Bupati Cup Jatim Racing Series (JRS) Kejurprov 2026 Putaran 4 Lamongan Berikan Harapan Besar di Tengah Isu Safety Sirkuit Gajah Mada
- Editor

- 60 menit yang lalu
- 5 menit membaca
Keberadaan Sirkuit Gajah Mada membuka peluang besar bagi pembinaan pembalap muda di kawasan Lamongan dan sekitarnya, termasuk Bojonegoro.

OTOPLUS-ONLINE I Bupati Cup Jatim Racing Series (JRS) Kejurprov 2026 Putaran 4 yang digelar di Sirkuit Gajah Mada, Lamongan, 5–6 September 2026, bukan sekadar menjadi arena pertarungan para pembalap Jawa Timur. Gelaran Bupati Cup ini sekaligus menjadi momentum untuk melihat potensi sebuah fasilitas olahraga yang mulai dimanfaatkan sebagai sirkuit balap motor.

Antusiasme peserta terbilang tinggi. Ketua IMI Jawa Timur Bambang “Kapten” Haribowo menyebut sebanyak 225 starter turun dalam 20 kelas pada putaran keempat JRS Kejurprov 2026.
Namun di balik jumlah peserta yang tergolong lumayan ini muncul catatan penting mengenai kelayakan lintasan, terutama menyangkut lebar trek, karakter sirkuit, serta aspek safety atau keselamatan pembalap.

Bambang menjelaskan, Sirkuit Gajah Mada sebenarnya bukan dibangun sebagai sirkuit balap. Area tersebut merupakan bagian dari fasilitas olahraga yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Lamongan.
“Sebetulnya ini adalah rencana Pak Bupati untuk fasilitas olahraga. Namun kebetulan, aspalnya bisa dipakai untuk sirkuit,” ujar Bambang.
Menurutnya, keberadaan lintasan tersebut justru membuka peluang besar bagi pembinaan pembalap muda di kawasan Lamongan dan sekitarnya, termasuk hingga Bojonegoro.

“Harapan saya bisa dipakai latihan anak-anak pemula agar ke depan, apalagi mendekati Porprov dan PON, akan tumbuh bibit-bibit baru yang menjadi atlet Jawa Timur,” lanjutnya.
Meski demikian, rider profesional asal Surabaya yang telah malang melintang di kompetisi internasional Asia, Tommy Salim, menjadi salah satu pembalap yang merasakan langsung karakter lintasan Gajah Mada.
Menurut Tommy, persoalan paling mendasar berada pada lebar dan layout lintasan serta aspek keselamatan lintasan.

“Untuk Sirkuit Gajah Mada yang pastinya masih kurang lebar. Terlalu sempit,” ungkap Tommy.
Ia memperkirakan lebar lintasan yang dilaluinya hanya sekitar 5–6 meter. Kondisi tersebut menurutnya membuat ruang gerak pembalap ketika mengalami crash menjadi sangat terbatas.

“Kalau kita crash, space untuk jatuhnya sangat terbatas. Jadi kalau kita jatuh pasti langsung menghantam pagar pembatas,” tambahnya.
Karena itu, Tommy menilai perlu tersedia run-off area yang lebih memadai, sehingga pembalap yang kehilangan kendali tidak langsung berhadapan dengan pagar pembatas.
Selain safety, Tommy juga menilai karakter layout Gajah Mada masih bisa dikembangkan agar lebih teknikal. Bentuk lintasan yang cenderung berputar oval membuat kemampuan motor, khususnya kecepatan, menjadi faktor yang cukup dominan.

“Sangat sulit menyalip di sini karena itu tadi selain sempit juga layout sirkuitnya cenderung oval. Jadi pembalap lebih bergantung pada mesin motor kencang ketimbang skill dan teknik balap. Jadi kurang menantang lah,” ujarnya.
Catatan lebih spesifik datang dari Cak Peno, mekanik senior asal Surabaya yang dikenal melalui bengkel balap Seruling Sakti.
Menurut Peno, salah satu titik yang perlu mendapat perhatian serius adalah tikungan terutama R1.



Setelah pembalap memacu motor di main straight (trek lurus utama) yang diperkirakan mencapai sekitar 250 meter, mereka harus segera mengerem dan memasuki R1 yang relatif sempit. Kondisi ini berpotensi menciptakan bottle neck atau gerombolan ketika rombongan pembalap masuk bersamaan.

Situasi tersebut, menurut Peno, menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko senggolan maupun kecelakaan.
Persoalannya bukan hanya pada R1. Minimnya area run-off di sejumlah bagian lintasan juga menjadi perhatian. Ketika pembalap keluar dari racing line, ruang untuk melakukan recovery yang ada berupa tanah bergelombang dan berbatu sehingga potensi menghajar pagar pengaman masih sangat besar.



Dengan demikian, persoalan safety menjadi pekerjaan rumah yang cukup penting apabila Gajah Mada nantinya ingin lebih sering digunakan untuk kompetisi.
Menariknya, kekhawatiran tersebut justru sejalan dengan rencana IMI Jatim.
Bambang mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan Pemkab Lamongan untuk memperpanjang sekaligus memperlebar lintasan.
“Kami sudah bicara dengan Pak Bupati untuk bisa memperpanjang dan memperluas trek,” ungkapnya.

Artinya, Gajah Mada memang belum dianggap sebagai produk akhir. Keberadaan JRS Putaran 4 dapat menjadi salah satu cara untuk menguji pemanfaatan fasilitas tersebut sekaligus menunjukkan potensinya.

Bambang bahkan melihat pengembangan sirkuit ini bukan hanya untuk kepentingan balap profesional. Dengan adanya fasilitas latihan yang lebih layak, pembalap dari Lamongan, Bojonegoro dan daerah sekitarnya diharapkan tidak harus selalu pergi jauh untuk mendapatkan tempat berlatih.

Di sisi lain, jumlah penonton yang hadir pada JRS Putaran 4 cukup menjanjikan dengan sekitar 1.000 orang berdasarkan penjualan tiket.
"Ya memang masih belum terlalu banyak penontonnya karena mungkin masih baru ya, jadi banyak yang belum tahu. Apalagi sekarang kondisi sangat panas sementara belum ada tribun penonton," ujar Bambang.
Namun, jika agenda balap terus digelar dan fasilitasnya dikembangkan, Sirkuit Gajah Mada berpotensi mendapatkan momentum untuk tumbuh.
JRS Putaran 4 akhirnya membuka diskusi lebih besar: mampukah fasilitas olahraga Gajah Mada berkembang menjadi sirkuit balap yang lebih aman, lebih teknikal, sekaligus menjadi rumah baru bagi pembalap-pembalap muda Jawa Timur?
Mengenal Sirkuit Gajah Mada Lamongan

Sirkuit Gajah Mada Lamongan sejatinya bukan dibangun sebagai sirkuit balap. Area ini merupakan bagian dari fasilitas olahraga yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Lamongan. Namun, trek dengan permukaan aspal memadai kemudian dimanfaatkan untuk menggelar Jatim Racing Series (JRS) Kejurprov 2026 Putaran 4.
Berdasarkan denah yang dipublikasikan, lintasan memiliki panjang sekitar 1.000 meter, lebar 8–10 meter, serta 10 tikungan yang seluruhnya mengarah ke kanan. Lintasan juga memiliki bagian lurus yang cukup panjang sebelum pembalap kembali masuk ke sektor tikungan.
Karakter tersebut membuat Sirkuit Gajah Mada memiliki layout yang relatif sederhana dengan pola memutar. Dalam praktiknya, pembalap harus mampu mengoptimalkan akselerasi dan pengereman, terutama ketika memasuki tikungan setelah sektor lurus.
Namun, karena sejak awal bukan dirancang sebagai sirkuit balap, aspek keselamatan dan pengembangan layout masih menjadi pekerjaan rumah. Lebar lintasan dan ketersediaan run-off area menjadi perhatian pembalap seperti Tommy Salim dan mekanik senior Cak Peno.
Ke depan, IMI Jatim bersama Pemkab Lamongan berencana memperpanjang dan memperlebar lintasan, sehingga Gajah Mada tidak hanya menjadi venue balap, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat latihan dan pembinaan pembalap muda dari Lamongan, Bojonegoro dan wilayah sekitarnya.
Kelas BK8 JRS

JRS Kejurprov 2026 juga membawa misi pembinaan melalui kelas BK8 yang diinisiasi sendiri oleh Bambang Kapten. Kelas ini dirancang agar pembalap pemula atau beginner bisa belajar langsung dari pembalap yang lebih berpengalaman dalam satu kompetisi.
BK8 terbuka untuk berbagai usia dengan menggunakan motor produksi 150 cc dalam kondisi standar, sementara merek motor bebas atau open brand. Honda, Yamaha, Kawasaki hingga Suzuki dapat bersaing dalam kelas yang sama.
Menurut Bambang Kapten, kelas ini tidak hanya dipertandingkan dalam JRS. IMI Jatim juga mendorong penyelenggara club event untuk tetap membuka BK8 sebagai bagian dari program pembinaan pembalap pemula.
“Tujuannya agar anak-anak pemula bisa bertarung dengan para senior,” jelas BK alias Bambang Kapten.
Dari pengalaman bertarung dengan senior ini, selain memberi jam terbang kepada pembalap baru sekaligus memberikan pengalaman kepada mereka untuk langsung bertarung penuh nyali dan menimba ilmu dari pembalap senior di lintasan.






Teks dan Foto: Indramawan




Komentar