Profesi Ojek Gabah di Sidrap Kembali Viral! Skill ala Pembalap Profesional, Mampu Angkut 100 Kg Lebih Gabah!
- Editor

- 13 menit yang lalu
- 3 menit membaca
Profesi ojek gabah di Sidrap, Sulawesi Selatan mendadak jadi sorotan media Singapura.

OTOPLUS-ONLINE I Jika masyarakat perkotaan akrab dengan ojek online (ojol), petani di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, telah lama mengenal ojek gabah.
Profesi inilah yang belakangan ramai menjadi sorotan, termasuk media digital berbasis di Singapura, TheSmartLocal Indonesia.

Dalam akun Instagram resminya, mereka mengangkat aksi ojek gabah ini dalam mengangkut gabah melintasi pematang sawah dengan keterampilan ala pembalap profesional.



Dalam unggahan video Reels, TheSmartLocal menampilkan sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk mengangkut hasil panen dari tengah sawah menuju titik pengumpulan. Kendaraan itu mampu melintasi jalur sempit dan berlumpur yang sulit dijangkau kendaraan roda empat sambil membawa muatan gabah dalam jumlah besar hingga 100 kg.
Hasil penelusuran digital Otoplus-Online menemukan, aktivitas tersebut bukan sekadar fenomena viral. Di Sidrap, profesi ini telah lama menjadi bagian dari sistem distribusi hasil panen, dan motor yang digunakan lebih dikenal masyarakat setempat sebagai "motor tassi."

Istilah 'motor tassi' ini merujuk pada istilah motor taksi sebagaimana dilaporkan media ujungjari.com lewat artikel berjudul "Pesta Panen Petani Sidrap, Syahar ikut Balapan Motor āTaxiā Gabah yang ditulis pada 07 September 2019.
Dalam artikel yang ditulis oleh Darwin BKM (Tim Redaksi), tersebut disebutkan bahwa balap motor taxi gabah menjadi bagian dari pesta panen di Desa Aka-Akae, Kecamatan Watang Sidenreng.
Tradisi serupa kembali diberitakan Tabloid Sinar Tani pada 2023 melalui artikel berjudul: Balapan Ojek Gabah Meriahkan Pesta Panen di Sidrap yang ditulis pada 22 November 2023.

Temuan ini diperkuat penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Penyuluhan IPB University berjudul "Photovoice sebagai Metode Participatory Extension Approaches dalam Mengungkapkan
Pandangan Pemuda terhadap Pekerjaan Pertanian" yang telah dipublikasikan secara online pada 30 November 2020.
Kajian tersebut menjelaskan motor tassi merupakan sepeda motor yang dimodifikasi khusus untuk mengangkut gabah melewati areal persawahan yang berkelok, berlumpur, hingga menanjak. Kehadirannya menjadi solusi transportasi khas masyarakat petani Bugis untuk memindahkan hasil panen menuju lokasi penjemputan.
Penelitian yang sama juga mengungkap bahwa masyarakat Bugis di Sidrap menyebut para pengemudi motor tassi sebagai pattassi. Istilah inilah yang digunakan dalam kajian akademik untuk menyebut profesi pengangkut gabah menggunakan motor tassi.
Namun, agar lebih mudah dipahami pembaca secara nasional, Otoplus-Online menggunakan istilah "ojek gabah" dalam artikel ini.
Kajian tersebut menyebut pattassi sebagai profesi musiman yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Mereka bekerja secara berkelompok dengan tarif yang disesuaikan jarak tempuh dan jumlah gabah. Dalam kondisi medan yang lebih berat, seperti saat musim hujan, ongkos angkut dapat meningkat. Penelitian itu juga mencatat satu unit motor tassi mampu mengangkut satu karung gabah berbobot sekitar 100 hingga 120 kilogram.
Rangkaian fakta tersebut menunjukkan bahwa ojek gabah bukan sekadar atraksi ataupun tren media sosial, melainkan bagian dari budaya pertanian masyarakat Sidrap yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Apa yang kini menarik perhatian media regional sesungguhnya merupakan solusi sederhana yang lahir dari kebutuhan petani dalam mengatasi medan persawahan yang sulit dijangkau kendaraan biasa.
Di balik aksi yang tampak ekstrem, tersimpan sebuah profesi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Bugis. Bagi warga Sidrap, para pattassi bukan sekadar pengendara motor, melainkan penghubung penting antara sawah dan rantai distribusi hasil panen.
Dan kini, budaya lokal tersebut mulai dikenal lebih luas hingga ke pembaca di kawasan Asia Tenggara.
Teks: Indramawan




Komentar