Tes Pemakaian Harian Honda New Vario 125 Sporty Sejauh 177 Km: Pas Banget!

Secara teknis dan dimensi, Honda New Vario 125 Sporty merupakan skutik yang pas dengan karakter dan postur orang Indonesia.

OTOPLUS-ONLINE I Kecuali setang dan fitur, Honda New Vario 125 Sporty ini tidak menyuguhkan perbedaan mendasar dengan Vario Street 125 yang telah OTOPLUS-ONLINE ulas bulan April lalu.
Seperti diutarakan Hikaru Yokomura, Vario 125 Large Project Leader dari Honda R&D Southeast Asia Co., Ltd, āSecara teknis dan dimensi Vario 125 merupakan skutik yang pas dengan karakter dan postur orang Indonesia. Skutik ini juga tergolong nyaman untuk penggunaan harian.ā
Dari pengalaman OTOPLUS ONLINE bersama generasi pertama Vario 125 yang meluncur 2013 silam, Vario 125 selalu pas memadukan aspek kenyamanan, pengendalian, kepraktisan, performa dan efisiensi dalam satu paket termasuk di generasi terbarunya ini.
Ergonomi Berkendara

Setelah pengetesan dengan skenario pemakaian harian sejauh 177 km, OTOPLUS-ONLINE rasakan kalau rider triangle, tiga titik utama pada motor yang bersentuhan langsung dengan tubuh pengendara terasa lebih pas jika dibandingkan dengan varian Street yang kami coba sebelumnya.
Baca juga: Riding Impression New Honda Vario 125 Street: Seberapa Nyaman Naked Handlebar untuk Harian?
Di Vario Street 125 setangnya sedikit lebih tinggi dan lebar yang buat kami bikin bahu lekas pegal juga sedikit mengubah karakter pengendalian Vario 125 yang sudah seimbang.
Karakter Pengendalian

Versi non naked bar yang menjadi basis varian Street tentunya sudah diciptakan melalui riset mendalam. Sementara versi naked bar, lebih mengarah ke style, mengakomodir tim ngeyel.
Dengan lebar setang yang pas dan posisi setang lebih rendah pengendara jadi punya kontrol lebih baik. Honda mempertahankan rangka tipe underbone tubular dengan kombinasi sudut kaster, trail dan offset yang sudah pas dari lahir.

Merayap di kemacetan lalu lintas atau ngebut sampai top speed, semua terakomodir dengan baik. Didukung juga dengan karakter redaman suspensinya yang tergolong moderat.
Di unit tes ini OTOPLUS-ONLINE tidak menjumpai gejala jeduk di suspensi depan seperti di Vario 125 generasi pertama. Karakter redaman suspensi belakang juga terasa lebih empuk meski tidak seempuk New BeAT. Dimaklumi mengingat bobot kosong tipe CBS 111 kg sementara New BeAT hanya 88 kg.
Performa rem masih yang terbaik di kelasnya. Tuas terasa enteng dioperasikan, sensitif tapi natural. Pengendara dengan mudah bisa merasakan gesekan kampas ke teromol dan menentukan seberapa kuat tuas rem perlu diaktifkan untuk mengontrol laju kendaraan.
Top Speed 107 km/jam Lebih

Kemampuan manuvernya didukung dengan performa mesin eSP 125 cc yang sudah digunakan sejak 2013. Fleksibilitas mesin ini superior. Power delivery di putaran bawah-menengah-atas terasa rata. Angka 107 km/jam (belum top speed) masih bisa diraih dengan postur rider 180/83 kg.
Varian CBS

Kepraktisannya disumbang dari sepasang konsol, satu konsol 1,7 liter yang cukup dalam (20 cm) dan diberi penutup berisi USB port type-C dan muat untuk menyimpan ponsel atau botol air mineral 600 ml sementara satu konsol terbuka di sisi kanan hanya muat buat gelas air mineral 300 ml.

Ada hook yang maksimal bisa digantungi beban 1,5 kg yang sayangnya tidak dilengkapi pengunci model carabinet. Bagasinya punya kapasitas 18 liter dan muat helm open face meski tidak semua model helm open face bisa masuk ya.

Perbedaan fitur varian ISS dan CBS hanya pada keberadaan teknologi Idle Start Stop (ISS) Smart Key System dan pilihan warna. Menurut OTOPLUS-ONLINE, varian CBS menawarkan value lebih baik karena toh varian ISS yang dilengkapi Smart Key System pada beberapa kasus justru merepotkan, seperti yang pernah dialami teman kami yang drop baterai smart key-nya.
Selain itu teknologi on-off start system tak signifikan menyumbang efisiensi bahan bakar malah bikin repot karena membuat umur aki jadi lebih pendek. Tanpa ISS pun New Vario 125 sudah sangat irit dengan konsumsi BBM rata-rata sepanjang pengetesan kami berkutat di kisaran 47-48 km/liter.
Melalui metode full to full, pada rute kombinasi dengan bobot pengendara dan pembonceng 120 kg didapat angka 47,67 km/liter, pakai bensin Pertlite lho.
Artinya dengan tangki berkapasitas 5,5 liter, skutik Honda ini setidaknya dapat diajak jalan-jalan hingga sejauh 262 kilometer lebih.
Point for improvement
Selama pengetesan 4 hari dengan rata-rata jarak 44,25 km sehari kami mendapati beberapa area yang bisa jadi poin pengembangan berikutnya, yaitu:
Jangkauan Pencahayaan Headlamp Kurang Jauh Menyebar

Kalau dibandingkan model 2022, headlamp di New Vario 125 2026 punya desain yang lebih tajam dan agresif, posisi Daytime Running Light (DRL) dan mika lampu yang berbeda hingga ke samping, memberikan kesan lebih sporty mirip Honda Vario 160. New Vario 125 sudah mengadopsi sistem pencahayaan LED di semua lampunya.

Meski diklaim menawarkan kemampuan pencahayaan yang 10% lebih jauh dan 20% lebih lebar dibandingkan generasi sebelumnya. OTOPLUS-ONLINE menilai pancaran lampu kurang jauh dan padat, hi-beam hanya sedikit menambah jangkauan pencahayaan seakan sekadar mengisi sisi tengah dari area pancaran low beam yang lowong.
Side Stand

Atau standar samping sejak era 2013 masih setia dipakai. Artinya standar samping tetap terasa ringkih dan kurang tinggi sedikit, bikin posisi motor terlalu doyong.
Vibrasi Mesin

Getaran mesin halus tapi kontinyu merambat di setang, kelamaan bikin tangan kesemutan, jangan khawatir kalau kalian tidak sensitif, kalian tidak akan merasakan kok.

Grip Handle

Buat beberapa orang, grip handle terasa sedikit kurang lebar. Ukurannya pas banget satu genggaman tanpa menyisakan sedikit ruang di tiap sisinya. Selain itu diameternya juga sangat didesain untuk ukuran genggaman rata-rata orang Indonesia. Sementara buat tester OTOPLUS-ONLINE yang berpostur XL, diameter grip handle terasa kekecilan, jadi kurang nyaman.
Bunyi dari Mesin
Selama pengetesan, gejala mesin berbunyi kletek-kletek seperti pengalaman kru OTOPLUS-ONLINE dengan Honda Vario 125 setelah pemakaian setahun tidak atau belum muncul. Semoga begitu seterusnya.
Gejala tek..tek..tek⦠dari mesin itu biasanya muncul saat deselerasi, misal ketika akan melewati speed trap atau lubang. Semoga tidak terjadi di generasi terbaru ini.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto



