Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 Resmi Dibuka, Mesin Printing Buatan Tangerang Harga Terjangkau Curi Perhatian
- Editor

- 7 jam yang lalu
- 4 menit membaca
Di tengah dominasi mesin impor di SPE 2026, DAG Printer dari Tangerang membawa mesin single-pass produksi lokal yang dibanderol sekitar Rp135 juta.

OTOPLUS-ONLINE I Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi deretan mesin cetak impor dan teknologi grafika global. Di antara lebih dari 150 peserta pameran yang hadir di Grand City Convention Center, Surabaya, 8–11 Juli 2026, ada satu peserta yang menarik perhatian karena membawa mesin printing produksi dalam negeri, tepatnya dari Tangerang.
Adalah DAG Printer, atau Digital Art Graphic, yang memamerkan DAG MX-1 DS, mesin digital printing single-pass buatan lokal. Kehadirannya menjadi menarik karena industri mesin percetakan di Indonesia masih sangat bergantung pada produk impor, terutama untuk teknologi inti.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim selaku penyelenggara SPE 2026 mengakui mesin printing yang benar-benar diproduksi di dalam negeri masih belum banyak. Menurutnya, sebagian produk yang beredar di pasar lokal pada dasarnya masih berupa hasil perakitan, dengan komponen utama seperti printhead dan sistem elektronik tetap didatangkan dari luar negeri.

“Mesin dalam negeri tidak banyak. Ada, tapi itu assembling sebenarnya. Part-nya masih impor, di sini bodinya diproduksi dalam negeri, tapi isinya atau otaknya masih impor,” ujar Daud saat ditemui di SPE 2026.
Daud menyebut komponen penting, termasuk printhead, masih banyak berasal dari China maupun Jepang. Ia memperkirakan, jika berbicara mengenai mesin percetakan, sekitar 95 persen produk yang beredar di pasar masih merupakan mesin impor.
Di sisi lain, ia melihat kandungan lokal yang lebih tinggi sudah mulai terlihat pada mesin laminasi. Untuk produk tersebut, tingkat kandungan dalam negeri disebut bisa mencapai sekitar 70 persen. Sementara untuk material pendukung, kondisi industri lokal dinilai lebih siap karena tinta, kertas, hingga bahan vinil untuk kebutuhan cetak indoor dan outdoor sudah banyak diproduksi di dalam negeri.


Kondisi itulah yang membuat kehadiran DAG Printer terasa relevan. Owner DAG Printer, Beni “Ibenz” Mulya, menjelaskan DAG MX-1 DS merupakan mesin single-pass yang dirancang dan diproduksi oleh perusahaannya di Tangerang.
Berbeda dengan sistem digital printing konvensional yang menggerakkan printhead ke kiri dan kanan, mesin single-pass bekerja dengan media yang melintas satu kali di bawah printhead. Konsepnya menyerupai alur kerja mesin offset, tetapi mampu mencetak full color secara langsung.
“Kalau mesin pada umumnya printhead-nya bergerak kiri-kanan. Kalau ini layaknya mesin offset, tapi sudah full color. Sekali lewat bisa langsung jadi,” kata Beni.


DAG MX-1 DS ditujukan untuk aneka kebutuhan percetakan, mulai undangan, buku, nota NCR, hingga kemasan. Mesin ini juga dirancang fleksibel untuk menangani media dengan ketebalan berbeda, mulai dari bahan tipis sampai material dengan tinggi mencapai 8 cm. Kecepatan cetaknya disebut dapat mencapai 20 meter per menit.
Beni menambahkan, produksi lokal bukan berarti menutup mata terhadap keberadaan mesin China. Namun, menurutnya, kedekatan produsen dengan pengguna menjadi keunggulan yang sulit ditawarkan oleh produk impor, terutama dalam urusan konsultasi teknis, ketersediaan suku cadang, dan penanganan gangguan mesin.
“Kalau di dalam negeri, konsultasi teknikalnya lebih mudah. Harganya juga bisa bersaing dengan China. Ketika ada trouble, customer bisa konsultasi langsung ke kami. Spare part juga ada, jadi kalau downtime bisa lebih cepat diantisipasi,” ujarnya.
Untuk DAG MX-1 DS, harga yang ditawarkan berada di kisaran Rp135 juta. Beni menilai, mesin dengan kemampuan sejenis dari luar negeri dapat dibanderol di atas Rp200 juta. Selisih tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha percetakan, termasuk UMKM, untuk memiliki alat produksi dengan investasi yang lebih terjangkau.
Meski demikian, kapasitas manufakturnya masih terbatas. DAG Printer saat ini mampu memproduksi sekitar 5–10 unit mesin per bulan. Selain DAG MX-1 DS, perusahaan juga memiliki DAG MX-1 Plus dengan format A3, serta layanan mesin custom sesuai kebutuhan pelanggan. Untuk kebutuhan tertentu, seperti cetak media plastik, lebar mesin dapat dibuat hingga 2 meter.

DAG Printer juga membawa mesin modifikasi berbasis printer Epson seharga hanya Rp13,5 juta. Produk tersebut dikembangkan dengan tambahan software dan sistem roll-to-roll agar dapat digunakan untuk mencetak lanyard maupun kemasan, bukan hanya dokumen di atas kertas seperti fungsi awal printer standar.

Beni mengatakan, pengembangan mesin lokal perlu dilihat sebagai proses bertahap. Ada produk yang masih memanfaatkan basis perangkat dari merek global, tetapi ada pula mesin yang dibangun sendiri untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih spesifik.

SPE 2026 sendiri memasuki penyelenggaraan ke-19 dan digelar oleh Krista Exhibitions sebagai wadah pertemuan produsen, distributor, pelaku usaha, desainer, serta profesional industri grafika. Pameran ini menghadirkan teknologi digital printing, offset printing, 3D printing, UV printing, hingga sistem cetak berbasis web, dengan target 15.000 pengunjung selama empat hari penyelenggaraan.
Bagi pelaku usaha percetakan, UMKM, desainer grafis, maupun profesional industri kreatif yang ingin melihat langsung teknologi yang dipamerkan, Surabaya Printing Expo 2026 masih berlangsung hingga 11 Juli 2026 di Grand City Convention Center, Surabaya. Pameran dibuka pukul 10.00–19.00 WIB. Pengunjung dapat melakukan registrasi secara online melalui halaman registrasi resmi SPE 2026 atau mendaftar langsung di lokasi pameran.
Di tengah derasnya arus teknologi impor, kehadiran mesin produksi Tangerang di SPE 2026 memberi sinyal bahwa industri grafika nasional tidak hanya harus menjadi pasar. Jika lebih banyak pelaku lokal berani tampil, membangun kemampuan manufaktur, dan memperkuat layanan purnajual, ketergantungan pada mesin impor berpeluang dikurangi secara perlahan.
Bukan berarti seluruh komponen harus langsung sepenuhnya lokal. Namun, keberanian memproduksi mesin, mengembangkan desain, menyediakan suku cadang, dan memberi dukungan teknis dari dalam negeri dapat menjadi fondasi awal agar industri mesin printing Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat di pasar sendiri.
Teks dan Foto: Indramawan




Komentar