Test Drive BYD M6 DM-i: MPV Hybrid “Jadul” yang Bikin Dompet Adem

OTOPLUS-ONLINE membawa mobil ini ke sirkuit Science Techno Park (STP) ITS Surabaya sepanjang 1,1 km yang punya beragam karakter untuk pengujian.

OTOPLUS-ONLINE I Kalau Sobat merasa tampang BYD M6 DM-i kelihatan agak outdated alias jadul, wajar kok. MPV kompak ini memang sudah diperkenalkan dan dipasarkan di Cina sejak September 2017, waktu itu masih pakai mesin ICE (Internal Combustion Engine) biasa. Versi terbarunya sebatas pembaruan eksterior pembaruan kosmetik seperti gril, lampu-lampu, bumper dan pelek.
Di negara asalnya, mobil ini bukan bernama M6, tapi BYD Song Max. Versi PHEV-nya baru muncul di Shanghai Auto Show April 2019 dengan nama Song Max DM (Dual Mode).
Lalu Maret 2022, BYD merilis versi Song Max DM-i yang jauh lebih efisien. Nah, varian terbaru inilah yang jadi basis PHEV yang diekspor ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan emblem BYD M6.
Awal Juli lalu, OTOPLUS ONLINE sempat ikut BYD M6 DM-i Media Challenge Surabaya untuk membuktikan klaim iritnya di perjalanan antar kota. Kali ini kami balik lagi dengan meminjam varian Cross Superior, biar impresinya lebih lengkap.

Sebelum masuk ke hasil tes, kenalan dulu sama filosofi G.A.S.S.: Gesit, Andal, Senyap, dan Super irit.
Gesit karena BYD M6 DM-i dimodali duet powertrain. Ada motor listrik EHS (Electric Hybrid System) 120 kW atau 160 DK dengan torsi 210 Nm, dan mesin bensin 1.500 cc yang menghasilkan 74 kW atau 99 DK dengan torsi 126 Nm.
Kombinasi ini cukup buat lari 0-100 km/jam dalam 9,1 detik. Top speed-nya sekitar 170 km/jam, lebih dari cukup buat MPV keluarga.
Andal karena mobil ini bisa dicas sekaligus diisi bensin. Baterainya tipe blade battery 18,3 kWh, sementara tangki bensinnya 51 liter.
Kalau keduanya penuh, jarak jelajahnya bisa sampai 1.300 km. Jadi urusan range anxiety dan cari SPKLU? Lupakan saja. Bensin masih ada, listrik juga ada.
Senyap itu hasil dari kerja motor listrik yang jadi penggerak utama sekitar 80% waktu. Suara yang masuk ke kabin jadi minim, apalagi insulasi kabinnya juga baik. Buat Sobat yang sering stres kena macet, adem banget deh.

Soal super irit, baterai 18,3 kWh diklaim bisa mengantar mobil ini sejauh kurang lebih 100 km tanpa bensin. Kalaupun mesin bensin harus nyala, mesin 1.5 liternya punya efisiensi thermal 46,06% dan rasio kompresi 16:1.
Angka itu bikin mesinnya bekerja sangat efisien. Dari pengetesan internal BYD Indonesia sejauh 150 km, konsumsi rata-ratanya tembus 65 km/liter.
Klaim sebesar itu tentu bikin penasaran. Di Media Challenge Surabaya, 30 peserta dari media, content creator, dan KOL dibagi dalam 11 tim dan start dari dealer BYD Arista Kenjeran. Rutenya lengkap: macet dalam kota, tol Surabaya-Pandaan, sampai tanjakan dan turunan menuju Taman Dayu Golf Resort.
Tim kami, tim 7, mencatat 80 km di checkpoint pertama. Mesin bensinnya belum menyala sama sekali dan sisa baterai masih 38%.
Perjalanan balik ke Surabaya didominasi jalan menurun, jadi sistem regeneratif aktif mengisi baterai. Saat masuk gate tol Pandaan, baterai malah naik jadi 42%.
Baru setelah 117 km, dekat gate Sidoarjo, baterai turun ke 25% dan mesin bensin mulai hidup untuk mengisi daya dan sesekali membantu menggerakkan roda depan. Saat tiba di checkpoint kedua, MID mencatat mesin baru minta jatah 1,3 liter bensin.

Hasil akhirnya? Unit kami sebenarnya yang paling boros di antara peserta lain, tapi tetap cuma menghabiskan 2,54 liter Pertamax untuk 167,1 km.
Artinya 65,78 km/liter, pas membuktikan klaim 65 km/liter itu bukan sekadar bahasa iklan. Yang bikin lebih meyakinkan, kami tidak mematikan AC atau perangkat elektronik lain demi irit. Mobil dipakai normal seperti keseharian.

Meski dikategorikan compact MPV, dimensinya sebenarnya gak kompak-kompak amat. Panjangnya 4.710 mm, mendekati Toyota Innova Zenix yang 4.755 mm. Lebarnya 1.810 mm, tingginya 1.690 mm, dengan wheelbase 2.800 mm.
Hasilnya kabin tergolong lega buat 6-7 penumpang. Cocok buat Sobat yang keluarganya lumayan banyak atau sering ajak orang tua atau mertua jalan-jalan.

Bagasi jadi salah satu poin yang perlu dicermati. Dalam kondisi standar, dengan baris ketiga ditegakkan, volumenya 180 liter. Kira-kira muat 3 koper kabin 20 inci, atau 1-2 koper ukuran 24 inci, atau cuma 1 koper besar 28 inci plus beberapa tas kecil.
Kalau butuh lebih, lipat kursi baris ketiga dan bagasi melebar jadi 580 liter. Jadi kalau mau mudik dengan 7 penumpang, siap-siap pintar atur barang.

Sekarang bahas kaki-kakinya. BYD M6 DM-i memakai MacPherson Strut di depan dan torsion beam di belakang. Ini beda dengan versi EV yang memakai multi-link di belakang. BYD memilih torsion beam di versi DM-i demi efisiensi ruang dan bobot.
Konsekuensinya, torsion beam (semi-independen) punya beberapa keterbatasan dibanding multi-link. Roda kiri dan kanan terhubung balok logam, jadi kalau satu sisi menghantam lubang atau polisi tidur, sisi sebelahnya ikut merespons.
Grip ban belakang di tikungan tajam bisa berkurang dan body roll lebih terasa. Kenyamanan di jalan rusak juga tidak sehalus multi-link. Kalau Sobat cari yang nyaman banget, pilih varian EV.

Untuk menggali karakter suspensi dan kemudi, OTOPLUS ONLINE membawa mobil ini ke sirkuit Science Techno Park (STP) ITS Surabaya sepanjang 1,1 km yang punya beragam karakter untuk pengujian.
Hasilnya, feedback setir kurang natural, begitu juga feeling remnya. Tapi tenang, itu hanya akan terasa oleh enthusiast driver. Buat regular driver, semuanya akan terasa normal.

Kabar baiknya, meski dimensinya besar, mobil ini mudah dikendalikan karena visibilitas ke sekitar cukup leluasa. Hal ini sangat membantu saat bermanuver parkir atau melintas di jalan sempit. Jadi urusan parkir paralel di pusat perbelanjaan weekend tidak akan terlalu bikin keringat dingin.
Soal varian dan harga, BYD M6 DM-i tersedia dalam lima pilihan. Classic Standard Rp319 juta, Classic Dynamic Rp339 juta, Cross Advanced Rp381 juta, Cross Superior Rp401 juta, dan Cross Superior Captain Seat Rp411 juta. Tipe Cross mengklaim jarak tempuh EV sekitar 110 km dan fitur lebih lengkap, sedangkan tipe Classic sekitar 45 km.
Fitur keselamatannya juga tidak pelit. Ada Adaptive Cruise Control, Autonomous Emergency Braking, Lane Keeping Assist, sampai Blind Spot Detection. Soal pengisian daya, mobil ini mendukung DC Fast Charging, sekitar 30-80% dalam 30 menit pada daya tertentu.

Namun ada beberapa catatan kecil. Sistem sirkulasi AC kadang otomatis kembali mengambil udara luar, tidak ada AC dual zone, bantalan jok sebagian tipe terasa cukup keras, dan produsen tidak menyarankan pemakaian roof box.

Jadi, apakah BYD M6 DM-i Cross Superior layak dilirik? Kalau prioritas Sobat adalah irit, senyap, kabin lega, dan jarak tempuh jauh tanpa pusing cari charger, jawabannya iya!
Angka 65,78 km/liter di Media Challenge membuktikan klaimnya bukan isapan jempol. Dengan harga Rp401 juta, kompromi di feeling setir, rem, dan suspensi torsion beam terasa masih bisa dimaklumi buat pemakaian keluarga sehari-hari.
Kalau Sobat enthusiast driver yang rewel soal feedback, mungkin perlu test drive dulu sebelum memutuskan.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto



