Surabaya Printing Expo 2026 akan Pamerkan Mesin Percetakan Buatan Indonesia: Harga Makin Terjangkau, Peluang Usaha di Daerah Kian Terbuka
- Editor

- 3 Jul
- 4 menit membaca
Diperbarui: 4 Jul
Mesin percetakan buatan Indonesia di Surabaya Printing Expo 2026 mendorong peluang usaha di daerah dengan harga terjangkau.

OTOPLUS-ONLINE I Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 tidak hanya akan menampilkan teknologi percetakan dari berbagai merek global. Untuk pertama kalinya dalam penyelenggaraan pameran ini, sejumlah stan juga akan memamerkan mesin produksi percetakan karya pelaku industri dalam negeri.
Pameran industri percetakan terbesar di Indonesia Timur tersebut akan berlangsung pada 8–11 Juli 2026 di Grand City Convention Center, Surabaya. Memasuki penyelenggaraan ke-19, SPE 2026 menghadirkan lebih dari 150 peserta, termasuk 10 pelaku UMKM, dan menargetkan 15.000 pengunjung selama empat hari.

Dalam sesi Konferensi Pers Surabaya Printing Expo 2026 yang diadakan pada Jumat, 3 Juli 2026 di Ruang Cozze, Lantai 3 Grand City Mall Surabaya, Ketua DPD PPGI Jawa Timur, Iwan Dhamar, menyebut kehadiran mesin produksi anak bangsa sebagai salah satu hal yang membanggakan dalam SPE 2026.
Menurutnya, pameran kali ini menjadi kesempatan bagi pengunjung untuk melihat langsung kemampuan pelaku industri lokal dalam merakit dan menciptakan mesin dengan teknologi baru.

“Yang membanggakan, ada beberapa stan yang menampilkan industri mesin produksi anak bangsa. Beberapa pelaku industri kreatif merakit dan menciptakan mesin-mesin baru dengan teknologi baru yang dibuat sepenuhnya di dalam negeri,” ujar Iwan.



Pelaku industri dalam negeri perlu mendapat dukungan agar Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap mesin dari luar negeri, sekaligus memperkuat fondasi industri manufaktur nasional (Foto: Dokumentasi SPE 2024 / OTOPLUS ONLINE).
Kehadiran mesin produksi lokal tersebut menjadi penting karena industri percetakan selama ini masih banyak bergantung pada peralatan impor. Iwan menilai inovasi dari pelaku industri dalam negeri perlu mendapat dukungan agar Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap mesin dari luar negeri, sekaligus memperkuat fondasi industri manufaktur nasional.
Dengan pasar domestik yang besar, ia mendorong industri untuk lebih dahulu menggarap kebutuhan dalam negeri. Mesin yang semakin terjangkau juga diyakini dapat memperluas peluang usaha percetakan hingga ke daerah, tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.
“Kalau kita bicara pasar global, tentu ada yang bisa menciptakan pasar ekspor. Tetapi kita fokus dulu menggarap pasar domestik. Ini yang membuat kita bertumbuh,” katanya.
Menurut Iwan, perubahan pola pemasaran ikut memperluas potensi bisnis percetakan. Jika sebelumnya penjualan lebih banyak mengandalkan pendekatan langsung, kini produk dan jasa percetakan dapat menjangkau konsumen lebih luas melalui marketplace serta kanal online. Kondisi ini membuka peluang bagi lahirnya wirausaha baru, termasuk di wilayah pedesaan.
Selain mesin produksi lokal, SPE 2026 akan menampilkan berbagai inovasi teknologi percetakan, mulai dari digital printing, offset printing, 3D printing, UV printing, hingga *web-based printing system*. Teknologi tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan industri terhadap proses produksi yang lebih cepat, efisien, fleksibel, dan mampu melayani pesanan dalam jumlah kecil hingga produk yang dipersonalisasi.
Iwan menegaskan perkembangan media digital tidak mematikan industri percetakan. Yang berubah, menurutnya, adalah bentuk kebutuhan pasar. Jika sebelumnya percetakan identik dengan buku, surat kabar, brosur, leaflet, poster, dan materi promosi konvensional, kini pertumbuhan justru banyak datang dari sektor kemasan, label, merchandise, dan produk kreatif yang semakin personal.
Kemajuan teknologi digital membuat pelaku UMKM dapat memesan produk cetak dalam jumlah kecil, bahkan satuan. Kemasan dan merchandise juga dapat dibuat secara customized sesuai kebutuhan konsumen, segmen pasar, atau momentum tertentu.
“Kalau dulu percetakan harus dalam jumlah besar, UKM tidak bisa menjangkau minimum order yang ditetapkan percetakan. Tapi sekarang dengan minimum order satu pun bisa dibuat,” jelasnya.
Teknologi 3D printing, perangkat lunak desain, hingga artificial intelligence atau AI juga dinilai mempercepat proses kreatif dan produksi. Teknologi tersebut membuka peluang baru bagi pelaku usaha untuk menghadirkan produk promosi yang lebih personal dan bernilai tambah.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan SPE 2026 diharapkan menjadi momentum strategis bagi pelaku industri untuk memperkenalkan perkembangan teknologi terkini, menawarkan solusi produksi yang lebih inovatif dan berdaya saing, serta menjalin kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan.


“Penyelenggaraan Surabaya Printing Expo 2026 diharapkan menjadi momentum strategis bagi para pelaku industri untuk memperkenalkan perkembangan teknologi percetakan terkini, menawarkan solusi produksi yang lebih inovatif dan berdaya saing, serta menjalin kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Daud.
Baca juga: Surabaya Printing Expo 2023 Pamerkan Teknologi Terkini Mulai Skala Kecil, Menengah, dan Besar
Ketua Umum PPGI, Ahmad Mughira Nurhani, menambahkan SPE 2026 bukan sekadar ajang jual-beli mesin. Pameran ini juga menjadi ruang solusi bisnis bagi industri grafika untuk merespons tekanan ekonomi, perubahan perilaku konsumen, dan kebutuhan efisiensi produksi.
Menurutnya, pelaku industri kini perlu melihat peluang yang lebih besar pada sektor packaging, labeling, smart packaging, percetakan kustom, serta kebutuhan cetak untuk e-commerce. Sektor tersebut dinilai tetap tumbuh progresif ketika pasar cetak komersial konvensional mulai menghadapi kejenuhan.
Baca juga: Surabaya Printing Expo 2023 Turut Pamerkan Teknologi Digital Printing Industri Kreatif Otomotif
SPE 2026 juga menghadirkan seminar dan workshop untuk pelaku UMKM, industri kreatif, desainer, mahasiswa, serta masyarakat umum. Di antaranya workshop "Dari Ide ke Merchandise: Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Desain Merchandise Kreatif" serta seminar "Strategi UMKM Naik Kelas Melalui Bisnis Kreatif & Kemasan Produk."

Pameran ini mendapat dukungan dari PPGI yang menaungi sekitar 600 perusahaan grafika di 23 provinsi, serta sejumlah kementerian, pemerintah daerah, asosiasi, dan institusi terkait.
Pengunjung dapat melakukan registrasi secara online melalui laman Krista Exhibitions atau langsung di Grand City Convention Center selama pameran berlangsung pukul 10.00–19.00 WIB.
Teks dan Foto: Indramawan




Komentar