• Editor

Uji Performa All New Nissan Magnite, Compact SUV 1.000 cc Turbo Surabaya-Jakarta PP

Kami menempuh jarak 1.671,2 Km, menghabiskan 119,72 liter Pertamax, dan biaya tol Rp 1.332.000 untuk menjawab segala pertanyaan terkait compact SUV 1.000 cc turbo, khususnya All New Nissan Magnite.
  • Kami mengetesnya Surabaya-Jakarta PP menyusuri tol Trans Jawa

OTOPLUS-ONLINE I Compact SUV lansiran Nissan ini diluncurkan 21 Desember 2020. Inilah model perdana yang diluncurkan di Indonesia dalam rencana transformasi Nissan NEXT.


Dibangun menggunakan platform CMF-A dan mesin 999 cc turbo terbaru yang dikembangkan aliansi Renault-Nissan, klaimnya All New Magnite akan menawarkan pengalaman berkendara yang bertenaga, menyenangkan dan irit BBM. Kita buktikan yuk!


Desain Futuristik

Pertama soal desain. Secara keseluruhan All New Nissan Magnite yang berkompetisi dengan Toyota Raize, Daihatsu Rocky, KIA Sonet dan Renault Kiger ini terlihat sebagai SUV futuristik yang tangguh.

  • Tampak depan kental aura Datsun lantaran sejatinya compact SUV ini memang Datsun Cross

Kesan futuristik diwakili oleh headlamp super sipit dan Daytime Running Light berbentuk huruf L yang seluruhnya sudah mengandalkan LED sebagai sumber pencahayaannya.

  • Pelek 16 inci dengan ban berukuran 195/60R16

Sementara kesan tangguh terlihat dari desain bodi samping yang menggembung khususnya di area sepatbor dan ground clearance yang menyentuh ketinggian 186 mm.

  • Roof rail bukan sekadar hiasan

Beberapa aksen di bodi selain efektif menambah aura tangguh sekaligus meningkatkan aspek fungsional seperti roof rail yang dapat dipakai sebagai dudukan roof bar jadi bukan sekadar hiasan, overfender tebal dan cover rocker panel serta under body moulding yang melindungi permukaan bodi dari lontaran kerikil ketika melaju di jalanan jelek atau non aspal.

  • Dimensi lebar 1.758 mm, lebih lebar dari duet Toyota Raize dan Daihatsu Rocky

Bahkan upper rear spoiler tak hanya membuatnya makin sporty namun saat hujan ternyata efektif mengarahkan percikan bintik air yang terseret angin dari kolong yang mengarah ke kaca belakang sehingga kaca belakang tidak lekas kotor.

  • Model pertama yang sudah mengadopsi logo terbaru Nissan

Interior Magnite terkesan lebih Renault khususnya di area dasbor. Seperti layout instrument meter, infotainment display, tombol-tombol AC, konsol tengah, tombol Start/Stop sampai lingkar kemudi yang ada kesamaan dengan milik Renault Triber.

  • Kedua varian mengadoopsi Smart Keyless dan Push Start Button

  • Layar TFT 7 inci dengan advanced drive assist display

  • Varian Premium sudah dibekali rear vent AC

Di varian Premium, lapisan joknya menggunakan kombinasi bahan kain berpola dengan kulit sintetis. Material kain juga digunakan pada arm rest baik di konsol tengah maupun di pintu. Selain terlihat pantas juga cukup nyaman diandalkan sebagai sandaran tangan.

  • Centre arm rest menjadi kelengkapan varian Premium


Kehadiran arm rest tengah di jok belakang jadi kelebihan Magnite dibandingkan pesaing di kelasnya yang rata-rata belum dibekali. Kekurangannya sandaran jok belakang fix dan sabuk pengaman untuk penumpang tengah masih pakai model 2 titik.


Varian

  • Unit tes yang kami gunakan All New Nissan Magnite Premium 1.0L Turbo CVT one tone berwarna Onyx Black


Ada dua pilihan varian All New Nissan Magnite, Upper 1.0L Turbo dan Premium 1.0L Turbo. Keduanya ditawarkan dengan dua pilihan transmisi, manual 5 percepatan dan CVT.


Khusus varian Premium disodorkan dalam dua pilihan warna bodi, one tone atau twol tone. Selisih harga antara varian one tone dan two tone sebesar Rp 2 juta.

  • Pemakaian dalam kota cukup menyenangkan


Unit tes yang kami pinjam dari Indomobil Nissan Ahmad Yani Surabaya ini adalah varian Premium 1.0L Turbo CVT one tone berwarna Onyx Black. Berikut daftar harga OTR Surabaya All New Nissan Magnite:

  • Upper M/T: Rp 228.800.000

  • Upper CVT: Rp 244.300.000

  • Premium M/T one tone: Rp 246.300.000

  • Premium CVT one tone: Rp 258.800.000

  • Premium M/T two tone: Rp 248.300.000

  • Premium CVT two tone: Rp 260.800.000


Fitur Berlimpah

  • Selain fitur kenyamanan, juga dilengkapi berbagai fitur keselamatan

Kedua varian Magnite sudah dilengkapi dengan fitur-fitur yang intuitif dan berorientasi kepada pengguna. Seperti panel instrument TFT 7 inci yang akan memberi sambutan animasi selamat datang, dan menampilkan informasi drive assist lengkap selain spidometer, odometer, takometer, suhu mesin, volume BBM, tripmeter, indikator posisi gigi atau jam yang dimiliki mobil kebanyakan.

  • Menu informasi bantu pengemudi yang ditampilkan lengkap. Ada konsumsi bahan bakar rata-rata, konsumsi bahan bakar real time, lama kita berkendara juga fuel history

Informasi lebih yang disodorkan seperti konsumsi bahan bakar rata-rata, konsumsi bahan bakar real time, lama kita berkendara juga fuel history.

  • Infotainment display 8 inci yang dapat terkoneksi ke smartphone

Sementara infotainment system-nya memiliki layar sentuh 8 inci dan dapat terkoneksi secara nirkabel menggunakan Apple Carplay atau Android Auto.

  • Sistem audio dapat dikontrol lewat steering switch button

  • Ada spiker di plafon untuk berkomunikasi secara handsfree

Layar ini sekaligus berfungsi sebagai tampilan Around View Monitor 360 derajat. Informasi dan sistem pada kedua layar tersebut dapat dikendalikan melalui steering switch control yang ada di lingkar kemudi.

  • Around View Monitor 360 derajat

Fitur-fitur lain yang menjadi standar di Magnite yaitu Hill Start Assist (HSA) dan tentunya fitur pelengkap keselamatan seperti airbag, Anti-lock Braking System (ABS), Electronic Brake Distribution (EBD), Vehicle Dynamic Control (VDC) dan Traction Control System (TCS).

  • Kontrol AC masih mengandalkan tombol mekanikal tidak seluruhnya diatur melalui layar infotainment display.

  • Sementara konsol di tengah bergambar kunci ini digunakan apabila baterai anak kuncinya mulai soak, cukup dekatkan anak kunci ke logo dan mobil ini akan tetap dapat dihidupkan

  • Tire Pressure Monitoring System (TPMS) memastikan tekanan udara dalam ban sesuai rekomendasi

Khusus untuk varian Premium masih ada lagi fitur-fitur lain, yaitu rear AC vent, konsol tengah dengan arm rest, cruise control dan Tire Pressure Monitoring System (TPMS).


Impresi Berkendara

  • Kami coba jawab pertanyaan seputar, bagaimana naikan compact SUV bermesin kecil dipakai keluar kota seobyektif mungkin melalui test drive Surabaya-Jakarta dengan All New Nissan Magnite ini

Ada pertanyaan yang masuk ke meja redaksi yang menanyakan bagaimana rasanya kalau compact SUV bermesin kecil dipakai keluar kota? Apakah mesinnya aman dikebut jarak jauh, apakah pengendaliannya mumpuni? Apakah posisi berkendaranya nyaman untuk perjalanan jauh? Dan masih banyak 'apakah' lainnya.


Baca juga: Nissan Magnite Pesaing Toyota Raize dan Daihatsu Rocky Dipasarkan Mulai Rp228,8 Juta


Untuk menjawab semua pertanyaan itu, OTOPLUS-ONLINE memutuskan untuk mengetes habis-habisan All New Nissan Magnite mewakili mobil kategori compact SUV yang sekarang lagi booming.

  • Menjelajah Tol Trans Jawa dengan rute Surabaya-Jakarta pergi-pulang

Rutenya kami langsung memilih untuk menjelajah Tol Trans Jawa dengan rute Surabaya-Jakarta pergi-pulang. Pertimbangannya di rute jarak panjang tersebut akan menjawab sebagian besar dari pertanyaan di atas.


Total pengetesan ini menempuh jarak 1.671,2 kilometer dengan total lama waktu berjalan 24 jam 12 menit dan menghabiskan 119,74 liter Pertamax (Rp 1.077.660) serta biaya tol Rp 1.332.000; Rp Rp 331.000 (Surabaya-Semarang) dan Rp 335.000 (Semarang-Jakarta) PP.


Baca juga: Test Drive Nissan Kicks e-Power, Mobil Listrik yang Katanya Nggak Perlu Dicas


OTOPLUS-ONLINE menjamin obyektivitas pengetesan ini. Kami tidak di-endorse Pertamina, Jasa Marga atau Nissan Indonesia. Semua biaya dikeluarkan seutuhnya dari OTOPLUS-ONLINE. Unit tes All New Nissan Magnite disediakan oleh Indomobil Nissan Ahmad Yani Surabaya.

  • Rekor pengetesan paling mahal yang pernah OTOPLUS-ONLINE lakukan!

Berikut impresi kami setelah berkelanan sejauh 1.600 km lebih bersana All New Nissan Magnite:


Posisi Mengemudi

  • Posisi mengemudi cukup ergonomis, sayang setirnya belum dilengkapi setelah maju mundur

Desain kaca depan Magnite menyuguhkan sudut penglihatan ke depan hingga 36,1 derajat. Angka ini diklaim yang terbaik diantara para rivalnya sehingga memberikan visibilitas yang memunginkan pengemudi memantau sudut terluar dari mobil dengan baik sehingga memberikan kepercayaan diri yang lebih.

  • Setelan joknya sanggup mengakomodir pengemudi bertubuh jangkung seperti OTOPLUS-ONLINE

Desain jok terasa suportif dengan keberadaan sayap jok yang efektif menjaga tubuh tidak bergeser saat menikung. Material busanya cukup empuk dengan kain pelapis yang memungkinkan udara bersirkulasi bebas sehingga area punggung khususnya tidak lekas gerah pada perjalanan jauh.


Komplain kami hanya pada posisi head rest yang sedikit terlalu maju. Seandainya lebih mundur 2-3 cm saja akan lebih nyaman.


Baca juga: Komparasi SUV Ladder Frame Diesel Seken Di Bawah Rp 300 Jutaan


Diameter lingkar kemudi terasa pas. Apalagi di varian Premium setirnya dibalut kulit sintetis yang terasa mantap digenggam, kekurangannya kolom kemudi kami rasa terlalu dekat dengan dasbor dan belum dilengkapi dengan fitur teleskopik (maju-mundur) hanya tilt (naik-turun).

  • Setir enak digenggam kekurangannya agak kejauhan ketika jok dimundurkan untuk menyesuaikan panjang kaki

Buat OTOPLUS-ONLINE yang berpostur 180 cm, ketika jok dimundurkan menyesuaikan panjang kaki, setir terasa sedikit kejauhan meski tidak separah peletakan setir di Toyota Avanza.


Untuk setelan naik-turun kemudi (tilt) sentuhan Datsun terasa kental. Pasalnya bila diposisikan paling tinggi setir terasa menjulang, jadi berasa mengemudikan Datsun Go.

  • Jok belakang masih nyaman diduduki orang dewasa dengan ruang kaki,bahu dan kepala yang memadai

Coba duduk di bangku belakang, wah ruang kaki rupanya masih cukup lega meski bangku depan dimundurkan maksimal. Material busa jok terasa sedikit lebih kaku tapi masih dalam kategori empuk.


Posisi headrest juga pas menopang kepala terlebih di bangku belakang juga disediakan arm rest yang dapat dilipat di bagian tengah.


Baca juga: Renault Kiger dan Nissan Magnite Sambut Tahun 2021 Sebagai Tahun Compact SUV


Sehingga kalau bepergian jauh dengan keluarga pun rasanya mobil ini masih cukup memadai. Lantaran cukup nyaman, kami pun bahkan sempat tertidur di bangku belakang ini.


Kabin Hening

  • Hembusan angin yang menyusup masuk ke celah pintu saat melaju kencang minim sehingga tak mengganggu keasyikan mengemudi

Keheningan kabin jadi keraguan kami saat memutuskan untuk membawanya melintas tol Trans Jawa. Lantaran umumnya mobil di kelas ini, peredaman kabin biasanya tidak terlalu kedap. Kenyataannya, kabin All New Nissan Magnite ini hening.


Saat melaju konstan, transmisi CVT menjaga putaran mesin serendah mungkin. Di kecepatan 100 km/jam putaran mesin manteng di 2.000 rpm. Kami coba ngebut pada kecepatan 130 km/jam putaran mesin hanya 3.000 rpm.


Baca juga: Jajal Nissan Livina VL


Hebatnya sistem insulasinya tergolong baik. Itu membuat suara mesin dan hembusan angin yang menyusup masuk ke celah pintu saat melaju kencang minim sehingga tak mengganggu keasyikan mengemudi.


Ketika kami amati karet pintunya ternyata tidak seperti kebanyakan mobil yang hanya menggunakan material karet tapi karet berbeludru. Seharusnya ini bisa ditiru produsen lain untuk membuat produknya lebih kedap.

  • Kemampuan pencahayaan lampu LED-nya sangat memadai

Dengan kabin yang hening, pada perjalanan jauh seperti Surabaya-Jakarta ini penumpang bisa lebih enjoy menikmati alunan lagu kesukaan apalagi head unitnya dapat terkoneksi dengan smartphone lewat Apple Carplay atau Android Auto.


Performa Mesin

  • Mesin 3 silinder turbo berkapasitas 999 cc ini ternyata handal dan menyenangkan dipakai perjalanan sejauh 1.600 kilometer lebih

All New Nissan Magnite dibekali mesin turbo 3 silinder 999 cc berkode HRAO. Meski berkapasitas kecil namun tenaga 100 ps atau 98,6 dk yang dihasilkan mampu mengimbangi mesin 1.400-1.500 cc yang rata-rata berkisar 100-104 dk.

  • Mesinnya tak kesulitan mencapai kecepatan ini. Sementara kecepatan tertinggi yang kami raih yaitu 155 km/jam, sebagai catatan mulai 150 km/jam kecepatan terasa lembat bergerak naik

Kami coba membuntuti Honda Freed yang melaju konstan 125-135 km/jam hingga sejauh 150 km lebih sejak Sragen hingga mendekati Jombang dan Magnite ini asyik-asyik saja.


Sebagai informasi, Honda Freed memiliki tenaga 116 dk dengan top speed sekitar 150 km/jam.


Kelebihan mesin yang menggunakan teknologi mirror bore cylinder coating ini adalah memiliki torsi cukup besar yakni 152 Nm di rentang 2.200-4.400 rpm.


Angka torsi ini bahkan melebih besaran torsi LSUV atau LMPV 1.500 cc yang berkisar 140-145 Nm yang kebanyakan diraih pada putaran di atas 4.000 rpm.


Hasilnya, mesin Magnite akan terasa bertenaga ketika melaju konstan pada rentang 2.200-4.400 rpm saat torsi maksimalnya digapai.

  • Getaran dari mesin 3 silinder bisa dirasakan ketika gigi dalam posisi D dan kondisi tidak berjalan. Sehingga sebaiknya langsung netralkan gigi jika sedang berhenti sejenak.

Meski jangan harap responnya akan seketika, penambahan kecepatan berasa lebih gradual ketimbang menghentak imbas penggunaan transmisi tipe CVT yang tidak dilengkapi dengan opsi manual. Pada kolom transmisi hanya ada pilihan D (Drive) dan L (Low).


Sekilas mengenai teknologi mirror bore cylinder coating merupakan teknologi dinding silinder yang menggantikan boring setebal 2 mm dengan lapisan coating berketebalan 0,2 mm yang super licin untuk dapat mengurangi resistensi di dalam mesin, mengurangi bobot, mengoptimalkan manajemen panas dan pembakaran, sampai menghasilkan akselerasi lebih halus dan konsumsi bahan bakar yang makin efisien Teknologi ini diadopsi dari Nissan GT-R.


Cruise Control

  • Cruise control sangat berguna di rute lengang seperti ini

Fitur ini yang menjadi salah satu pertimbangan kami bersemangat mengetesnya di jalur tol yang panjang. Meski belum tipe adaptif tapi kehadiran fitur cruise control sangat menolong pada perjalanan panjang seperti saat melintas di tol Trans Jawa.


Cruise control efektif digunakan pada ruas-ruas yang relatif lengang seperti ruas Mojokerto-Kertosono, Kertosono-Ngawi, Solo-Boyolali, Semarang-Pemalang, Pemalang-Penjagan dan Penjagan-Kanci.


Di luar ruas itu, kondisi lalu lintas kurang memungkinkan lantaran mulai ramai usai diturunkannya level PPKM di masa pandemic Covid-19 belum lama ini. Adanya cruise control secara signifikan mengurangi kelelahan mengemudi.

  • Mengaktifkan cruise control dilakukan lewat tombol paling kanan di setir

Cruise control dapat diaktifkan pada kecepatan di atas 40 km/jam. Untuk mengaktifkannya tekan dulu tombol yang ada di sisi kanan dasbor. Lalu tekan tombol yang paling kanan di kemudi (Res -) selanjutnya sesuaikan seberapa cepat kalian ingin melaju konstan dengan menekan tombol Res +.


Sementara untuk menonaktifkannya tinggal menekan pedal rem atau tombol bertuliskan cancel di kemudi. Oh ya, mengenai pedal rem, ukurannya tidak seperti kebanyakan mobil bertransmisi otomatis yang lebar. Entah karena belum diproduksi atau sepertinya Nissan asal comot dari versi bertransmisi manualnya.


Keuntungan lain dengan penggunaan cruise control yaitu akan mengurangi risiko kaki menginjaknya secara brutal sehingga membuat konsumsi BBM jadi boros. Dengan melaju pada kecepatan konstan, konsumsi BBM akan lebih efisien.


Karakter Suspensi dan Pengendalian

  • Hujan deras di ruas Ambarawa-Solo menyempurnakan pengetesan kami

Mengawal pengendaliannya, compact SUV ini dilengkapi dengan fitur Vehicle Dynamic Control (VDC) dan Traction Control System (TCS). Meski begitu tetap harus berhati-hati lantaran ground clearance-nya tergolong tinggi (186 mm) dipadu ban yang tidak terlalu lebar, berukuran 195/60-16.


Untuk rute tol yang dominan lurus dengan permukaan jalan halus urusan pengendalian tidak ada komplain. Karakter sesungguhnya baru ketahuan ketika kami mencoba melibas tikungan bersudut 70 derajat di persimpangan tol Semarang menuju Kendal dengan kecepatan 85 km/jam, body rollnya sangat terasa!


Begitu juga ketika kami mencobanya di tikungan melingkar dengan putaran sekitar 270 derajat masuk Semarang menuju Jatingaleh. Untungnya mobil baru yang dibekali VDC dan TCS yang ikut mengintervensi sistem rem dan komputer mesin untuk menjaga lajunya tetap controllable.


Fitur TCS ini terasa manfaatnya saat melintas di jalanan licin yang basah oleh hujan seperti pada perjalanan pulang di ruas Ambarawa-Solo. Tanpa khawatir kami pindah jalur, melewati jalan menikung dengan kecepatan 90-100 km/jam.

  • Suspensi depan model McPherson Strut

Redaman suspensi terasa moderat. Tidak keras, tidak pula empuk. Sistem suspensinya termasuk mainstream, depan mengandalkan McPherson Strut, dan belakang Torsion Beam. Simpel dan ringkas. Di tol dengan permukaan jalan yang cenderung mulus okelah.

  • Suspensi belakang model Torsion Beam dengan coil spring

Namun di dalam kota seperti ketika kami blusukan sampai ke daerah Karang Tengah,Tangerang yang beberapa ruas jalannya mengalami kerusakan barulah terasa hentakan suspensi setelah melewati lubang jalan, seperti minus rebound-nya terutama pada suspensi belakang.


Jadi meskipun sosoknya jangkung jangan asal hajar saja bila menjumpai jalanan bergelombang karena hentakan baliknya bakal menyiksa penumpang yang duduk di belakang. Itu yang menjadi catatan kami pada sektor suspensi.


Satu hal yang bikin kami khawatir adalah ketika melirik diameter remnya. Baik diameter cakram di depan atau teromol di belakang. Kecil banget meski performa pengeremannya baik.


Letak Tombol Pengunci

  • Seperti kebanyakan mobil Eropa yang menganut penempatan tombol pengunci di sisi tengah dasbor

Nah fitur yang jamak tapi unik penempatannya adalah tombol pengunci pintu. Kalau biasanya diletakkan tak jauh dari tuas pembuka pintu atau bersebelahan dengan tombol power window di Magnite diposisikan di tengah dasbor.


OTOPLUS-ONLINE jadi teringat Renault Scenic, mobil harian yang pernah menemani keseharian saya 9 tahun lebih yang juga punya peletakan tombol door lock di tengah dasbor.


Alasannya, ketika kita bepergian berdua, saat penumpang di sisi kira akan keluar dia tidak perlu meminta pengemudi untuk membukakan kuncinya karena bisa dijangkau sendiri lantaran letaknya di tengah dasbor.


Enggak heran kalau Nissan mengadopsi penempatan itu lantaran mobil ini sebangun dengan Renault Kiger.


Konsumsi BBM

  • Dari Surabaya kami hanya mengisi BBM sekali setelah melaju sejauh 536 Km

Total jarak tempuh yang kami kumpulkan adalah 1.671,2 kilometer dan menghabiskan 119,74 liter Pertamax. Sehingga bila dikalkulasi, konsumsi BBM rata-ratanya 13,95 km/liter.

  • Melaju dengan kecepatan konstan 120 Km/jam, konsumsi BBMnya 13,4 Km/liter

Kebanyakan kami memacunya dengan kecepatan 120-130 km/jam. Sebagai informasi, kapasitas tangki BBM Magnite adalah 40 liter. Nah kekurangannya indikator bar pada fuel meter ternyata tidak semuanya menghilang ketika BBM menipis.

  • Sisa satu bar, indikator bar ternyata tidak akan hilang. Hati-hati!

Umumnya, ketika tersisa satu bar tak lama kemudian indikator empty fuel akan menyala, fuel range juga akan menampilkan sisa jarak tempuh yang bisa diraih.


Dari pengalaman OTOPLUS-ONLINE, mobil masih bisa melaju hingga jarak maksimal 100 kilometer sejak indikator fuel empty menyala seperti saat kami mengetes Suzuki Ertiga tahun lalu.


Setelah sisa jarak tempuh mendekati habis barulah indikator bar akan menghilang, waktu itu di Suzuki Ertiga sejak bar menghilang sampai mogok, jarak yang ditempuh mencapai 30 kilometer lebih.


Mengacu pada pengalaman itu, meski was-was ketika indikator fuel empty menyala dan sisa jarak tempuh yang bisa diraih menunjukkan angka 70 kilometer kami pun pede aja.

  • Akibat terlalu mengacu pada indikator bar, kami pun kehabisan bensin

Saat sisa tempuh menghilang kami mulai ragu lantaran indikator bar di fuel meter tak kunjung menghilang dan benar saja akhirnya compact SUV ini mogok kehabisan bensin di ruas tol Mojokertp-Surabaya km 718 atau 7 kilometer sebelum mencapai SPBU di rest area km 725 arah Surabaya.

  • Fuel history dapat digunakan memantau konsumsi BBM secara detail

Jadi ini bisa menjadi peringatan untuk tidak mengacu pada indikator bar, saat indikator fuel empty menyala, maka itulah waktu untuk menambahkan lagi BBM ke tangki.


Teks dan Foto: Nugroho Sakri Yunarto