Test Drive Leapmotor B10: SUV Listrik Cina yang Bikin Kita Senyum Sendiri dan Pengin Nyetir Lagi

Kami jajal Leapmotor B10 selama tiga hari untuk membuktikan apakah klaim SUV Listrik Cina ini bisa bikin pengendara senyum sendiri dan pengin nyetir lagi memang benar.

OTOPLUS-ONLINE I Selama ini, kalau bicara mobil listrik Cina, kita sudah hafal polanya: kabin canggih, fitur melimpah, harga menggoda, tapi urusan nyetir cenderung biasa saja. Empuk, senyap, aman, tapi jarang bikin senyum-senyum sendiri.
Nah, Leapmotor B10 datang dengan klaim berbeda. Kami menjajalnya selama tiga hari untuk membuktikan apakah klaim itu cuma jargon marketing atau memang ada isinya.

Kesan pertama muncul bahkan sebelum mobil jalan. Built quality eksterior dan interiornya terasa premium. Pintu menutup mantap, sambungan panel terasa rapi, dan material kabinnya jauh lebih baik dibanding mayoritas mobil listrik Cina yang pernah kami coba. Buat mobil di kisaran harga ini, kesan solid seperti itu patut diapresiasi.

Masuk ke kabin, desain dasbornya mengedepankan fungsi. Ada konsep Persona Panel, yakni slot di dasbor yang bisa diisi sesuai selera pemilik. Bisa buat pajangan koleksi, aksesori, atau diubah jadi nampan praktis yang bisa dipasang-lepas. Ide ini terasa seperti desain yang dipikirkan untuk kehidupan nyata, bukan sekadar pemanis showroom.
Soal tampilan, jujur saja, kabinnya didominasi warna abu-abu tua. Kesannya polos dan minimalis, bahkan bisa dibilang kurang atraktif buat yang suka kabin berwarna. Tapi anggap saja ini kanvas kosong. Dengan aksesori modular tadi, pemilik punya ruang untuk memberi sentuhan personal.

Posisi mengemudinya juga bikin betah. Rentang setelan setir (rake dan reach) cukup luas, begitu juga setelan jok pengemudi. Mau badan tinggi atau pendek, rasanya mudah menemukan posisi duduk yang pas. Hal sepele, tapi kalau meleset, perjalanan jauh jadi menyiksa. Di B10, kami nyaris tidak perlu kompromi.

Sekarang bagian yang paling ditunggu: gimana rasanya dikendarai? Singkatnya, karakter pengendaliannya jauh lebih baik dibanding kebanyakan mobil listrik Cina yang umumnya mengutamakan kenyamanan tapi tidak fun to drive. B10 tetap nyaman untuk harian, tapi ada rasa percaya diri saat setir dibelokkan. Mobil terasa tahu mau ke mana dan tidak oleng.
Rahasianya ada di beberapa keputusan teknis. Pertama, B10 memakai struktur Cell-to-Chassis 2.0, di mana baterai jadi bagian dari struktur rangka mobil. Efeknya, pusat gravitasi lebih rendah sehingga mobil lebih stabil, bodi lebih kaku, dan ruang kabin pun lebih lega hingga 17,5%. Rendahnya titik berat ini terasa jelas saat kita menikung. Bodi tidak terasa limbung.

Kedua, penyetelan sasisnya digarap lewat Stellantis Master Chassis Tuning di Balocco, Italia. Suspensinya bahkan mendapat sentuhan teknisi ahli pembuat sasis Maserati. Ini bukan sekadar nama keren buat brosur. Hasilnya adalah keseimbangan antara kenyamanan harian dan stabilitas di kecepatan tinggi, dua hal yang biasanya saling berebut.

Ketiga, B10 memakai penggerak roda belakang (RWD), padahal banyak rival seperti BYD Atto 3 setia dengan roda depan (FWD). Distribusi bobotnya mencapai 50:50 yang ideal. Karakter RWD ini membuat respons mobil lebih natural dan dinamis, sensasi yang selama ini lebih akrab di mobil-mobil Eropa.
Soal tenaga, motor listriknya mengeluarkan 160 kW atau setara 215ā218 dk dengan torsi 240 Nm. Akselerasi 0ā100 km/jam ditempuh sekitar 8 detik, dengan top speed 170 km/jam yang dibatasi secara elektronik. Angkanya memang bukan kelas supercar, tapi respons motor listriknya bikin selap-selip di tol atau menyalip di jalan raya terasa ringan dan tanpa drama.

Satu lagi yang jarang ditemui di kelasnya: staggered wheels alias ban belang. Ban depan berukuran 225 mm dan belakang 235 mm, keduanya dengan pelek 18 inci dan dibalut ban Hankook Ion Evo SUV 225-235/50R18. Konfigurasi yang biasa dipakai mobil performa Eropa ini membantu meningkatkan cengkeraman, handling, dan stabilitas saat bermanuver di tikungan maupun kecepatan tinggi. Menurut kami, inilah salah satu pembeda utama B10 dari kompetitornya.

Buat urusan jarak tempuh, baterai LFP 67,1 kWh-nya diklaim bisa menempuh hingga 516 km (NEDC) atau 434 km (WLTP). Angka WLTP biasanya lebih mendekati kondisi nyata, jadi itu patokan yang lebih realistis. Saat butuh isi daya, DC fast charging sampai 168 kW bisa mengisi baterai dari 30% ke 80% dalam sekitar 17 menit. Kira-kira selama kita ngopi dan scroll medsos, mobil sudah siap lanjut jalan.

Dari sisi teknologi, ada beberapa fitur yang menurut kami cerdas. Bluetooth Key memungkinkan kita membuka dan mengunci pintu lewat aplikasi tanpa sinyal seluler, jadi tetap aman dipakai saat parkir di basement yang sinyalnya mati.
Ada juga fitur keamanan tambahan berupa kewajiban memasukkan password di head unit 14 inci sebelum mobil bisa dijalankan. Soal keselamatan, B10 dibekali hingga 16ā17 fungsi ADAS dan mengantongi rating bintang 5 dari Euro NCAP/ANCAP.
Tentu tidak ada mobil yang sempurna. Sandaran jok baris kedua cenderung tegak dan tidak bisa di-reclining, sementara headrest belakangnya agak menjorok ke depan. Buat penumpang di atas 175 cm di perjalanan jauh, ini bisa kurang santai.

Lantai bagasi juga tidak sepenuhnya rata, meski kapasitasnya lumayan, 430 liter dan bisa mengembang sampai 1.700 liter. Satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan adalah jaringan purna jual.
Sebagai pendatang baru yang dipasarkan lewat Indomobil, ketersediaan servis dan suku cadangnya mungkin belum sekuat merek-merek lama. Kurangnya promosi juga membuat kebanyakan orang belum mengetahui keberadaan merek ini, anggapan mereka ini merek ecek-ecek.

Di segmen compact SUV listrik, B10 berhadapan dengan lawan-lawan tangguh: BYD Atto 3, Geely EX5, MG S5 EV, Chery Omoda E5, dan Aion V. Masing-masing punya kelebihan, tapi B10 menonjol lewat kombinasi sasis hasil tuning Eropa, RWD, dan ban belang yang jarang ditemukan di kelasnya.
Kalau prioritasmu fitur sebanyak-banyaknya, rival bisa jadi menarik. Tapi kalau kamu mencari mobil listrik yang enak diajak berkendara, B10 punya argumen yang kuat.
Dengan harga Rp479.000.000 (OTR Surabaya), Leapmotor B10 yang sudah dirakit lokal di Indonesia ini menawarkan paket yang sulit diabaikan. Ia bukan mobil listrik yang cuma enak dipamerkan, tapi juga enak dikendarai. Buat generasi yang mau pindah ke EV tanpa kehilangan keseruan di balik kemudi, B10 layak masuk daftar test drive teratas.
Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto



