Jangan Abaikan Komponen Slow Moving
- Editor

- 2 Mar
- 2 menit membaca
Kerusakan biasanya ditandai dari bunyi-bunyian, getaran atau rembesan.

OTOPLUS ONLINE I Tune up, ganti oli, filter dan kampas rem umumnya menjadi menu rutin perawatan berkala.
Tapi bukan berarti dengan mematuhi menu-menu itu, mobil lantas akan terbebas dari masalah.
Selain perawatan yang punya jadwal servis rutin ada banyak komponen slow moving lain yang juga membutuhkan perhatian dan perawatan seiring bertambahnya jarak tempuh dan usia pemakaian.
Umumnya kerusakan yang terjadi tidak muncul secara mendadak. Dari banyak kasus ditemukan kalau kerusakan justru diawali gejala ringan yang diabaikan, seperti munculnya bunyi-bunyi tidak normal, getaran berlebih, atau munculnya rembesan cairan.
“Komponen slow moving memang tidak memiliki interval penggantian tetap. Tetapi umumnya memberikan tanda sebelum benar-benar rusak. Jika gejala ini ditangani lebih awal, kerusakan lanjutan bisa dicegah dan biaya perbaikan tetap terkendali,” ujar Roni Agung, Kepala Bengkel Astra Peugeot Cilandak, Jakarta Selatan.
Berbeda dengan komponen fast moving yang memiliki jadwal penggantian jelas, komponen slow moving perlu diganti berdasarkan kondisi aktual. Umur pakainya sangat dipengaruhi gaya berkendara, kondisi jalan, serta faktor usia material.
Beberapa komponen yang perlu menjadi perhatian antara lain engine mounting. Komponen ini berfungsi meredam getaran mesin agar tidak diteruskan ke kabin. Jika mulai aus, getaran mesin akan terasa lebih kuat, terutama saat idle atau perpindahan gigi.

Selain itu, komponen kaki-kaki seperti lower arm, ball joint, dan tie rod juga patut diwaspadai. Tanda awal keausan biasanya berupa bunyi saat melintasi jalan tidak rata, setir terasa kurang presisi, hingga keausan ban yang tidak merata.
Wheel bearing juga termasuk komponen yang kerap luput dari perhatian. Kerusakan biasanya ditandai bunyi dengung yang meningkat seiring kecepatan kendaraan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas dan kenyamanan berkendara.
Pada kendaraan berpenggerak roda depan, drive shaft menjadi komponen penting lainnya. Bunyi “tek-tek” saat berbelok atau getaran ketika akselerasi bisa menjadi indikasi awal keausan. Kondisi boot pelindung drive shaft juga harus dipastikan tidak sobek agar pelumasan tetap optimal.
Roni juga menyoroti kondisi slang (hose) kendaraan yang sering terabaikan, padahal bekerja dalam tekanan dan suhu tinggi. Slang radiator misalnya, dapat mengeras, menggembung, atau retak seiring usia pemakaian.
Di beberapa mobil khususnya buatan Eropa, tidak semua bagian dari saluran radiator berupa karet, ada juga yang berupa plastik kaku seperti di beberapa model terbaru Peugeot. Jika sampai bocor atau pecah, risiko overheat dapat terjadi secara tiba-tiba.

“Slang atau pipa radiator yang sudah menunjukkan tanda penuaan sebaiknya diganti sebelum bocor. Tindakan preventif jauh lebih aman dibanding menunggu hingga terjadi kerusakan,” kata Roni.
Hal serupa berlaku pada slang sistem AC maupun power steering hidrolik. Kebocoran dapat menyebabkan performa pendinginan menurun atau setir terasa lebih berat.
Astra Peugeot menegaskan pentingnya pemeriksaan berkala di bengkel resmi untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini. Pendekatan preventif dinilai lebih efektif menjaga performa kendaraan sekaligus menghindari biaya perbaikan yang lebih besar di kemudian hari.
Dengan mengenali tanda-tanda awal keausan komponen-komponen slow moving, pemilik kendaraan dapat memastikan mobil tetap dalam kondisi prima serta aman digunakan dalam berbagai kondisi perjalanan.
Teks & Foto : Nugroho Sakri Yunarto




Komentar