Studi 4×4 dalam Polemik Impor Pickup India: Apakah Relevan untuk Mendukung Operasional Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih?
- Editor

- 3 menit yang lalu
- 4 menit membaca
Melihat polemik rencana impor pickup 4×4 dari India dari hasil studi akademis: seberapa besar kebutuhan riil kendaraan dengan sistem penggerak 4 roda di lapangan.

OTOPLUS ONLINE I Polemik rencana impor kendaraan pickup 4×4 dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
memunculkan dua narasi besar yang saling berhadapan.
Dalam polemik ini, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota menjelaskan alasan pemesanan pickup 4×4 dari India.
“Pertimbangan pertama adalah bahwa kami memesan mobil 4×4 yang memang tidak diproduksi di Indonesia. Selama ini, 4×4 merek apa pun itu kan full impor,” ujar Joao Angelo De Sousa Mota dikutip dari Koran BUMN (21/2).
Selain faktor ketersediaan, harga juga menjadi pertimbangan. Joao mengakui perseroan memperoleh penawaran dari India dengan harga jauh lebih rendah dibandingkan model di pasar domestik. Skema perdagangan bebas melalui Asean–India Free Trade Area (AIFTA) turut menjadi payung dalam transaksi tersebut.
“Kami memesan dengan harga yang sangat kompetitif atau hampir 50% lebih murah dari kompetitornya. Dari sisi durability, power, dan fuel consumption, kendaraan ini sangat andal dan sangat bagus,” tuturnya.
Di satu sisi, kebutuhan kendaraan tangguh untuk medan berat dianggap mendesak. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa impor justru melemahkan industri otomotif nasional yang selama ini mampu memproduksi kendaraan niaga sendiri.
Hal ini disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang menyatakan bahwa produksi mobil dalam negeri juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Misalnya, pengadaan 70.000 unit truk pickup 4x2, yang diisi dengan produk buatan dalam negeri, dapat memiliki dampak ekonomi (keterkaitan ke belakang) sekitar Rp 27 triliun.
“Jika truk pickup diimpor, nilai tambah ekonomi dan penciptaan lapangan kerja akan dinikmati oleh industri asing. Namun, jika dipenuhi oleh industri dalam negeri, manfaat ekonomi dan penciptaan lapangan kerja akan dirasakan di dalam negeri,” kata Agus dikutip dari situs resmi Gaikindo (21/2).
Dua narasi besar yang saling berhadapan ini memunculkan pertanyaan mendasar yang relevan: apakah 4×4 selalu menjadi solusi paling rasional, atau justru berpotensi membebani biaya operasional sekaligus menggerus kepentingan industri dalam negeri?
Untuk menjawabnya secara objektif, rujukan akademis dan analisis teknis menjadi penting - bukan sekadar klaim operasional.
Keunggulan Teknis 4×4: Fakta yang Tidak Terbantahkan

Secara teknis, sistem penggerak empat roda (four-wheel drive/4WD) memang dirancang untuk meningkatkan traksi. Distribusi tenaga ke keempat roda membuat kendaraan lebih stabil saat melintasi jalan berlumpur, berbatu, tanjakan curam, atau permukaan rusak.
Dalam konteks geografis Indonesia dengan wilayah rural, perbukitan, dan area proyek yang infrastrukturnya belum merata, kehadiran 4×4 memang relevan. Pada medan ekstrem, keunggulan ini bersifat fungsional, bahkan krusial. Namun, keunggulan teknis tersebut tidak berdiri sendiri. Ada konsekuensi yang menyertainya.
Kajian Akademis: 4×4 Lebih Boros dan Kompleks
Untuk meng-counter klaim bahwa 4×4 adalah solusi ideal dalam segala situasi, kajian akademis memberikan perspektif yang lebih seimbang.
Dalam artikel berjudul “Apakah Mobil 4x4 Lebih Boros?” yang dipublikasikan oleh Universitas Wira Buana, dijelaskan bahwa kendaraan 4×4 pada umumnya memiliki konsumsi bahan bakar lebih tinggi dibandingkan kendaraan 2WD (two-wheel drive).
Kajian ini menguraikan sejumlah konsekuensi teknis pada sistem 4×4, antara lain komponen tambahan seperti transfer case dan diferensial ekstra, bobot kendaraan yang lebih berat, serta gesekan mekanis dan kompleksitas sistem yang lebih tinggi. Kombinasi faktor tersebut membuat kebutuhan energi meningkat, sehingga konsumsi bahan bakar dan biaya perawatan cenderung lebih besar.
Temuan ini menegaskan bahwa 4×4 memang unggul dalam traksi, tetapi tidak selalu efisien secara operasional—terutama bila digunakan di medan yang sebenarnya tidak membutuhkan penggerak empat roda.
Menguji Klaim Kebutuhan: Riil atau Generalisasi?

Jika kebutuhan kendaraan 4×4 dianggap menyeluruh untuk seluruh operasional, pertanyaan kritisnya adalah: apakah semua wilayah benar-benar memerlukan sistem penggerak empat roda penuh?
Di sektor perkebunan, misalnya, banyak jalur logistik utama yang sudah diperkeras. Dalam kondisi seperti ini, kendaraan 2WD sebenarnya sudah memadai. Penggunaan 4×4 secara massal justru berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar dan perawatan tanpa manfaat tambahan yang signifikan.
Dengan kata lain, 4×4 tepat untuk medan ekstrem, namun tidak otomatis rasional untuk seluruh kebutuhan logistik.
Dimensi Industri Nasional yang Dipertaruhkan
Polemik ini tidak berhenti pada aspek teknis. Ada dimensi strategis industri nasional yang ikut dipertaruhkan.
Indonesia telah lama menjadi basis produksi kendaraan pickup untuk pasar domestik dan ekspor, dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang signifikan. Model seperti Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton diproduksi secara lokal dan menjadi bagian dari ekosistem manufaktur nasional.
Jika impor pickup 4×4 dari India dilakukan dalam skala besar, dampaknya berpotensi mencakup tekanan terhadap produksi lokal, penurunan utilisasi pabrik, serta gangguan terhadap rantai pasok komponen dalam negeri. Padahal, pemerintah selama ini mendorong hilirisasi dan penguatan industri otomotif sebagai bagian dari strategi industrialisasi nasional.
Antara Rasionalitas Teknis dan Kebijakan Strategis
Kajian dari Universitas Wira Buana memperjelas satu hal penting: 4×4 memang unggul di medan berat, tetapi memiliki konsekuensi biaya dan efisiensi. Karena itu, polemik impor pickup 4×4 dari India seharusnya tidak disederhanakan menjadi sekadar “butuh atau tidak butuh”.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah seberapa besar kebutuhan riil 4×4 di lapangan, apakah kebutuhan tersebut bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri, serta bagaimana dampaknya terhadap industri otomotif nasional dalam jangka panjang. Diskursus publik perlu bergeser dari perdebatan politis menuju perhitungan berbasis data dan kajian akademis.
Catatan Redaksi
Kendaraan tangguh memang penting untuk wilayah berat. Namun kebijakan yang tangguh adalah kebijakan yang selektif, berbasis data, dan berpihak pada kepentingan nasional. Tanpa pendekatan itu, impor berisiko berubah dari solusi logistik menjadi preseden yang merugikan industri sendiri.
Teks: Indramawan
Foto: Mahindra Indonesia, Suzuki Indonesia




Komentar