Test Drive BYD Sealion 7 Performance: Ngebut Senyap, tapi Ada Catatannya

Simak hasil pengujian BYD Sealion 7 Performance selama 3 hari sejauh 363 km melewati rute dalam kota (city driving) dan antar kota (inter city) dengan gaya mengemudi normal.

OTOPLUS-ONLINE I BYD Sealion 7 patut masuk shortlist kalau kamu cari SUV listrik yang bisa bikin temen-temen nengok pas parkir. Dari price list yang dirilis BYD Arista Surabaya, Sealion 7 dibanderol Rp650.500.000 untuk varian Premium dan Rp760.500.000 untuk varian Performance. Jelas nggak main di kelas EV murah. Pertanyaannya, apakah performanya sepadan?
Yuk, kita bedah pengalaman nyetirnya dari dalam sampai antar kota.

Ngomongin angka dulu. Dimensinya 4.830 x 1.925 x 1.620 mm dengan wheelbase 2.930 mm, sosoknya kekar khas crossover jadi nggak akan keder di jalan.

Di Indonesia ada dua varian: Premium RWD dan Performance AWD. Keduanya dibekali Blade Battery LFP 82,56 kWh dengan struktur Cell to Body (CTB). Unit tes kami ini merupakan varian Performance yang kemampuannya sadis. Kabin muat 5 orang, bagasinya maksimal 520 liter dan dapat dimaksimalkan jadi 1.789 liter dengan melipat kursi baris kedua.

Di dalam kota, Sealion 7 ini gampang banget diajak jalan santai. Respons gasnya halus, nggak bikin kepala kamu terhentak kayak beberapa EV yang "jumpy" begitu pedal disentuh.
Remnya juga enak dikontrol dengan pedal yang punya langkah panjang, jadi nggak grabby. Cuma, regenerative braking-nya nggak terlalu kuat meski disetting pada mode High dan nggak ada fitur one-pedal driving, jadi kaki kamu tetap harus aktif di pedal rem.
Suspensinya lumayan jago meredam jalanan kota yang bergelombang meski masih bergoyang-goyang saat melewati polisi tidur atau jalan rusak. Maklum sih mengingat diameter rodanya yang mencapai 20 inci.

Posisi duduknya juga tinggi banget, jadi pandangan ke depan lega, sayangnya pandangan ke belakang agak terbatas karena pilar tebal dan kaca belakang yang mungil.

Untungnya ada kamera yang bantu cover blind spot, jadi parkir dan manuver tetap aman.

Masuk ke kabin, kesan pertama mewah dan premium. Bintang utamanya jelas layar 15,6 inci yang bisa diputar vertikal atau horizontal, dengan grafis tajam, respons ngebut kayak tablet, dan voice command yang jalan mulus.

Apple CarPlay dan Android Auto tersedia, ada wireless charging dua ponsel dengan ventilasi pendingin, dan audio Dynaudio-nya juara.
Catatannya, hampir semua kontrol, termasuk AC, ada di layar, jadi kamu butuh waktu adaptasi karena minimnya tombol fisik.
Tapi kalau diperhatikan lebih detail, ada beberapa bagian dasbor dan door trim yang terasa masih "value-oriented". Ada plastik mengilap dan kombinasi material yang kelihatan agak ramai. Buat mobil di atas Rp600 jutaan, ekspektasinya memang lebih tinggi, jadi wajar kalau ini kami kategorikan sebagai point for improvement.

Nah, kejutan manisnya ada di kursi belakang. Legroom dan headroom-nya lapang banget, sandaran jok bisa direbahkan, jadi penumpang belakang berasa naik kelas bisnis.
Titik ISOFIX gampang dijangkau, cocok buat yang bawa kursi bayi. Satu-satunya yang kurang adalah kursi tengah, karena armrest-nya menonjol ke punggung. Ada juga port USB-C, kantong di sandaran kursi, dan ventilasi AC belakang buat nambah kenyamanan.
Pindah ke jalan tol, Sealion 7 terasa lebih "ngos-ngosan" secara kenyamanan. Begitu kecepatan mulai menyentuh 130 km/jam, suara angin di area pilar depan mulai terdengar, dan penumpang belakang bakal terusik suara ban atau tyre roar. Ada juga bunyi bass "boom" dan getaran kecil saat melewati sambungan jalan. Silent cruising ala EV premium jadi belum sepenuhnya kesampaian.
Foto 11
Roda 20 inci dengan ban berukuran 245/45-20 dari Michelin Pilot Sport

Tapi soal tenaga, urusannya beda cerita. Mau nyalip truk atau masuk dari ramp tol? Tinggal injak pedal gas, dan tenaga langsung nyembur tanpa drama. Hanya saja, menurut kami setirnya terasa terlalu ringan dan reaktif untuk mobil dengan kemampuan seperti ini, sehingga kamu kayak terus-terusan mengoreksi supaya tetap di tengah lajur.
Ditambah ADAS seperti Lane Keep Assist yang kadang terlalu sensitif, buat perjalanan jauh kamu susah benar-benar santai.

Di tikungan, karakternya kelihatan banget: ini SUV tinggi yang lebih mengedepankan kenyamanan daripada karakter berkendara sporty. Saat menikung kencang, body roll terasa jelas, kontrol bodi dan redaman suspensi kurang responsif.
Itu imbas dari kombinasi bobot yang menyentuh 2,7 ton dengan wheelbase 2.930 mm. Pada kecepatan tinggi, rem terasa pakem tapi minim feedback, jadi penemudi perlu menebak seberapa dalam harus menginjak pedal. Intinya, ini bukan mobil buat canyon carving tapi lebih cocok buat melesat di highway.

Tapi jangan salah, urusan akselerasi yang membahagiakan. Varian Performance AWD menyemburkan 390 kW (523 dk) dan torsi 690 Nm, jika klaim akselerasi 0-100 km/jam tuntas dalam 4,5 detik, catatan kami 4,6 detik. Kemampuan ini mendekati sports car seperti Porsche 992 bermesin 3.0 liter boxer 6 silinder twin turbo (4,2 detik).
Sebagai tambahan informasi, pun varian Premium klaimnya 6,7 detik. Artinya bisa mengimbangi Toyota GR86 atau GR Corolla yang catatannya 6,6-6,7 detik. Untuk top speed, BYD membatasi kemampuan Sealion 7 secara elektronik di 215 km/jam.

Ngomongin jarak tempuh, dari klaim BYD Dimana varian Performance AWD yang 580 km, tapi dari pengujian kami selama 3 hari sejauh 363 km melewati rute dalam kota (city driving) dan antar kota (inter city) dengan gaya mengemudi normal, konsumsi daya rata-rata ada di kisaran 4,1-5,5 kilometer per kWh.
Artinya dengan kapasitas baterai 82,56 kWh kemampuan jelajah sesungguhnya akan berkisar 339-454 kilometer
Jadi, worth it nggak? Kalau prioritasmu tenaga instan, kabin luas, layar gede yang fun, dan harga yang masih kompetitif, Sealion 7 jelas layak dipertimbangkan, apalagi buat keluarga muda yang sering bawa penumpang belakang.
Tapi kalau kamu mengincar handling tajam, suspensi yang kokoh, dan interior yang benar-benar premium, sebaiknya test drive dulu. Mobil ini seru buat dipakai harian dan ngebut lurus, sementara urusan tikungan dan kenyamanan di kecepatan tinggi masih punya ruang buat berkembang.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto



