Terdampak Pasokan BBM, Industri Tekstil Mulai Beralih ke Truk Listrik
- Editor

- 2 menit yang lalu
- 2 menit membaca
PT Primarajuli Sukses (PRS) operasikan kendaraan listrik didukung KALISTA sebagai penyedia ekosistem kendaraan listrik komersial.

OTOPLUS ONLINE I Gangguan pasokan dan fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) akibat dinamika global mulai dirasakan sektor logistik di Indonesia.
Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk mencari alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Salah satu langkah dilakukan PT Primarajuli Sukses (PRS), anak usaha PT Ever Shine Tex Tbk, yang mulai mengoperasikan kendaraan listrik untuk distribusi.
Implementasi ini didukung KALISTA sebagai penyedia ekosistem kendaraan listrik komersial.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari strategi Ever Shine Group dalam meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendukung target net zero emission 2060.
Perusahaan menargetkan sekitar 70% kebutuhan energinya berasal dari sumber terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya dan pembangkit berbasis gas.
Dalam operasionalnya, PRS menggunakan skema fleet-as-a-service dari KALISTA, sehingga tidak memerlukan investasi awal kendaraan.
Kepemilikan dan pengelolaan armada sepenuhnya ditangani KALISTA, termasuk perawatan, layanan purna jual, serta integrasi teknologi.
Dengan demikian, PRS dapat fokus pada kegiatan distribusi. Langkah ini juga menjadi salah satu implementasi awal di sektor tekstil.


Direktur Ever Shine Group, Michael Sung, menyatakan, "Kami menjawab tantangan kelangkaan BBM dengan mengambil langkah strategis untuk memulai adopsi EV sebagai kendaraan operasional kami. Penggunaan 6 (enam) truk listrik akan digunakan untuk distribusi produk di area Jakarta dan Bandung kepada end customer kami seperti Uniqlo, Atalon, Shopee, Gojek, Grab, Torch dan Eiger. Sebelumnya, kami sudah melakukan uji coba bersama KALISTA untuk dua tipe truk yang digunakan, dengan hasil yang sangat positif, tercatat, kami bisa menghemat biaya bahan bakar hingga 40%."
KALISTA turut melakukan analisis kebutuhan operasional serta menyediakan infrastruktur pengisian daya di sepanjang rute distribusi.
Armada listrik yang digunakan mampu menempuh jarak hingga 200 km dalam sekali pengisian, dengan waktu pengisian sekitar 40 menit.
Hasil uji coba menunjukkan penghematan energi hingga 40%, penurunan emisi sebesar 30%, serta efisiensi biaya operasional mencapai 27% per bulan.
Pendekatan ini dinilai berpotensi diterapkan di sektor industri lain dengan kebutuhan distribusi serupa.
Teks: Indramawan
Foto: Istimewa




Komentar