekitar 47,7 km/liter menunjukkan irit tetap jadi andalannya meski akselerasi makin ngegas.

Tapi ada beberapa catatan yang perlu kamu tahu sebelum menebus. Varian CBS standar masih pakai rem teromol belakang, beda dengan varian ABS yang sudah cakram depan-belakang.

Lampu hazard juga belum tersedia, padahal beberapa kompetitor sekelas seperti Yamaha Aerox 155 sudah punya.
Baca juga: Vario Evo 160 Digosipkan Siap Tantang AEROX 155, Yamaha Malah Sudah Siapkan AEROX E Versi Listrik!
Kesimpulannya, Vario Evo 160 cocok banget buat kamu yang mau skutik irit dengan tenaga bertenaga, tampilan segar, dan fitur praktis buat mobilitas harian.

Kalau sering touring jauh atau boncengan sambil ngebut, siapkan perhatikan batas suspensi khususnya sok depan dan modifikasi jok utamanya di sisi pembonceng yang kelewat sempit sehingga tidak maksimal menopang pantat. Kalau untuk pemakaian kota sehari-hari, Vario Evo 160 tetap salah satu alternatif pilihan terbaik.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto



